1. Home
  2. »
  3. Berita
  4. »
  5. Menjelang Ramadan dan Idul Fitri 2025, Pasokan dan Harga Pangan…

Sawit Memainkan Peran Utama Menuju Indonesia Emas 2045

Rachmad

Nusa Dua, Agrina-online.com. Sawit berkontribusi secara signifikan terhadap ketahanan pangan global, energi terbarukan, dan kebutuhan sehari-hari miliaran orang.

“Sawit juga mendorong pembangunan pedesaan Indonesia, menciptakan lapangan kerja ramah lingkungan, dan berfungsi sebagai tulang punggung bagi industri hilir, seperti, biofuel, oleokimia, dan sektor green manufacturing,” ujar Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy pada pembukaan IPOC 2025, Kamis (13/11).

Indonesia Emas 2045 mengusung visi yang jelas, yaitu menjadi negara berpendapatan tinggi, menghapus kemiskinan, memperkuat kepemimpinan global, dan mencapai net-zero emissions pada 2060 atau lebih cepat.

Dalam visi 2045, ujar Rachmat, “Sawit memainkan peran utama, bukan hanya sebagai sumber kekuatan ekonomi tetapi juga sebagai model transformasi berkelanjutan.” Lebih lanjut, Guru Besar IPB University itu mengatakan, peta jalan sawit masa depan harus menempatkan keberlanjutan, keadilan, dan diplomasi sebagai pilar utama.

Indonesia telah membuktikan komitmennya melalui kemenangan di WTO dalam sengketa diskriminasi sawit, penguatan sertifikasi Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO), reforma regulasi, serta gemodernisasi dan pemberdayaan petani kecil agar mampu bersaing dalam rantai pasok global.

“Hal ini menegasan kembali bahwa kebijakan biofuel dan energi terbarukan Indonesia sepenuhnya mematuhi aturan perdagangan internasional. Dengan demikian,  dunia harus mengakui posisi minyak sawit yang semestinya dalam agenda energi berkelanjutan global,” serunya.

Rachmat juga menegaskan bahwa sawit bukan hanya komoditas, tetapi “jembatan kemanusiaan” yang harus terkelola secara adil, berkelanjutan, dan setara dalam diplomasi global. “Sehingga pada 2045, industri ini menjadi simbol kerja sama global, bukan kontroversi,” tandasnya.

Tak ketinggalan, Rachmat menyoroti pesatnya ekspansi sawit dari 0,1 juta hektar pada 1950 kini menjadi 17 juta hektar. Ia juga engingatkan perlunya pengelolaan yang hati-hati agar tidak mengorbankan keberlanjutan lingkungan dan kebutuhan pangan.

“Memenuhi kebutuhan yang terus meningkat ini tidak hanya membutuhkan peningkatan produksi, tetapi juga pengelolaan pasokan yang lebih cerdas, pengelolaan permintaan yang wajar, dan distribusi produk yang bijaksana,” pungkasnya.

 

Windi Listianingsih

Tag:

Bagikan:

Trending

WhatsApp Image 2026-06-24 at 12.53
BRIN Galang Kolaborasi Global untuk Pertanian Rendah Emisi
pelatihan sdm sawit
Kejar Produktivitas, Pekebun Sawit Dibekali Budidaya dan ISPO
IMG-20260623-WA0031
Produktivitas Sawit Rakyat Masih Tertinggal, SDM Pekebun Jadi Kunci
Pupuk Indonesia hanya melaksanakan ekspor berdasarkan penugasan resmi pemerintah
Transformasi Tata Kelola dan Efisiensi, Pupuk Indonesia Kembali Masuk Fortune Southeast Asia 500
AEO KBI 170626
Raih Sertifikasi AEO, Kona Bay Indonesia Tegaskan Komitmen Standar Perdagangan Internasional
Scroll to Top