1. Home
  2. »
  3. Headline Agrina
  4. »
  5. Tanah Pertanian Kian Sakit, Bioteknologi Pulihkan Kesuburannya

Revolusi Hemat Energi Budidaya Ikan Nila Desa Sitirejo Malang

Malang, Agrina-online.com. Produksi ikan nila Indonesia sedang berada pada jalur yang menarik. Data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menunjukkan produksi budidaya pembesaran nila mencapai sekitar 1,56 juta ton pada 2024, meningkat sekitar 14 persen dibandingkan produksi 2023 yang sebesar 1,37 juta ton. Bahkan angka pada 2025 menunjukkan produksi nila berada pada kisaran 1,68 juta ton. Nila pun menjadi salah satu komoditas utama perikanan budidaya nasional.

Pasarnya tak hanya dalam negeri, pasar ekspor tilapia Indonesia tercatat sekitar 12,77 ribu ton dengan nilai USD93,51 juta pada tahun 2024. Untuk tahun 2025 volumenya meningkat menjadi sekitar 13,98 ribu ton dengan nilai USD97,73 juta. Di pasar Amerika Serikat saja, Indonesia berada pada posisi ketiga pemasok tilapia pada data 2024 dengan pangsa sekitar 9,33 persen berdasarkan nilai ekspor.

Artinya, nila bukan lagi sekadar ikan konsumsi yang akrab di warung makan dan pasar tradisional. Di balik komoditas yang terlihat sederhana tersebut terdapat pasar domestik yang besar, peluang ekspor, dan ruang yang luas untuk meningkatkan efisiensi produksi.  Namun peluang pasar tidak otomatis menjadi keuntungan bagi pembudidaya. Salah satu persoalan yang sering luput diperhitungkan justru berada di luar kolam yaitu energi.

Bagi budidaya ikan dengan kepadatan relatif tinggi, aerator bukan sekadar perlengkapan tambahan. Alat inilah yang membantu menjaga suplai oksigen di dalam air. Masalah muncul ketika aerator harus bekerja 24 jam, sementara sumber energinya sepenuhnya bergantung pada listrik PLN. Biaya listrik menjadi pengeluaran rutin. Lebih penting lagi, ketika listrik padam, suplai oksigen juga berisiko terhenti.

Kondisi semacam itu juga menjadi persoalan yang dihadapi Pokdakan Berkah Sitirejo Jaya di Desa Sitirejo, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang. Kelompok yang dibentuk pada 2024 tersebut beranggotakan 12 orang. M. Arifin, sebagai ketua kelompok menerangkan bahwa  para pembudidaya melakukan panen sekitar dua kali setahun dengan hasil sekitar dua kuintal dalam satu kali panen. Kapasitas produksi masih perlu ditingkatkan dan salah satu persoalan yang diidentifikasi adalah ketergantungan terhadap energi listrik konvensional. Selama ini biaya listrik mungkin terlihat kecil jika dihitung harian. Namun, aerator bekerja bukan satu atau dua jam. Ia bekerja terus sepanjang hari, sepanjang bulan, bahkan sepanjang siklus budidaya.

Dari permasalahan tersebut Tim Pengabdi dari Universitas Merdeka Malang yang diketuai oleh Ir. Subairi, ST., MT., IPM, dengan anggota Ir. Rahman Arifuddin, ST., MT. dan Muhammad Mahesa Ramadhan, S.ST., MT., serta melibatkan mahasiswa menggagas sistem aerator tenaga surya, dalam kegiatan Program Pengabdian kepada Masyarakat yang didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi tahun 2026.

Sistem yang telah dipasang pada kolam budidaya nila di Sitirejo menggunakan panel surya berkapasitas total 600 Wp, dilengkapi baterai LiFePO4 24 volt 100 Ah. Beban utamanya berupa aerator dengan daya sekitar 100 watt yang beroperasi selama 24 jam.

Secara sederhana, kebutuhan energi aerator dapat dihitung:

100 watt × 24 jam = 2.400 Wh atau 2,4 kWh per hari.

Untuk 30 hari, kebutuhan listriknya sekitar 72 kWh, dan setahun mencapai 876 kWh.

Angka itu menjadi penting karena dapat dibandingkan langsung dengan kemampuan sistem panel surya.

Indonesia memiliki potensi radiasi matahari rata-rata sekitar 4,8 kWh/m²/hari. Dengan menggunakan angka tersebut, panel surya 600 Wp secara teoritis berpotensi menghasilkan:

0,6 kWp × 4,8 jam = 2,88 kWh per hari.

Tentu panel surya di lapangan tidak bekerja dalam kondisi laboratorium. Terdapat kehilangan energi akibat temperatur panel, kabel, controller, proses pengisian baterai, inverter, hingga perubahan intensitas matahari. Jika digunakan faktor kinerja sistem sekitar 80–85 persen, energi yang realistis diperoleh berada pada kisaran 2,30–2,45 kWh per hari.

Indonesia sendiri memiliki potensi energi surya rata-rata sekitar 4,8 kWh/m²/hari sehingga pemanfaatannya sangat relevan untuk sistem energi terdistribusi seperti pada usaha budidaya. Menariknya, angka tersebut sangat dekat dengan kebutuhan aerator sebesar 2,4 kWh per hari.

Dengan kata lain, PLTS 600 Wp secara energi berada pada ukuran yang hampir seimbang dengan beban aerator 100 watt selama 24 jam. Pada hari dengan penyinaran matahari baik, sebagian besar bahkan hampir seluruh kebutuhan energi aerator dapat dipasok dari matahari. Pada hari mendung panjang atau hujan, sistem hybrid tetap dapat memanfaatkan listrik PLN sebagai cadangan.

