Yogyakarta, Agrina-online.com — Sistem produksi cage-free mulai mendapat perhatian lebih luas dari pelaku usaha perunggasan nasional.
Selain menanggapi tuntutan pasar dan perubahan preferensi konsumen, sistem tersebut dinilai membuka peluang bagi pelaku usaha untuk menciptakan nilai tambah sekaligus mengembangkan model bisnis yang berkelanjutan.
Manajer Peternakan Petelur WMU, Ir. Arif Afiata Rahmat, S.Pt., IPP, mengatakan bahwa cage-free tidak seharusnya hanya dipandang sebagai perubahan sistem pemeliharaan, tetapi juga sebagai bagian dari pengembangan bisnis.
“Cage-free perlu dilihat sebagai model bisnis berkelanjutan yang mampu mempertahankan produktivitas sekaligus menghasilkan telur berkualitas sesuai permintaan konsumen,” ujarnya, Rabu dalam keterangan tertulis, (30/9).
Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan Protein Up: Exploring New Opportunities in the Poultry Industry yang mempertemukan lebih dari 150 pelaku industri, peternak, sejarawan, dan pemangku kepentingan perunggasan di Yogyakarta.
Saat ini, WMU tengah meningkatkan populasi ayam petelur bebas kandang dari sekitar 200.000 ekor menjadi 500.000 ekor pada tahun 2027. Dengan ekspansi tersebut, WMU diproyeksikan menjadi salah satu produsen bebas kandang terbesar di Asia Tenggara.
Kegiatan Protein Up diselenggarakan oleh Lever Foundation bersama PINSAR Indonesia, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (FKH UGM), dan ASOHI Jogja. Forum tersebut diadakan di FKH UGM sebagai bagian dari rangkaian Hari Ayam dan Telur Nasional (HATN).
Sejumlah produsen telur turut hadir, di antaranya Jatinom, Januputro, Megatech, dan Lourba Jaya. Kehadiran para produsen tersebut menunjukkan bahwa pembahasan mengenai cage-free mulai mendapatkan ruang lebih besar di tingkat peternak.
Namun, penerapan cage-free bukan sekadar mengganti sistem kandang. Perubahan tersebut juga menuntut kesiapan teknologi, manajemen pemeliharaan, biosekuriti, hingga strategi nutrisi.
drh. Kokot Februhadi, Sales Specialist Kaleter, memaparkan sejumlah pilihan teknologi perkandangan yang dapat digunakan dalam sistem cage-free, mulai dari floor system, aviary, hingga mobile house.
“Seiring dengan semakin berkembangnya sistem produksi ayam petelur bebas sangkar dan semakin banyaknya pilihan peralatan yang tersedia, proses transisi menjadi lebih mudah dan semakin menarik bagi perusahaan yang ingin masuk ke pasar bebas sangkar,” jelasnya.
Perubahan sistem pemeliharaan juga membawa konsekuensi terhadap kebutuhan nutrisi ayam. drh. Henri E. Prasetyo, M.Vet., Nutritionist & Business Development Manager DMC, mengatakan bahwa strategi pakan pada sistem kandang bebas perlu mempertimbangkan karakteristik ayam yang berbeda dibandingkan sistem kandang konvensional.
“Strategi nutrisi perlu mempertimbangkan tingkat aktivitas ayam yang lebih tinggi, kesehatan kaki dan kerabang telur, serta peluang menghasilkan telur dengan kualitas dan nilai fungsional yang lebih baik melalui pendekatan nutrisi presisi,” ungkapnya.
Hal tersebut juga sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan WMU. Pengujian terhadap telur yang dihasilkan dari sistem cage-free dan kandang baterai menunjukkan adanya sejumlah perbedaan pada komposisi nutrisi.
Beberapa parameter yang ditemukan lebih tinggi pada telur bebas sangkar, antara lain karoten, Omega-3, Omega-9, DHA, dan protein. Sementara itu, sejumlah parameter lain ditemukan lebih tinggi pada telur dari sistem kandang baterai.
Sisi kesehatan dan manajemen, penerapan cage-free juga memperhatikan lebih banyak terhadap sejumlah faktor. Prof.Dr.drh. Michael Haryadi Wibowo dari Guru Besar FKH UGM menekankan pentingnya penguatan manajemen kesehatan seiring dengan meningkatnya ruang gerak ayam dalam sistem tanpa kandang.
“Penerapan sistem tersebut perlu didukung dengan biosekuriti yang lebih kuat, pengelolaan sampah dan kotoran yang efektif, pengukuran yang baik, pengelolaan kualitas udara, serta pemantauan kesehatan flok secara berkala,” ujarnya.
Lanjut Michael, “Dengan demikian, kebebasan bergerak dan kesempatan ayam mengekspresikan perilaku alaminya perlu berjalan beriringan dengan manajemen pemeliharaan yang baik.”
Masih dalam kesempatan yang sama, Ricky Bangsaratoe, Ketua Bidang Promosi, Pameran, dan Kampanye Gizi PINSAR Indonesia, menilai tema yang diangkat dalam Protein Up relevan dengan perkembangan industri perunggasan saat ini.
“Bagi peternak di Indonesia, tema Protein Up: Exploring New Opportunities in the Poultry Industry sangat relevan karena industri terus berkembang dan harus merespons perubahan kebutuhan konsumen serta dinamika pasar,” ujarnya.
Menurutnya, pembahasan dalam forum tidak hanya berkaitan dengan bebas kandang, tetapi juga mencakup pencegahan penyakit, manajemen pakan, efisiensi nutrisi, serta perkembangan teknologi perkandangan.
“Berbagai topik yang dibahas dalam kegiatan ini merupakan elemen penting dalam membangun industri perunggasan Indonesia yang semakin maju, sehat, efisien, berkelanjutan, dan kompetitif,” tambahnya.
Sementara itu, Sandi Dwiyanto, Lead of Supply Chain Engagement Lever Foundation, mengatakan bahwa pertumbuhan permintaan telur tanpa kandang juga didorong oleh komitmen pengadaan dari perusahaan di sektor hotel, restoran, dan katering (HORECA).
“Permintaan terhadap telur cage-free terus meningkat, salah satunya didorong oleh kebijakan pengadaan dari perusahaan-perusahaan di sektor HORECA, seperti Swiss-Belhotel International, SuperIndo, Marriott, Hilton, Sodexo, Burger King, dan Circle K,” jelasnya.
Perusahaan-perusahaan tersebut merupakan bagian dari lebih dari 3.000 perusahaan secara global yang telah menyatakan komitmen untuk menggunakan 100% telur bebas kandang.
Dari sisi konsumen, survei GMO Research pada tahun 2025 menunjukkan bahwa 81% konsumen Indonesia menilai ayam petelur seharusnya dipelihara dalam sistem bebas kandang. Sebanyak 55% responden juga menyatakan lebih tertarik berbelanja di jaringan restoran dan supermarket yang hanya menggunakan telur tanpa kandang.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa penerapan sistem kandang bebas tidak lagi semata-mata berkaitan dengan perubahan sistem peternakan di tingkat peternakan.
Lebih jauh lagi, perkembangan tersebut mulai berkaitan dengan perubahan kebutuhan pasar, kebijakan pengadaan perusahaan, inovasi teknologi, strategi nutrisi, hingga meningkatnya perhatian konsumen terhadap proses produksi pangan.
Sabrina Yuniawati







