AGRINA nomor 102 yang Anda terima hari ini adalah “edisi Hari Ulang Tahun”. Pada 27 April kemarin, tabloid kesayangan Anda ini genap berusia 4 tahun. Menyambut hari ulang tahun itu, seperti yang sudah ditradisikan, kami menggelar sebuah seminar nasional bertajuk “Swasembada Beras Berkelanjutan”, pada Rabu 29 April 2009, di Hotel Aryaduta, Jakarta.
Memperingati HUT AGRINA 2007, kami mengadakan seminar “Menyiasati Peningkatan 2 Juta Ton Beras 2007”. Dan pada 2008, kami memperingatinya dengan seminar “Ketersediaan Pangan & Keterjangkauan Harga (Adjustment Jangka Pendek dan Jangka Panjang terhadap Krisis Pangan)“.
Di samping tradisi seminar itu, AGRINA juga melembagakan seminar Agribusiness Outlook setiap menjelang peralihan tahun, yang dimulai Desember tahun lalu dengan ”Agribusiness Outlook 2009”. AGRINA juga melaksanakan seminar atau diskusi panel menyoroti permasalahan agribisnis yang sedang aktual. Tahun lalu misalnya, kami menampilkan seminar “Peranan Jagung dalam Mewujudkan Ketahanan Pangan”.
Dengan berbagai acara tersebut, kami sekaligus membangun komunikasi tatap muka langsung antar-pemangku kepentingan pertanian: pejabat pemerintah, pelaku usaha, kaum ilmuwan, dan kalangan konsumen.
Dalam perjalanan penerbitan sampai edisi 102 dan pemilihan tema seminar serta diskusi panel, bisa disimak bahwa media dwimingguan ini mengutamakan isu-isu tentang pertanian tanaman pangan, khususnya beras, jagung dan diversifikasinya, peternakan, khususnya unggas dan ruminansia, serta perikanan budidaya khususnya udang.
Namun harap diperhatikan pula AGRINA menjadi ajang mengusung keberhasilan daerah dan kepemimpinan bupati atau gubernurnya dalam mensejahterakan rakyat melalui sistem dan usaha pertanian. Kami pun sudah merancang lokakarya tentang agribisnis di daerah-daerah, dimulai bulan depan di Sukamandi, Subang, Jabar.
Benang merah yang ingin dirajut dari tulisan-tulisan selama penerbitan AGRINA adalah membangkitkan kesadaran bersama dan langkah konsisten dan strategis demi ketahanan pangan nasional yang berkelanjutan. Agar dalam hal pembangunan pangan, tidak berlaku sebutan, consistently inconsistent. Masalah pangan, pada skala global maupun lokal, selalu rawan karena ketersediaannya tekor oleh laju pertambahan jumlah penduduk. Ditambah pula akhir-akhir ini dengan ancaman perubahan iklim.
Di dalam negeri, pada masa Soekarno kita antre beras, saat masa Soeharto kita swasembada beras tapi mematikan diversifikasi. Sewaktu masa reformasi, khususnya pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, kita surplus beras, tapi tidak mengangkat taraf hidup petani. Efisiensinya juga disoroti, dalam hal uang subsidi benih, pupuk dan lain-lain yang Rp30 triliun (tahun ini bisa Rp35 triliun—Rp40 triliun) dibandingkan dengan pencapaian hasilnya. Dipertanyakan oleh Dirjen Anggaran Departemen Keuangan Anny Ratnawati, “pengeluaran anggaran berlipat-lipat itu komparabel atau tidak dengan produktivitas dan produksi pertanian?” (Kompas 17 April 2009).
Maka ketika memperingati HUT ke-4 ini, kita mengangkat tema “Swasembada Beras Berkelanjutan”, karena betapa pun fantastisnya surplus yang berhasil kita capai, tetap membawa tuntutan akan jaminan keberlanjutannya. Indonesia jelas jauh dari kriteria low income food deficit countries (LIFDCs). Tapi negeri ini berpenduduk banyak dengan laju pertambahan rata-rata 1,3% per tahun. Ini pun negara kepulauan, dengan infrastruktur di kebanyakan daerah di luar Jawa yang kurang memadai.
Negeri ini pun langganan berbagai bencana alam yang sering sangat lambat direspon karena hubungan terhadang tanah longsor, gelombang tinggi atau gangguan cuaca. Berdasar itu, FAO tahun lalu sempat menaruh Indonesia sebagai salah satu negara terancam kondisi kerawanan pangan lokal yang gawat dikarenakan bencana alam, penumpukan pengungsi lokal, kemacetan distribusi, paceklik, kemiskinan, kelangkaan akses oleh kelemahan daya beli.
Swasembada beras berkelanjutan adalah ketersediaan pangan dan keterjangkauannya terjamin untuk setiap warganegara, kapan pun, dalam situasi apa pun, di bawah kepemimpinan nasional siapa pun, bersumber kokoh dan mandiri di semua daerah, dikawal terus menerus untuk masa yang panjang, tidak sebatas antara dua Pemilu.
Daud Sinjal