Jakarta, Agrina–online.com. Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) resmi meluncurkan aplikasi hargasawitindonesia.id sebagai pusat informasi harga tandan buah segar (TBS) dan crude palm oil (CPO). Aplikasi tersebut diharapkan menjadi instrumen transparansi harga yang dapat memperkuat posisi tawar petani sekaligus mendukung tata kelola industri sawit Indonesia yang lebih berkelanjutan.
Peluncuran aplikasi dilakukan dalam Seminar “Launching Aplikasi Hargasawitindonesia.id: Transparansi Data Harga Sawit untuk Petani Maju dan Industri Berkelanjutan” di Jakarta, Sabtu (1/8).
Ketua Umum APKASINDO, Gulat ME Manurung mengatakan, aplikasi tersebut lahir dari kebutuhan petani terhadap akses data harga yang terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan. “Kita harus punya data harga CPO dunia, harga CPO harian, harga TBS petani swadaya, analisis pasar, dan membandingkannya dengan berbagai berita sawit di dunia. Kami tidak mau lagi dianggap omon-omon. Semua harus berbasis data,” tegasnya.
Menurut Gulat, selama ini petani sering kesulitan memperoleh informasi harga yang transparan. Karena itu, aplikasi ini mengumpulkan data harga TBS harian dari berbagai kabupaten dengan sistem verifikasi berjenjang.
“Di setiap provinsi ada dua orang yang mengumpulkan data harga. Setiap pekan kami rapat untuk mengoreksi datanya sehingga informasi yang ditampilkan bisa dipertanggungjawabkan,” ujarnya.
Gulat menjelaskan, salah satu tujuan utama aplikasi tersebut adalah membuka transparansi hubungan antara harga CPO global dan harga TBS di tingkat petani. “Supaya terbelalak mata dunia, kenapa harga CPO di Rotterdam sudah tinggi, tetapi harga di Indonesia masih jauh di bawah. Tujuan akhirnya adalah terkatrolnya harga TBS petani,” katanya.
Jika seluruh data harga sudah terbuka namun masih terdapat praktik pembelian yang merugikan petani, tegasnya, maka hal tersebut patut dipertanyakan. “Kalau masih ada juga yang curang, berarti memang niatnya merampok. Kami petani sawit generasi kedua ingin berbicara berdasarkan data,” ungkapnya.
Selain menyajikan harga TBS dan CPO, aplikasi juga menyediakan berita sawit nasional maupun internasional, analisis berbasis kecerdasan buatan (AI), hingga ringkasan berita sehingga memudahkan pengguna mengikuti perkembangan industri sawit.
Dalam waktu sekitar satu bulan uji coba, imbuh Gulat, aplikasi memperoleh respons yang positif. “Pengunjungnya sudah sangat tinggi dan terus berkembang. Aplikasi ini kami bangun agar menjadi milik petani sawit Indonesia,” katanya bangga.
Dukung Tata Kelola Industri Sawit
Sementara itu, Ketua Kelompok Pemasaran Hasil Perkebunan, Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian, Elvyrisma Nainggolan mengapresiasi, inisiatif APKASINDO yang dinilai sejalan dengan transformasi digital sektor perkebunan. Keberadaan aplikasi info harga tersebut penting karena petani swadaya merupakan bagian besar dari industri sawit nasional.
“Petani swadaya jumlahnya sangat banyak. Karena itu, harus ada keterwakilan data sehingga harga yang ditampilkan benar-benar mewakili kondisi di lapangan,” ujarnya pada kesempatan yang sama.
Elvy mengingatkan, kelapa sawit merupakan komoditas strategis nasional yang menopang kehidupan sekitar 2,6 juta keluarga pekebun sekaligus menjadi penyumbang devisa ekspor Indonesia. Namun demikian, tata kelola pemasaran masih menghadapi berbagai tantangan, termasuk disparitas harga di tingkat agen maupun pedagang perantara.
“Yang selama ini kami pantau banyak di tingkat PKS. Padahal, harga di tingkat agen atau middleman juga memberikan dampak yang sangat besar terhadap harga yang diterima petani,” bebernya.
Elvy berharap, aplikasi hargasawitindonesia.id berkembang menjadi pusat informasi pasar sawit nasional yang menyediakan data harga secara semakin lengkap dan real time (seketika). “Kami berharap aplikasi ini tidak hanya menjadi media penyebaran informasi harga, tetapi berkembang menjadi pusat informasi pasar sawit nasional yang menyediakan informasi harga TBS dan CPO secara real time, lengkap dengan riwayat harga, tren pergerakan, disparitas, serta analisis pasar,” terangnya.
Ia juga meminta, aplikasi tersebut dapat terintegrasi dengan berbagai sistem informasi pemerintah sehingga menghasilkan data yang semakin akurat. “Ke depan aplikasi ini diharapkan terintegrasi dengan sistem pemerintah sehingga tercipta ekosistem data yang kuat, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan,” ulasnya.
Tak lupa, Elvy mengajak seluruh pemangku kepentingan, mulai dari petani, koperasi, pabrik kelapa sawit, hingga pemerintah daerah, untuk menjaga kualitas data yang diinput ke dalam sistem. “Mari kita bangun budaya pelaporan data yang jujur, akurat, dan berkelanjutan. Mulai dari sumber data harus dapat dipertanggungjawabkan sehingga informasi yang tersedia benar-benar bermanfaat bagi seluruh pelaku usaha perkebunan,” tandasnya.
Windi Listianingsih







