Jakarta, Agrina-online.com — Di tengah ancaman dan tantangan iklim El Nino, pemerintah memberikan jaminan bahwa pasokan dan produksi pangan nasional saat ini berada dalam posisi aman.
Berbagai langkah taktis dan antisipatif terus digencarkan untuk memastikan ketahanan serta stabilitas stok pangan nasional tetap terjaga dengan baik.
Berdasarkan data dan konfirmasi resmi dari Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat produksi pangan Indonesia saat ini masih stabil.
Produksi padi nasional pada 2025 mencapai 60,21 juta ton Gabah Kering Giling (GKG). Luas panen sekitar 11,32 juta ha atau naik 12,69% dari tahun lalu (2024).
Produksi Gabah Kering Panen (GKP) sekitar 71,95 juta ton. Sedangkan produksi beras untuk konsumsi pangan 34,69 juta ton atau naik 13,29% dari tahun sebelumnya.
Sedangkan data dan proyeksi, periode Agustus hingga Oktober 2026 mencapai 3,07 juta ha. Produksi padi dan beras sepanjang Januari hingga Agustus 2026, akumulasi produksi beras untuk konsumsi masyarakat mencapai 25,2 juta ton.
Potensi produksi padi pada Juni hingga Agustus 2026 mencapai 14,61 juta ton GKG. Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa posisi tersebut masih dalam kategori aman dan terkendali.
“Kita harus jaga pangan kita. Jangan sampai dipermainkan oleh mafia pangan. Data dari BPS menunjukkan produksi kita masih dalam posisi aman,” tegasnya di kantor Bapanas, Jakarta, Senin (14/9).
Tidak hanya itu, terkait El Nino Amran menyampaikan, ada tiga strategi dalam menghadapi dampak El Nino. Memitigasi dampak El Nino dan mengantisipasi potensi musim kemarau yang panjang.
Fokus utama pemerintah dialokasikan pada daerah-daerah upland (dataran tinggi) di Jawa serta area irigasi seluas 3-4 juta ha telah diperbaiki.
Terdapat tiga langkah utama yang disiapkan pemerintah, yaitu pertama, pompanisasi dan Kompensasi Irigasi: Pengadaan dan optimalisasi irigasi pompa secara terpadu dalam satu sistem bangunan irigasi untuk mengairi daerah-daerah irigasi strategis.
Kedua, penggunaan Varietas Benih Unggul: Mengoptimalkan penggunaan varietas padi berdaya tahan tinggi yang mampu berproduksi tinggi hingga 8-10 ton/ha.
Ketiga, penyediaan backup sumber air. Mengamankan dan mem-backup pasokan air di wilayah yang memiliki sumber air vital untuk memastikan keberlanjutan masa tanam.
“Pemerintah optimistis kebutuhan pangan masyarakat akan terus terpenuhi. Hal ini didukung oleh standing crop (tanaman padi yang sedang tumbuh) pada areal lahan pertanian mencapai kurang lebih 3-4 juta ha,” jelasnya.
Selain itu, ketersediaan logistik beras tercatat aman dan tersebar merata di seluruh Indonesia, baik yang berada di sektor rumah tangga, perhotelan, maupun restoran. Dengan kombinasi kesiapan infrastruktur irigasi, penggunaan benih unggul, dan cadangan pangan yang tersebar, pasokan pangan masyarakat dipastikan tetap terjamin.
Sabrina Yuniawati







