Tantangan budidaya sawit selalu ada maka perlu langkah strategis agar produksi tetap terjaga dan meningkat.
Tantangan budidaya sawit masih menjadi momok menakutkan karena berdampak pada penurunan produksi dalam negeri. Sehingga, perlu strategi dalam menangani berbagai masalah seperti cara menangani gulma, hama, dan penyakit. Tindakan yang tepat dalam menangani hal tersebut salah satunya dengan menerapkan GAP. Upaya apa sajakah yang dilakukan para pemerhati sawit dalam menangani masalah tersebut?
Langkah Krusial Tingkatkan Produksi
Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menyoroti penurunan angka ekspor minyak sawit mentah (CPO) pada 2024. Penurunan ini disebabkan naiknya konsumsi CPO domestik, khususnya biodiesel. Penggunaan CPO dalam negeri untuk biodiesel mencapai 13 juta ton, naik dari sebelumnya kurang lebih 10 juta ton. Mengatasi hal ini, GAPKI mendorong berbagai inisiatif strategi guna meningkatkan produksi dalam negeri.
Menurut Mukti Sardjono, Direktur Eksekutif GAPKI, ekspor CPO Indonesia mengalami penurunan signifikan pada 2024. Pada 2023 ekspornya mencapai US$30 juta ton tapi pada 2024 menurun menjadi US$27 juta ton. Mukti merinci, solusi menjaga stabilitas ekspor dengan cara meningkatkan produksi sawit dalam negeri. GAPKI menggarisbawahi beberapa langkah krusial.
Pertama, realisasi Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). GAPKI berharap PSR dapat berjalan sesuai target. Pasalnya, capaian PSR masih rendah sehingga perlu ditingkatkan agar dapat berkontribusi pada produksi nasional. Kedua, uji coba serangga penyebuk baru. Serangga penyerbuk baru telah didatangkan dari Tanzania dan sedang dalam tahap uji coba di kebun Indonesia serta mulai diterapkan tahun depan. Keberadaan serangga ini penting dalam proses budidaya untuk meningkatkan kualitas sawit.
Ketiga, pengayaan sumber daya genetik. Dengan dukungan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Kementerian Pertanian, GAPKI mendatangkan sumber daya genetik baru dari Afrika. Tujuannya memperkaya keragaman genetik sawit Indonesia dan meningkatkan produktivitasnya.
Keempat, penggunaan klon unggul dan good agricultural practices (GAP). Perusahaan sawit didorong menggunakan klon-klon unggul dan menerapkan GAP. GAP mencakup pemilihan benih unggul, pemupukan yang tepat, pengelolaan hama dan penyakit, hingga pengolahan air dan limbah.
“GAPKI berharap, strategi ini dapat berjalan dengan baik dan industri sawit bisa lebih maju lagi. Semua langkah diharapkan dapat membantu industri sawit terus berkembang dan bersaing di pasar global. Kita ingin tetap meningkatkan ekspor ataupun mempertahankan ekspor maka produksi dalam negeri harus ditingkatkan,” katanya saat acara Hai Sawit Simposium Indonesia bulan lalu.
Solusi Efektif Penanganan Gulma
Langkah-langkah krusial tersebut harus dijalankan agar produksi sawit nasional meningkat. Secara spesifik, menangani gulma di kebun sawit. Pasalnya, perkebunan sawit Indonesia masih menghadapi tantangan berat dalam mengendalikan gulma, terutama meningkatnya resistensi gulma terhadap herbisida konvensional dan tuntutan praktik pertanian berkelanjutan.
Prabawati Hyunita Putri, Research & Innovation Manager PT Pandawa Agri Indonesia memperkenalkan inovasi reduktan pestisida. Ini merupakan solusi yang memungkinkan petani mengurangi penggunaan pestisida hingga 50% namun tetap mendapatkan perlindungan optimal. Melalui inovasi tersebut, perusahaan ingin mendampingi petani untuk bertani secara lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan dengan mengurangi penggunaan bahan kimia sintetis yang berisiko tinggi.
“Petani cukup menggunakan setengah dari dosis biasanya. Kurang lebih 6 juta ha lahan perkebunan di Indonesia dan Malaysia telah berhasil mengurangi penggunaan pestisida berlebihan serta hingga 40% pendapatan petani meningkat. Ini telah berhasil mengurangi penggunaan 3,7 juta liter pestisida di Indonesia dan Malaysia. Inisiatif ini juga berdampak signifikan pada pengurangan emisi CO2 sebesar 8.800 ton CO2,” klaimnya.
