Tangerang, Agrina-online.com — Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Nasional Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (DPN HKTI), Abdul Kadir Karding menegaskan, pencapaian swasembada pangan merupakan fondasi utama pelestarian dan stabilitas nasional di tengah-tengah memperkuat geopolitik global.
Dalam pemaparannya, Abdul Kadir Karding menggarisbawahi empat kunci utama dalam membangun sektor pertanian nasional yang berkelanjutan: swasembada sebagai tujuan, daya saing sebagai syarat, investasi agribisnis sebagai mesin penggerak, dan kemitraan sebagai jalan pencapaian.
Karding mengapresiasi komitmen pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto yang dinilai sangat serius membenahi sektor pertanian.
Salah satu langkah konkret yang dicapai adalah penyederhanaan birokrasi distribusi pupuk, yang memangkas 144 aturan menjadi satu Peraturan Presiden (Perpres).
“Negara yang tidak mampu menyokong pangannya, tinggal menunggu krisis. Kita bersyukur Indonesia mampu menjaga ketersediaan pangan secara mandiri. Stok beras nasional saat ini aman sebesar 4,3 juta ton. Indonesia tercatat tidak melakukan impor beras konsumsi selama satu tahun terakhir,” ungkapnya saat memberikan Arahan pada forum penguatan ekosistem pertanian, Sabtu (7/11).
Ia juga menekankan pentingnya menjaga keberhasilan swasembada ini tidak hanya menghentikan komoditas beras, tetapi juga meluasnya komoditas lain seperti jagung dan susu secara berkelanjutan.
Mendorong Daya Saing Melalui Teknologi dan Mekanisasi
Terkait daya saing, Abdul Kadir menyoroti efisiensi biaya produksi, penyediaan benih unggul, ketersediaan pakan, serta penerapan teknologi modern.
Menurutnya, penggunaan mekanisasi pertanian sangat krusial untuk meningkatkan produktivitas pertanian secara signifikan.
“Di Tiongkok, penggunaan teknologi mampu menghasilkan 10-13 ton/ha padi, sementara di Indonesia rata-rata masih 5-6 ton/ha. Dengan mekanisasi dan efisiensi rantai pasok, bisa menekan penyusutan hasil panen sekaligus meningkatkan nilai petani,” jelasnya.
Dalam aspek investasi, HKTI mendorong program percepatan hilirisasi di sektor pertanian, peternakan, dan perikanan agar Indonesia tidak lagi bergantung pada penjualan bahan baku mentah.
Berbagai peluang usaha baru juga terbuka luas, mulai dari penyewaan alat dan mesin pertanian (alsintan), pengolahan pascapanen, hingga industri pakan dan bibit unggul.
Abdul Kadir secara khusus mengajak generasi muda dan pelajar untuk tidak ragu terjun ke dunia pertanian modern.
Pasalnya, persepsi mengenai profesi petani harus berubah seiring pesatnya perkembangan agribisnis dan presisi teknologi.
“Bertani saat ini adalah profesi yang sangat menjanjikan dan berdaya saing tinggi. Peluang bisnis di sektor ini terbuka lebar, baik di tingkat lokal maupun ekspor,” tambahnya.
Mengakhiri Arahnya, Karding menekankan pentingnya kolaborasi dan sinergi antarpemangku kepentingan seperti pemerintah, HKTI, dunia usaha, akademisi, dan petani.
Hal ini untuk menciptakan ekosistem pertanian nasional yang tangguh, inklusif, dan mampu menyejahterakan para petani Indonesia.
Sabrina Yuniawati







