Cirebon, Agrina-online.com – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus menyusun strategi untuk merealisasikan visi “Asta Cita” Presiden dan Wakil Presiden melalui program ekonomi biru.
Fokus utama KKP kini ditetapkan pada kebijakan Kebijakan Program Kerja Prioritas (PKPN) tahun 2026–2029 yang mencakup revitalisasi wilayah pesisir dan masifnya budidaya ikan darat tematik.
Fernando Jongguran Simanjuntak, Direktur Ikan Air Payau, KKP memaparkan bahwa terdapat lima pilar utama ekonomi biru yang menjalankan KKP.
Mulai dari konservasi laut, penangkapan ikan terukur, pengawasan pesisir, hingga pembersihan sampah laut oleh masyarakat.
Namun, fokus diskusi kali ini dimulai pada pilar ketiga, yaitu pengembangan budidaya perikanan berkelanjutan di darat, pesisir, dan laut.
Fernando menambahkan, enam poin PKPN, ada dua program besar yang bersinggungan dengan industri budidaya saat ini yaitu Revitalisasi Tambak Pancuran seluas 14.000 ha.
Revitalisasi tersebut, komoditas utama yang akan digenjot adalah ikan nila salin. “Jika 30% lahan saja digunakan sekitar 4.200 ha, kebutuhan benih akan melonjak tajam. KKP tidak bisa bergerak sendiri dan wajib melibatkan Unit Perbenihan Rakyat (UPR) serta pelaku usaha,” jelasnya dalam acara Arus Nila 2026, Rabu (30/9).
Sementara itu, Asep Epi Supriyadi, Wakil Asosiasi Tilapia Indonesia mengatakan, kunci utama keberhasilan budidaya ikan nila sangat bergantung pada fase pembenihan.
Namun sebagian besar pembudidaya masih sering terjebak dalam pembelian benih yang tidak berkualitas. “Pernahkah Bapak-Ibu membeli ikan nila ukuran 1-2 cm tapi pertumbuhannya sangat lambat. Lalu pemberian pakan boros dan petambak pasti rugi alias boncos,” ujarnya pria yang biasa disapa Kang Ipey itu.
Kang Ipey menambahkan, usaha pembenihan memikul tanggung jawab moral yang besar. Kualitas benih yang dijual akan menciptakan efek donimo yang menentukan hidup dan matinya usaha para pembudidaya di kebun.
Kang Ipey memberikan solusi agar tidak membuat usaha nila merugi. Pertama, impor indukan baru. Mendatangkan strain (galur) indukan nila baru secara genetik unggul. Kedua, modernisasi skala usaha rumah tangga. Mendorong investasi fasilitas hatchery semi-modern bagi para pembenih rakyat.
Ketiga, digitalisasi budidaya. Mulai mengadopsi teknologi tepat guna, seperti penggunaan mesin penghitung benih otomatis untuk menekan tingkat error. Keempat, hilirisasi premium. Membuka pasar baru untuk konsumsi daging nila premium di tingkat pembesaran.
Senada dengan Kang Ipey, Ketua Asosiasi Tilapia Kabupaten Kediri, Ahmad Syihabuddin mengatakan, Industri akuakultur di Indonesia terus mengalami transformasi menuju ke arah yang lebih modern.
Salah satu gebrakan nyata ditunjukkan oleh Kilang Tilapia, sebuah unit budidaya ikan nila modern di Desa Sosobango, Kediri Selatan.
Sejak berdiri pada tahun 2022, Kilang Tilapia berhasil menerapkan teknologi mutakhir untuk meningkatkan produktivitas secara signifikan.
Menurut Ahmad, kunci sukses dan tantangan yang dihadapi industri budidaya ikan yaitu bagaimana adopsi teknologi mampu mengubah pola budidaya tradisional menjadi presisi dan berdaya hasil tinggi.
Kolam tradisional umumnya hanya mampu menampung kepadatan sekitar 5 ekor ikan/m³. Kilang Tilapia melakukan lompatan besar dengan kepadatan hingga 150 ekor/m³. Produktivitas minimal yang dihasilkan pun mencapai 35 kg/m³ dalam satu siklus.
“Kunci 35% keberhasilan budidaya budidaya itu ada di benih. Kami memilih benih berkualitas agar tidak gagal sejak awal. Selain itu, nutrisi dari pakan juga sangat krusial,” tutupnya.
Sabrina Yuniawati