Prabawati menyoroti beberapa masalah yang dihadapi para pekebun. Saat pelarangan penggunaan parakuat, banyak pekebun beralih ke glyphosate. Namun, sayangnya hal itu menyebabkan peningkatan resistensi gulma. Masalah lainnya adalah inkonsisten efikasi produk herbisida di pasaran. Banyak produk tidak memberikan hasil memuaskan sehingga membuat pekebun harus memulai perawatan dari awal lagi.
“Masalah ini semakin rumit seiring meningkatnya tuntutan sertifikasi keberlanjutan seperti Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), Malaysian Sustainable Palm Oil (MSPO), dan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) yang mengharuskan pengurangan penggunaan pestisida,” ungkapnya.
Menjawab permasalah tersebut, Prabawati memperkenalkan P-Glufosinat. Ini merupakan bahan aktif baru yang diklaim sebagai terobosan. P-Glufosinat mengandung 100% L-Glufosinat, yaitu molekul yang memiliki aktivitas herbisida. Herbisida komersial yang beredar saat ini masih dicampur dengan D-Glufosinat yang tidak memiliki aktivitas herbisida dan malah menyebabkan polusi, sedangkan P-Glufosinat memiliki efikasi yang jauh lebih kuat.
“Efikasinya bisa dijamin 4 kali lebih powerful dibandingkan glucosat. P-Glufosinat bahkan hampir dua kali lebih kuat dari ammonium-glufosinat yang ada dipasaran. Lebih menariknya lagi, kekuatan P-Glufosinat hampir setara dengan parakuat. Uji coba di kebun Kalimantan dan Sumatera menunjukkan hasil yang menjanjikan. Contoh pada gulma Eleusine indica, penggunaan P-Glufosinat dosis 450 ml/ha bisa mengendalikan hingga lebih dari 90% dalam satu minggu,” jelasnya.
Prabawati menegaskan, industri sawit harus ramah lingkungan, aman bagi pekerja, dan memiliki emisi karbon lebih rendah. “Inovasi ini sesuai dengan standar keberlanjutan yang menjadi syarat RSPO, MSPO, dan ISPO. Dengan begitu, efisiensi yang didapat bisa dialihkan untuk bonus pekerja, bukan untuk biaya pengendalian gulma yang berlebihan,” tambahnya.
Penanganan Gulma Lewat Teknologi
Tidak hanya Indonesia, industri perkebunan sawit di Malaysia juga menghadapi tantangan besar terkait efisiensi operasional dan ketergantungan tenaga kerja manual yang memperlambat proses pengerjaan di lapangan. Menjawab tantangan tersebut, SD Guthrie meluncurkan proyek Infinity pada 2020. Tujuan proyek ini menerapkan mekanisasi pada seluruh operasional perkebunan.
Ts. Siti Zuwairiah Abdullah, Estate Manager SD Guthrie mengatakan, proyek ini bertujuan meningkatkan produktivitas dan mengurangi ketergantungan pada tenaga kerja manual agar lebih efisien. Siti merinci, perkebunan di Malaysia rata-rata tiga orang pekerja hanya menyelesaikan 8 ha secara manual. Sedangkan proyek Infinity, meningkatkan rasio menjadi 12,4 ha/pekerja dengan menggunakan teknologi.
Siti menjelaskan, pengendalian gulma merupakan fokus utama dalam mekanisasi. Gulma dapat berkompetisi dengan tanaman sawit untuk mendapatkan nutrisi dan sinar matahari sehingga mengurangi kualitas buah sawit. Selain itu, gulma juga bisa menjadi inang hama dan penyakit. Pengendalian gulma yang tidak dilakukan dengan baik maka dapat dipastikan biaya operasional akan meningkat dan mengurangi profit secara signifikan.
Siti memberikan beberapa solusi mengangani gulma, yaitu mesin penyemprot gulma inovatif. Pertama, Azman Sprayer yang dirancang untuk area teras dengan kemiringan kurang dari 15°. Mesin dapat menyemprot hingga 8-9 ha/hari dan hanya butuh satu operator. Kedua, ST101 Spray Dash yang menyemprot melingkar ke area kebun dan mampu menyemprot 20-25 ha/hari. Penggunaan mesin ini mengurangi kebutuhan lima pekerja manual.
Ketiga, CS10 Roller Spray Machine yang dapat mencapai 6-7 ha/hari penyemprotan. Dua kali lipat dari penyemprotan manual, hanya 3 ha/hari. Keempat, NMS UniMature Sprayer untuk lahan datar dan bergelombang dengan target 12 ha. “Selain efisiensi, proyek infinity juga menitikberatkan pada aspek keselamatan pekerja. Penggunaan sprayer manual dipikul oleh pekerja akan menyebabkan kontak langsung dengan bahan kimia. Dengan mekanisasi, risiko ini bisa dikurangi secara drastis,” katanya.
Sabrina Yuniawati







