Jakarta, Agrina-online.com. Sawit semakin menunjukkan ketangguhannya sebagai penyelamat ekonomi negara di tengah ketegangan geopolitik global. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono mengungkap hal tersebut dalam acara Konferensi Pers GAPKI dan Buka Puasa Bersama di Jakarta, Kamis (12/03/2026).
Menurut Eddy, industri sawit tetap kuat meski menghadapi tantangan bertubi-tubi. Setelah kebijakan tarif Amerika Serikat (AS), kini disusul ekskalasi konflik antara AS-Irael melawan Iran yang mengakibatkan penutupan Selat Hormuz.
Penutupan urat nadi energi dunia itu menyebabkan pembengkakkan biaya logistik yang cukup tinggi. “Di satu sisi juga kita bisa membuktikan bahwa industri sawit masih cukup kuat menghadapi ini. Ekspor masih bisa keluar walaupun terjadi kenaikan luar biasa untuk biaya logistik, trade and insurance itu naik sampai 50% rata-rata,” ujarnya.
Eddy menjelaskan, Indonesia mengekspor sawit ke 127 negara, mencapai 32,3 juta ton pada 2025 yang mengalami kenaikan dari tahun 2024. Di antara negara tersebut, ekspor ke negara-negara Timur Tengah (Middle East) cukup terganggu dengan penutupan Selat Hormuz.
“Itu ekspor kita ke Middle East ada 1,83 juta ton. Ini yang sudah pasti terganggu. Yang lain masih bisa keluar walaupun harus memutar lewat Cape Town, di Afrika Selatan, sampai ke Eropa. Kalau lewat Terusan Suez, ada yang masih berani memaksakan lewat Terusan Suez tetapi dengan risiko yang tinggi sehingga biayanya juga (tinggi),” ulasnya.
Karena pengiriman sawit harus memutar lewat Cape Town, kebutuhan bahan bakarnya pun lebih banyak. Hal inilah yang menyebabkan biaya logistik dan asuransinya naik.
“Tetapi ini alhamdulillah masih bisa jalan. Artinya, industri sawit ini membuktikan bahwa dengan kondisi sesulit apapun masih bisa jalan. Tetapi dengan catatan, ini membutuhkan dukungan yang luar biasa,” tegas Eddy.
Terkait produksi minyak sawit (CPO) tahun 2025, Eddy menuturkan, mencapai 51,66 juta ton. Volume ini lebih tinggi 7,26% dibandingkan produksi tahun 2024 yang mencapai 48,16 juta ton. Produksi PKO (minyak inti sawit) juga naik 6,41%, dari 4,598 juta ton pada tahun 2024 menjadi 4,893 juta ton di tahun 2025. Dengan demikian, produksi CPO dan PKO 2025 mencapai 56,553 juta ton, lebih besar 7,18% dari produksi tahun 2024 yang hanya sebesar 52,762 juta ton.
“Kita bersyukur di tahun 2025 produksi kita meningkat 7%. Ini akibat dari replanting-replanting (peremajaan-peremajaan) perusahaan yang memang sudah menghasilkan. Sementara, justru kita prihatin di petani-petani rakyat lambat sekali replanting. Ini perlu menjadi PR kita bersama, perlu juga menjadi PR pemerintah, apa sih yang menjadi hambatan dari replanting tersebut,” terangnya.
Eddy menjelaskan, produksi CPO Indonesia harusnya jauh lebih tinggi dari 56 juta ton apabila Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) berjalan dengan baik. Ia mendesak pemerintah agar tantangan ini segera diselesaikan. Karena meski sebagai produsen CPO terbesar di dunia, Indonesia sekaligus juga konsumen yang terbesar.
Menurut catatan GAPKI, total konsumsi CPO dalam negeri mengalami peningkatan 3,82% dari 23,859 juta ton di tahun 2024 menjadi 24,772 juta ton pada tahun 2025. Peningkatan terbesar terjadi pada konsumsi biodiesel yang naik menjadi 12,704 juta ton atau 10,97% dari tahun sebelumnya sebesar 11,447 ribu ton. Kenaikan biodiesel ini disebabkan oleh kenaikan bauran dari 35% (B35) menjadi 40% (B40).
Konsumsi oleokimia juga naik dari 2,207 juta ton menjadi 2,234 juta ton atau naik sebesar 1,22%. Namun, konsumsi pangan turun menjadi 9,834 juta ton dari 10,205 juta ton pada tahun sebelumnya atau minus sebesar 3,64%.
Membahas lebih detail mengenai ekspor sawit, tahun 2025 sebanyak 32,343 juta ton, membesar 9,51% dari ekspor tahun 2024 yang sebesar 29,535 juta ton. Peningkatan ekspor terbesar terjadi pada minyak sawit olahan yang naik menjadi 22,72 juta ton dari tahun sebelumnya, diikuti oleh olahan minyak inti sawit menjadi 1,560 juta ton, oleokimia menjadi 5,076 juta ton, dan CPO menjadi 2,964 juta ton.
“Nilai ekspor yang dicapai pada tahun 2025 adalah US$35,87 miliar atau sekitar Rp590 triliun, yang meningkat 29,23% dari ekspor tahun 2024 sebesar US$27,76 miliar atau sekitar Rp440 triliun. Peningkatan ekspor terjadi selain karena meningkatnya volume ekspor juga karena harga rata-rata cif Rotterdam tahun 2025 sebesar US$1.221/ton lebih tinggi dari harga rata-rata tahun 2024 sebesar US$1.084/ton,” pungkas Eddy.
Windi Listianingsih







