Jakarta, Agrina-online.com. Tren urban farming atau pertanian perkotaan kimi semakin diminati masyarakat, terutama budidaya tanaman anggur.
Berbeda dengan tanaman buah lainnya seperti lengkeng atau mangga yang membutuhkan lahan luas, anggur dinilai lebih fleksibel dan memiliki nilai ekonomis yang sangat tinggi meski ditanam di lahan terbatas.
Menurut Tosan Ajie Aspai, Ketua Asosiasi Anggur Indonesia, tanaman anggur sangat cocok untuk masyarakat perkotaan. Metode tabulapot (tanaman buah dalam pot), keterbatasan lahan bukan lagi penghalang.
“Anggur lumayan berkembang pesat. Kalau buah lengkeng atau mangga biasanya membutuhkan lahan luas, sedangkan anggur bisa atur keluasannya dengan tabulapot,” ujar pria disapa Ajie ini saat dihubungi AGRINA (9/4).
Ajie menambahkan bahwa lahan seluas 7-8 meter bisa diisi hingga 8-10 pot, bahkan bisa memanfaatkan area jemuran di atas rumah.
Keunggulan Budidaya Anggur di Indonesia
Salah satu faktor utama yang mendukung perkembangan budidaya ini adalah iklim tropis Indonesia yang memungkinkan pengaturan waktu panen.
Berbeda dengan negara empat musim yang hanya bisa berbuah saat musim panas, di Indonesia, pembuahan anggur bisa diatur sendiri oleh pemiliknya.
“Budidayanya bisa diatur. Contohnya bulan April mau lebaran, maka kita mundur 4 bulan untuk pruning (pemangkasan). Setahun bisa dua kali panen,” jelasnya.
Sisi bisnis, budidaya anggur menawarkan keuntungan yang menggiurkan. Ajie memberikan simulasi: dengan modal sekitar Rp300.000 untuk pot, bibit, dan media tanam, satu pohon tabulapot yang sudah berbuah bisa terjual minimal Rp2.500.000.
Tak hanya unit pohonnya, hasil buahnya pun memiliki pasar yang pasti. Ajie mengungkapkan pihaknya telah menjalin kerja sama (MoU) dengan perusahaan untuk mensuplai pasar seperti Lanch Market.
“Ada MOU mengisi market Rp100 miliar selama 5 tahun. Kendalanya sekarang justru produksinya yang kurang,” ungkapnya.
Bahkan, bagian lain dari tanaman ini tidak ada yang terbuang. Daun hasil pemangkasan bisa diekspor ke Jepang dan Jerman untuk dijadikan keripik dengan harga jual mencapai Rp17.000/100 gram.
Budidaya anggur memang menguntungkan, tapi memerlukan konsentrasi dan perawatan rutin.
Syarat hidup utamanya adalah media tanam yang baik, sinar matahari cukup, sirkulasi udara, dan pemupukan. Tantangan terbesarnya adalah air hujan. “Tidak boleh kena hujan, sehingga dibuatkan naungan,” katanya.
Menuju Benih Bersertifikat
Saat ini, Ajie tengah memperjuangkan legalitas bibit anggur agar memiliki sertifikat resmi. Dari sekitar 600 varietas yang dimilikinya, sudah ada 11 varian yang didaftarkan untuk mendapatkan sertifikat pelepasan, termasuk varietas Jupiter, Gospi, dan Jerry Crystal.
“Kalau bibitnya sudah bersertifikat, saya jamin akan lebih masif perkembangan anggur skala besar dan produksi,” pungkas pria yang sudah menggeluti dunia anggur sejak tahun 2016 ini.
Bagi masyarakat yang ingin belajar, Ajie juga membuka pelatihan rutin. Hingga saat ini, ia telah mengedukasi hampir 10.000 orang, mulai dari masyarakat umum hingga pensiunan yang ingin tetap produktif melalui urban farming.
Sabrina Yuniawati