Di sinilah konsep energi surya menjadi lebih realistis. Bukan sekadar mengganti PLN, tetapi mengurangi ketergantungan terhadap PLN tanpa mempertaruhkan keberlangsungan aerasi kolam.

Berapa Rupiah yang Bisa Dihemat?

Aerator 100 watt yang bekerja 24 jam membutuhkan sekitar 72 kWh setiap bulan.

Sebagai simulasi, apabila tarif listrik yang digunakan Rp1.444,70 per kWh—setara tarif beberapa golongan rumah tangga nonsubsidi 1.300–2.200 VA dan pelanggan bisnis B-2 pada periode Juli–September 2026, maka biaya listrik aerator apabila sepenuhnya menggunakan PLN sekitar:

72 kWh × Rp1.444,70 = Rp104.018 per bulan.

Dalam satu tahun:

876 kWh × Rp1.444,70 = sekitar Rp1,27 juta.

Dengan produksi PLTS realistis sekitar 2,30 kWh per hari pada asumsi efisiensi sistem 80 persen, panel 600 Wp berpotensi menghasilkan sekitar 841 kWh per tahun. Jumlah tersebut setara sekitar 96 persen kebutuhan energi tahunan aerator.

Secara ekonomis, potensi energi yang menggantikan listrik PLN mencapai sekitar:  841 kWh × Rp1.444,70 = sekitar Rp1,21 juta per tahun.

Dalam kondisi penyinaran dan kinerja sistem yang lebih baik, produksi energi dapat mendekati kebutuhan aerator sebesar 876 kWh per tahun. Dengan demikian, potensi penghematan maksimum biaya energi aerator berada pada kisaran Rp1,2–Rp1,27 juta per tahun, belum memasukkan perbedaan tarif, pajak penerangan jalan, maupun kenaikan tarif listrik pada masa mendatang.

Sekilas Rp100 ribu per bulan mungkin bukan angka yang luar biasa. Namun dalam usaha budidaya, keuntungan sering kali bukan berasal dari satu penghematan besar, melainkan akumulasi berbagai efisiensi kecil yang terjadi secara terus-menerus.

Apalagi panel surya memiliki masa operasi panjang. Selama sistem dirawat dengan baik, listrik yang dihasilkan matahari pada tahun kedua, ketiga, dan seterusnya tetap dapat menekan biaya operasional.

Manfaat pertama tentu saja mengurangi biaya energi. Uang yang sebelumnya digunakan membeli listrik dapat dialihkan untuk pakan, benih, pemeliharaan kolam, maupun kebutuhan produksi lainnya.

Manfaat kedua adalah meningkatkan ketahanan terhadap pemadaman listrik. Aerator memperoleh sumber energi alternatif dari kombinasi panel surya dan baterai. Pembudidaya tidak sepenuhnya bergantung pada jaringan PLN untuk mempertahankan aerasi.

Manfaat ketiga adalah meningkatkan kepastian operasional. Dalam budidaya ikan, persoalan tidak selalu terletak pada besarnya biaya. Ketidakpastian justru sering lebih merugikan. Aerator yang dapat terus bekerja membuat pengelolaan kolam menjadi lebih terkendali.

Manfaat keempat adalah menurunkan jejak penggunaan energi fosil. Setiap kWh listrik matahari yang digunakan secara langsung menggantikan sebagian energi dari jaringan. Budidaya ikan bukan hanya bergerak menuju produksi yang lebih efisien, tetapi juga lebih sejalan dengan konsep ekonomi hijau.

Pada akhirnya, masa depan budidaya nila tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat ikan tumbuh atau seberapa banyak pakan yang diberikan, namun efisiensi energi turut menentukan daya saing.

Pasar ikan nila Indonesia terus bertumbuh. Produksinya telah menembus 1,5 juta ton per tahun, sementara produk tilapia Indonesia juga memiliki tempat di pasar ekspor. Tantangannya adalah bagaimana peningkatan produksi tersebut dapat memberikan margin yang lebih baik kepada pembudidaya, bukan justru diikuti biaya produksi yang semakin tinggi.

Energi surya menawarkan salah satu jawabannya. Di Sitirejo, panel berkapasitas hanya 600 Wp mungkin terlihat kecil jika dibandingkan dengan pembangkit listrik tenaga surya berukuran megawatt. Namun bagi sebuah kolam ikan, energi itu mampu menjalankan perangkat yang menjadi salah satu “penjaga napas” ikan selama 24 jam.

Dari sinilah perubahan besar sering dimulai. Matahari yang sebelumnya hanya menyinari permukaan kolam kini dapat dikonversi menjadi listrik, listrik menjalankan aerator, aerator menjaga oksigen, dan kestabilan produksi pada akhirnya menjaga pendapatan pembudidaya.

Modernisasi budidaya ikan tidak selalu harus dimulai dari teknologi yang mahal dan rumit. Ia dapat dimulai dari satu persoalan sederhana yaitu bagaimana menghasilkan ikan lebih efisien dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia setiap hari di atas kepala kita.

 

Adv-redaksi

Tag:

Bagikan:

Trending

agrina foto2
Revolusi Hemat Energi Budidaya Ikan Nila Desa Sitirejo Malang
Launch Harga Sawit20260801
APKASINDO Luncurkan Hargasawitindonesia.id, Dorong Transparansi Harga Sawit
WhatsApp Image 2026-07-31 at 10.44
Tanah Pertanian Kian Sakit, Bioteknologi Pulihkan Kesuburannya
AOL2907-Mahindra Traktor
Mahindra Bidik Petani Skala Kecil Lewat Traktor Kompak
Kemenperin Dorong Hilirisasi dan Investasi Sektor Industri Nasional
Kemenperin Dorong Hilirisasi dan Investasi Sektor Industri Nasional
Scroll to Top