Rabu, 7 Agustus 2019

“Hot-nya” Bisnis Sambal Kemasan

“Hot-nya” Bisnis Sambal Kemasan

Foto: Selo Sumarsono
Sambal menjadi pelengkap yang “wajib” ada di setiap menu makanan.

Pasar lokal dan internasional memburu sambal kemasan khas Indonesia.
 
Sambal kemasan menjadi bisnis yang sangat memikat para pelaku bisnis baik Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang kebanyakan dilakukan oleh ibu rumah tangga, maupun industri besar.
 
Kondisi ini mengingat tingginya minat orang Indonesia mengonsumsi makanan pedas, khususnya sambal. Sambal seolah menjadi pelengkap yang “wajib” ada di setiap menu makanan.
 
Jika berbelanja di pasar tradisional atau supermarket, kita akan mudah menemui berbagai macam merek dan varian sambal kemasan dari berbagai daerah yang diproduksi UMKM dan perusahaan besar, seperti Indofood, Heinz ABC, hingga DelMonte, perusahaan makanan berinduk di Amerika.
 
Kepraktisannya untuk dibawa ke mana saja dan daya tahannya yang cukup lama, membuat sambal kemasan juga menjadi alternatif buah tangan khas daerah. Hampir setiap daerah di Indonesia menghasilkan sambal yang memiliki ciri khas masing-masing dalam varian rasa, komposisi, dan warna. 
 
 
Tren Bisnis Sambal Kemasan
 
Ir. Sri Yunianti, M.Si, Direktur Industri Kecil Menengah, Ditjen Industri Kecil, Menengah, dan Aneka, Kementerian Perindustrian menjelaskan, peningkatan sambal kemasan dapat dilihat dari banyaknya varian produk sambal khas Nusantara.
 
Aneka sambal ini dapat dijumpai di toko oleh-oleh, supermarket, marketplace (toko online), bahkan diekspor ke luar negeri.
 
Sri menyebut Sambal Bu Rudy dari Jatim yang sudah dikenal luas. Tidak hanya warga Surabaya yang mengonsumsinya. Warga Jakarta, Sumatera, hingga Aceh juga membeli sambal kemasan ini melalui sosial media dan marketplace.
 
“Indonesia kaya sekali, berbagai macam sambal olahan dapat ditemui dan setiap daerah memiliki khasnya masing-masing. Tren ini akan terus meningkat dari tahun ke tahun,” jelasnya kepada AGRINA.
 
Apalagi, sambung wanita kelahiran 1962 itu, sambal kemasan tidak hanya dinikmati oleh orang tua melainkan anak muda. Ketertarikan rasa, kemasan, mutu menjadi daya tarik pelanggan, contohnya sambal berbagai macam level mulai dari level 1 hingga 5.
 
“Hot”-nya bisnis sambal kemasan tersebut dirasakan oleh Iin Agustin Rahman. Pemilik sambal kemasan berlabel Chili Chila di Depok, Jabar ini menyampaikan, bisnis Chili Chila secara garis besar mengalami peningkatan produksi.
 
Empat tahun lalu ia hanya memproduksi 500 botol sambal per bulan dengan 4 varian seharga Rp22 ribu/botol. Sambal Chili Chila melakukan inovasi varian setiap tahun sehingga permintaan pun meningkat tajam mencapai 1.000 botol/bulan.
 
Selama berjalannya waktu, sambal Chili Chila kini memiliki 16 varian dengan harga Rp27 ribu per botol. Produksinya saat ini mencapai 10 ribu botol per bulan, belum termasuk penjualan ke luar negeri.
 
“Kalau secara persentase, pertumbuhannya mencapai 75% atau bahkan sampai 100%. Income per bulan ada indikator sangat siginifikan kenaikannya,” jelasnya sambil tersenyum bahagia.  
 
 
Pemilik dan Distributor Menikmati
 
Devi Maharani, pemilik sambal Cihuuyy di Bogor, Jabar juga mengalami peningkatan produksi secara signifikan. Pasalnya dari penjualan 200 botol per minggu dengan 4 varian di 2015, saat ini produksi seminggu mencapai 400 botol dengan 11 varian.
 
Cihuuyy dipasarkan ke 6 Transmart Bogor, marketplace, media sosial, dan bazar. Di Transmart, Cihuuyy hanya menjual 5 varian karena hanya bertahan selama 3 bulan. “Kirim 2 bulan sekali. Bulan ini kirim, bulan depan cek tanggal kedaluwarsanya. Produk hampir mendekati tanggal kadaluarsa ditarik dan dijual ke Bazar,” jelas Lulusan Fisip Universitas Jayabaya, Jakarta ini.
 
Penjualan sambal Cuk! dari Surabaya, Jatim juga naik tajam. Menurut Mujiati, sang pemilik, saat ini produksinya mencapai 1.000 kaleng per hari, belum untuk ekspor. Pada masa percobaan di 2010, ia mengolah cabai 1 kg menjadi beberapa botol sambal kemasan dan terjual habis.
 
Merasa racikannya diterima masyarakat, produksi lantas ditambah menjadi 5 kg cabai. Peningkatan kembali dilakukan menjadi 10 kg cabai hingga sekarang mencapai 200 kg sehari dengan varian sebanyak 19 dan harga berkisar Rp26 ribu-Rp31 ribu/varian.
 
Sambal Tjab Lombok Oedel ikut menikmati sedapnya bisnis sambal kemasan. Indah Adiati, pemilik Sambal Oedel mengatakan, bisnis sambalnya terbilang stabil dibandingkan awal merintis. Pada 2012 omzetnya hanya 500 botol seharga Rp17.500/botol.
 
Sekarang produksinya naik drastis menjadi 6.000 botol/bulan dengan 6 varian. “Pejualan yang meningkat ini buat saya nggak nyangka,” katanya semringah.
 
Tidak pemilik merek, Galih Budiantara, distributor sambal kemasan di Jakarta merasakan hal yang sama. Awalnya, ia hanya menjual 75 botol sambal Oedel per bulan pada 2017 dengan harga reseller Rp27ribu per varian.
 
Tahun ini penjualannya menjadi 100 botol/bulan seharga Rp30 ribu/botol. “Rata-rata yang beli orang perkantoran. Kalau harga cabai naik penjualan per botol menjadi Rp35 ribu,” jelasnya yang menyebut varian paling diminati adalah teri medan merah, peda, dan bawang. 
 
Galih mengungkapkan, pelanggan menyukai sambal Oedel karena pedasnya luar biasa dan masa kedaluwarsa hanya sebulan serta tanpa bahan pengawet.
 
“Bahan pengawetnya dari minyak dan garam sebagai unsur pembuatan sambal. Saya bidik kelas middle hingga middle up. Orang–orang seperti ini tahu rasa dan kesehatan jadi tidak perlu adanya tawar-menawar harga,” ujarnya.  
 
 
Kelanjutan tentang tulisan ini baca di Majalah AGRINA versi Cetak volume 15 Edisi No. 302 yang terbit Agustus 2019. Atau, klik : https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/agrina, https://higoapps.com/browse?search=agrina, https://www.mahoni.com, dan https://www.magzter.com/ID/PT.-Permata-Wacana-Lestari/Agrina/Business/

 
Agrina Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain