Jakarta (Agrina-online.com). Di tengah fluktuasi harga karet dunia, peluang bisnis komoditas karet produksi PT Perkebunan Nusantara (PTPN) I masih sangat prospektif. Sebab, komoditas ini menjadi bahan baku pada industri tertentu yang belum bisa disubstitusi oleh karet sintetis dan lainnya. Bahkan, pada tahun 2025 ini permintaan pasar berkembang hingga Eropa dan Amerika Serikat dari sebelumnya hanya China dan India.
Transformasi bisnis PTPN Group memplot PTPN I sebagai Subholding yang berfokus pada komoditas karet dan beberapa komoditas lainnya serta beberapa bisnis nonkomoditas. Sebanyak delapan PTPN yang sebelumnya merupakan entitas anak usaha digabung. Sejak saat itu, seluruh perhatian fokus kepada perbaikan struktur, infrastruktur, sistem manajemen, dan akselerasi kinerja.
“Saat ini kami mengelola tanaman karet seluas lebih dari 64 ribu hektar yang tersebar di Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sulawesi. Komoditas ini masih menjadi core business kami selain teh, kopi, kakao, tembakau, dan lainnya,” tutur Direktur Utama PTPN I, Teddy Yunirman Danas di Jakarta, Senin (29/07/2025) sebagaimana rilis yang dikirim Humas PTPN I Regional 7.
Ia mengakui, bisnis karet dihadapkan pada beberapa kendala teknis agronomi ditambah dengan fluktuasi harga karet dunia. Seiring transformasi PTPN I menjadi Subholding PTPN Group, pihaknya secara berkelanjutan melakukan perbaikan kinerja pada semua sektor usaha, termasuk komoditas karet. Alhasil, kinerja kami menjelang 2 tahun terakhir ini cukup progresif.
Kendala teknis agronomi tanaman karet, lanjutnya, secara akselerasi diperbaiki secara konsisten, yang meliputi sistem manajemen sadap, ketuntasan sadap, kecukupan tenaga kerja, hingga pengawalan produksi dari hulu sampai hilir diperketat agar menghasilkan kinerja yang progresif.
Di samping itu, Teddy mengakui, peningkatan kinerja bisnis karet PTPN I didukung oleh beberapa faktor, seperti harga karet dunia yang mengalami kenaikan dan masih terus bertahan hingga kini. Juga, faktor iklim kemarau yang cenderung basah sangat cocok bagi agronomis peningkatan produksi karet.
“Kami perbaiki secara komprehensif dan simultan di semua lini. Hasilnya sangat positif. Pada kinerja 2024 sudah menunjukkan trend naik dan terus menanjak pada 2025 ini,” tambah Teddy.

Diminati Pasar
Tentang masa depan bisnis karet, Teddy juga memastikan karet olahan yang diproduksi PTPN I sangat diminati pasar. Hingga kini, kata dia, industri otomotif dan beberapa produk consumers good masih mengandalkan karet alam sebagai bahan baku. Karet alam sebagaimana diproduksi PTPN I memiliki kualitas yang jauh lebih baik dibanding karet sintetis.
“Alhamdulillah produk olahan karet PTPN I selalu terserap oleh pasar, baik lokal maupun ekpor. Sebab, memang soal kualitas produk, kami tidak main-main. Zero tolerance terhadap berbagai penyebab terjadinya penurunan kualitas. Produk-produk premium, seperti ban dan komponen otomotif lainnya masih setia dengan karet alam produksi kami,” tegas Teddy.
Produk olahan karet PTPN I terus mendapat kepercayaan dari pasar. Jika selama ini pasar terbesar yang menyerap adalah China dam India. Teddy mengatakan tahun 2025 ini, permintaan berkembang hingga Eropa dan Amerika Serikat. Selain soal kualitas yang prima, produk karet olahan PTPN I juga ramah lingkungan.
“Lembaga-lembaga di Eropa sudah memiliki standar EDR (environmental data retrieval) yang intinya memastikan lahan karet bukan berasal dari penggundulan hutan dan sejenisnya. Ini merupakan tantangan, tetapi juga peluang bagi kita untuk terus meningkatkan praktik berkelanjutan,” tutup Teddy.
Hal senada disampaikan oleh Sekretaris Perusahaan PTPN, I Aris Handoyo, komitmen PTPN I dalam menjalankan setiap sektor bisnisnya selalu mengedepankan prinsip-prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance), termasuk komoditas karet. Sehingga, produk olahan karet mampu mengekspansi pasar Asia, Eropa dan Amerika.
“Produk olahan karet PTPN I yang telah menembus pasar Asia, Eropa hingga Amerika adalah bukti komitmen dan jerih payah manajemen PTPN I dalam memperbaikan serta meningkatkan kinerja, di mana berlandaskan prinsip-prinsip ESG,” jelas Aris.
Syafnijal Datuk Sinaro







