1. Home
  2. »
  3. Headline Agrina
  4. »
  5. Sudah Tahu Arah Kebijakan Energi Nasional?

Membangun Pekebun Tangguh Dimulai dari SDM

Makassar, Agrina-online.com. Daya saing perkebunan kelapa sawit rakyat yang tangguh tidak cukup ditopang oleh ketersediaan lahan atau penggunaan sarana produksi. Faktor penentu terletak pada kualitas sumber daya manusia (SDM) yang mengelola kebun. Atas dasar itulah, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) bersama Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian dan Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) terus memperkuat kompetensi pekebun melalui pelatihan teknis sebagai investasi jangka panjang bagi pengembangan sawit nasional.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit yang berlangsung di Makassar, Sulawesi Selatan, pada 24–30 Juli 2026. Sebanyak 59 peserta dari Kabupaten Luwu Utara, yang terdiri atas pekebun, penyuluh, dan aparatur sipil negara (ASN), mengikuti pelatihan intensif selama enam hari untuk memperdalam penerapan budidaya kelapa sawit yang baik guna meningkatkan produktivitas kebun rakyat.

Wakil Direktur AKPY, Dr. Idum Satia Santi, menegaskan bahwa masa depan industri sawit semakin ditentukan oleh kemampuan SDM dalam menghadapi perubahan, baik perkembangan teknologi, tuntutan pasar, maupun dampak perubahan iklim.

“Keberhasilan sawit di masa depan tidak hanya ditentukan oleh luas lahan ataupun pemupukan, tetapi SDM yang unggul dan mampu menyiasati setiap perubahan dengan bijaksana,” ujarnya, Jumat (24/7/2026).

Menurut Idum, pelatihan yang didanai BPDP merupakan bentuk investasi negara untuk meningkatkan kapasitas pekebun agar mampu menerapkan praktik budidaya sesuai rekomendasi teknis. Karena itu, manfaat pelatihan tidak boleh berhenti pada pemahaman teori, tetapi harus diwujudkan dalam praktik di lapangan.

Selama pelatihan, peserta memperoleh materi mulai dari persiapan lahan, penggunaan benih unggul, pemupukan berimbang, pengelolaan kesehatan tanah, teknik penyerbukan, hingga pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT). Materi tersebut dipadukan dengan praktik di kelas dan kunjungan lapangan ke kebun perusahaan agar peserta dapat melihat langsung penerapan budidaya yang baik.

“Harapan kami, ilmu yang diperoleh selama enam hari ini tidak berhenti di hotel, tetapi dipraktikkan di kebun masing-masing dan menjadi inspirasi bagi pekebun lainnya agar semakin mandiri dan profesional,” katanya.

Pada 2026, AKPY mendapat amanah melatih lebih dari 2.500 pekebun di tujuh provinsi. Program tersebut mencakup berbagai bidang, mulai dari teknis budidaya, implementasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO), panen dan pascapanen, pengelolaan sarana dan prasarana, hingga pemetaan perkebunan sebagai bagian dari penguatan kapasitas SDM perkebunan sawit nasional.

Kepala Bidang Perkebunan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Provinsi Sulawesi Selatan, Nurul Fitriani Alimuddin menilai keberhasilan pelatihan harus tercermin dari perubahan nyata dalam cara pekebun mengelola kebunnya.Sejak 2022, lebih dari 809 pekebun asal Kabupaten Luwu Utara telah mengikuti pelatihan yang didukung BPDP.

Tantangan berikutnya adalah memastikan ilmu yang diperoleh benar-benar diterapkan sehingga berdampak pada peningkatan produktivitas dan mutu hasil. “Kami berharap ini bukan sekadar pelatihan. Harus ada perubahan sebelum dan sesudah pelatihan. Cara berkebun harus naik kelas sehingga produktivitas maupun kualitas hasil ikut meningkat,” ulasnya.

Nurul menjelaskan, salah satu persoalan yang masih dihadapi pekebun di Luwu Utara ialah rendahnya rendemen tandan buah segar (TBS) yang berpengaruh terhadap harga jual di tingkat petani. Penerapan budidaya yang baik, penggunaan benih unggul, dan pengelolaan kebun sesuai rekomendasi teknis diyakini mampu meningkatkan produktivitas sekaligus kualitas TBS sehingga posisi tawar pekebun semakin kuat.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Luwu Utara, Pasalongan berharap, pelatihan ini dapat menjadi solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi sektor sawit di daerah, mulai dari rendahnya produktivitas hingga kualitas hasil dan fluktuasi harga TBS.

Ia juga mendorong agar materi yang diberikan bisa membantu pekebun memilih varietas unggul dan menerapkan teknik budidaya yang tepat. Selain itu, juga membuka peluang pemanfaatan hasil samping kelapa sawit sehingga mampu memberikan nilai tambah ekonomi bagi petani.

“Harapan kami, pertemuan ini menjadi jalan keluar dari berbagai persoalan yang selama ini dihadapi petani sawit di Luwu Utara,” ujarnya.

Sinergi BPDP, Direktorat Jenderal Perkebunan, pemerintah daerah, dan lembaga pelatihan diharapkan terus memperkuat fondasi pembangunan SDM perkebunan. Pasalnya, investasi terbesar industri sawit bukan hanya pada teknologi dan sarana produksi, tetapi pada lahirnya pekebun yang kompeten, adaptif, dan mampu mengelola usaha taninya secara profesional untuk menjawab tuntutan produktivitas dan keberlanjutan.

 

Windi Listianingsih

Tag:

Bagikan:

Trending

IMG-20260727-WA0046
Membangun Pekebun Tangguh Dimulai dari SDM
IMG-20260725-WA0013
Tekan Losses TBS, Pekebun Muara Enim Belajar Standar Industri
AOL2407-GPPU
Pembibitan Jadi Penentu Masa Depan Perunggasan
Pupuk Kaltim Catat Produksi 3,44 Juta Ton Semester I 2026
Pupuk Kaltim Catat Produksi 3,44 Juta Ton Semester I 2026
Kementan Bangun Peternakan Sapi Perah Terbesar di Brebes
Kementan Bangun Peternakan Sapi Perah Terbesar di Brebes
Scroll to Top