Jakarta, Agrina-online.com. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menimbulkan persoalan serius di sejumlah wilayah. Dampaknya merembet ke berbagai aspek kehidupan, mulai dari kerusakan lingkungan, ancaman kesehatan akibat paparan asap, hingga terganggunya kegiatan sosial dan ekonomi masyarakat.
Menghadapi situasi tersebut, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) meminta perusahaan anggotanya aktif membantu upaya pengendalian kebakaran. Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono menyampaikan keprihatinannya atas dampak karhutla yang harus ditanggung masyarakat.
Ia mengajak perusahaan anggota di berbagai daerah mengambil peran dalam penanganan kebakaran. Termasuk, membantu warga yang terdampak kabut asap.
“Kami prihatin melihat masyarakat harus menghadapi gangguan kesehatan dan aktivitas akibat kabut asap karhutla,” ujar Eddy dalam keterangannya di Jakarta (4/11).
“Kami mendorong anggota-anggota GAPKI di seluruh daerah membantu penanganan karhutla,” lanjutnya.
Dukungan perusahaan sawit diwujudkan melalui berbagai bentuk bantuan operasional maupun kemanusiaan. Sejumlah perusahaan mengerahkan tenaga pemadam, kendaraan pemadam kebakaran, alat berat, dan helikopter untuk pemadaman dari udara. Bantuan lain diberikan melalui pembagian masker serta penyediaan layanan kesehatan bagi masyarakat.
Di Kalimantan Tengah, keterlibatan perusahaan anggota GAPKI menjadi bagian dari upaya penanggulangan kebakaran yang dikoordinasikan bersama pemerintah. Salah satu wilayah yang mendapat perhatian adalah Palangka Raya, terutama kawasan strategis yang berkaitan dengan pengembangan Kawasan Swasembada Pangan, Energi, dan Air Nasional (KSPEAN).
Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq menjelaskan, penanganan kebakaran di wilayah tersebut melibatkan berbagai unsur, termasuk pemerintah daerah, asosiasi, dan aparat keamanan.
“Untuk di Palangkaraya, kita mengerahkan 175 regu pemadaman kebakaran yang berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi, APHI, dan GAPKI, serta mendapat dukungan penuh dari Kodam dan Polda,” ujar Hanif saat meninjau lokasi di Jalan Talawang Raya, Kota Palangka Raya, Jumat (30/10/2026).
Di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah lainnya, perusahaan sawit turut mendukung patroli udara dan pemadaman menggunakan helikopter water bombing. Kegiatan tersebut antara lain berlangsung di Kabupaten Kotawaringin Timur.
Pada 7 Oktober 2026, salah satu grup perusahaan anggota GAPKI bahkan mengerahkan 1.000 personel, 16 mobil pemadam kebakaran, dan satu helikopter untuk membantu penanganan kebakaran.
Dukungan di lapangan juga mencakup pembangunan sekat bakar, pembuatan sumur bor, serta penyediaan perlengkapan pemadaman bagi Masyarakat Peduli Api (MPA). Perusahaan turut menyediakan posko kesehatan untuk membantu warga yang mengalami gangguan kesehatan akibat asap.
Secara khusus, GAPKI Kalimantan Tengah menyalurkan bantuan sekitar Rp196,2 juta selama periode 21 Agustus–3 Oktober 2026. Bantuan tersebut meliputi dukungan dua regu pemadam, peralatan pemadaman, serta kebutuhan masyarakat berupa masker, susu, dan vitamin.
Perusahaan Sawit Terlibat di Daerah
Keterlibatan anggota GAPKI juga terlihat di Kalimantan Selatan. Pada 11 Oktober 2026, sebanyak 15 tim dari perusahaan anggota diterjunkan untuk membantu pemadaman dan pembasahan lahan di kawasan Jalan Gubernur Syarkawi, Kabupaten Banjar. Untuk mempercepat pekerjaan, setiap perusahaan mendapat tanggung jawab penanganan blok dengan luasan sekitar 30 hektar.
Selain dukungan operasional, GAPKI Kalimantan Selatan membagikan 20.000 masker kepada masyarakat yang terdampak asap. Sebanyak 17.500 masker disalurkan melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), sementara 2.500 masker lainnya diberikan langsung kepada warga.
Di Sumatera Selatan, dukungan perusahaan sawit dilakukan melalui penyediaan sarana pemadaman dan bantuan kesehatan. GAPKI Sumatera Selatan menyerahkan mesin pompa kepada pemerintah provinsi melalui BPBD. Bersama Dinas Perkebunan setempat, organisasi tersebut juga membantu operasional empat posko kesehatan di Palembang.
Bantuan yang disalurkan mencakup 10.000 masker, 20.000 tablet vitamin, 1.600 bungkus mi instan, dan 2.000 gelas air mineral. Berbagai kebutuhan tersebut ditujukan untuk mendukung masyarakat yang menghadapi dampak kabut asap.
Sementara itu, di Kalimantan Barat, GAPKI menyalurkan bantuan konsumsi berupa susu, air mineral, dan buah-buahan kepada petugas serta relawan pemadam kebakaran di Kabupaten Kubu Raya. Bantuan tersebut diharapkan dapat menunjang kebutuhan para petugas selama menjalankan tugas di lapangan.
Antisipasi Dimulai Sebelum Kemarau
Upaya GAPKI dalam pengendalian karhutla telah dimulai sebelum memasuki periode puncak musim kemarau. Pada Maret 2026, organisasi ini menerbitkan surat edaran kepada seluruh anggota agar meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran. Arahan tersebut mencakup penguatan langkah pencegahan, kesiapan penanganan saat kebakaran terjadi, hingga pemulihan setelah kebakaran.
Perusahaan diminta memastikan personel dan sarana pemadaman dalam kondisi siap digunakan. Intensitas patroli juga perlu ditingkatkan, disertai pemantauan titik panas dan identifikasi sumber air yang dapat dimanfaatkan saat terjadi kebakaran.
Perhatian khusus diberikan kepada perusahaan yang mengelola lahan gambut. Mereka diarahkan untuk memantau tinggi muka air tanah serta memastikan infrastruktur pembasahan gambut berfungsi dengan baik guna mengurangi risiko kebakaran.
Dalam penanganan karhutla, GAPKI turut menggarisbawahi pentingnya investigasi terhadap asal-usul api. Penetapan pihak yang bertanggung jawab atas kebakaran perlu mengacu pada hasil penelusuran dan bukti di lapangan. Dengan demikian, keberadaan titik panas di dalam suatu konsesi tidak serta-merta menjadi dasar untuk menyimpulkan perusahaan pemegang konsesi sebagai pihak penyebab kebakaran.
Windi Listianingsih







