Tangerang, Agrina-online.com — Pemuda Tani Indonesia dan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) menggelar Indonesia Agri-Future Forum 2026 di Business Program Area Indogritech, Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City.
Acara tersebut mengusung tema “Digitalisasi Pertanian dan Resiliensi Pekerja Migran Terampil Memperkuat Swasembada Pangan Berkelanjutan”.
Sekretaris Jenderal DPP Pemuda Tani Indonesia, Suroyo menegaskan, swasembada pangan berkelanjutan membutuhkan regenerasi petani yang berjalan seiring dengan modernisasi pertanian.
Regenerasi petani, lanjut Suroyo, harus kokoh didorong oleh peningkatan kesejahteraan pegiat pertanian.
Suroyo menambakan bahwa anak-anak muda harus melihat pertanian sebagai peluang usaha yang dapat dikembangkan melalui teknologi dan inovasi.
“Petani tidak boleh hanya menjadi produsen bahan mentah, tetapi harus mendapatkan nilai ekonomi yang lebih besar dari hasil usahanya, hal itu melatari forum yang diadakan,” tutur Wakil Ketua Umum DPN HKTI Bidang OKK itu, Jumat (6/11).
Hal ini dipertegas, Muhammad Teguh Arrosid, Pemilik P4S Bumi Teduh mengatakan, krisis regenerasi petani di Indonesia menjadi ancaman nyata bagi ketahanan pangan nasional di masa depan.
Tanpa keterlibatan generasi muda, sektor pertanian akan mengalami kelonggaran.
Teguh, praktisi pertanian muda itu memaparkan, sebagian besar petani di Indonesia saat ini berasal dari generasi (X) hingga baby boomer atau sudah lanjut usia.
Banyak dari petani senior tersebut terkendala akses teknologi, seperti tidak memiliki perangkat telepon pintar atau kendaraan operasional, sehingga arus informasi pertanian sering kali terhambat.
Mengutip proyeksi pengamat, ia mengingatkan bahwa jika regenerasi petani tidak segera dilakukan secara masif, Indonesia berisiko menghadapi krisis tenaga kerja pertanian pada tahun 2063.
“Kalau hari ini tidak ada regenerasi, tidak ada petani dari kalangan Gen Z atau milenial, maka kedaerahan dan ketahanan pangan negara akan berada dalam bahaya pada 2063 nanti,” ujar penyuluh swadaya dan penggiat Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) Bunga Teduh itu.
Transformasi Digital dan Smart Farming
Bentuk solusi, P4S Bunga Teduh menginisiasi penerapan pertanian modern berbasis digital (smart farming).
Langkah ini dinilai mampu mengubah stigma negatif anak muda terhadap sektor pertanian yang sering dianggap kotor, berat, dan kurang menjanjikan.
Penerapan teknologi di lahan seluas 1.000 meter persegi tersebut mencakup penggunaan sistem irigasi tetes (irigasi tetes) otomatis, pemanfaatan panel surya untuk efisiensi energi, serta kolaborasi pembuatan Internet of Things (IoT) bersama pelajar setempat.
Selain itu, pemupukan dilakukan secara presisi berdasarkan uji laboratorium tanah (Intelligent Soil) yang diinput melalui aplikasi khusus demi efisiensi biaya dan kebutuhan hara tanaman.
Inovasi tersebut terbukti mendongkrak produktivitas secara signifikan. Berdasarkan data P4S Bunga Teduh, produktivitas tanaman cabai yang sebelumnya menghasilkan 843 kg/1.000 meter² tanpa teknologi.
Sedangkan penerapan teknologi mengalami peningkatan menjadi 1.075 kg atau setara 10,75 ton/ha, sehingga meningkat sekitar 28% setelah menggunakan smart farming .
Di sisi lain, biaya produksi berhasil ditekan dari Rp10 juta menjadi Rp7 juta atau efisiensi sebesar 30%, sementara durasi pengerjaan pengeboran yang sebelumnya memakan waktu dua jam kini dapat diselesaikan dalam waktu setengah jam saja.
Sementara itu, Heru Saoping (Hexsa), CEO Greenpace memotivasi para pelajar dan generasi muda untuk melirik serta menggeluti sektor pertanian modern.
Pentingnya pentingnya membangun ekosistem agribisnis yang terintegrasi dari hulu hingga hilir guna mempertahankan kesejahteraan petani sekaligus meningkatkan daya saing bangsa di kancah internasional.
Heru menjelaskan bahwa perusahaannya menerapkan pendekatan teknologi modern dalam pengelolaan pertanian kelapa.
Langkah ini dimulai dari kontrol Genetic ID (DNA dan RNA) pada benih yang ditanam guna memastikan kualitas hasil panen.
Selain itu, pengelolaan lahan didukung oleh teknologi canggih seperti nanobubble serta sistem pemantauan berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence /AI) yang terintegrasi dari masa tanam hingga panen.
Cara menembus pasar global khususnya Eropa dan Timur Tengah, juga membekali tim serta mitra dengan pelatihan multibahasa, mencakup hingga 25 bahasa asing.
“Kami memastikan dari setiap benih yang kami tanam dimulai dari genetik ID-nya sudah dikontrol. Pertanian kami dipastikan kapan panennya, butuh nutrisi apa, hingga pasarnya kita setel,” ujarnya.
Sebagai bentuk komitmen terhadap pemberdayaan Sumber Daya Manusia (SDM) lokal, perusahaan ini juga membuka kesempatan magang, Praktik Kerja Lapangan (PKL), serta peluang kerja bagi masyarakat sekitar.
Saat ini, saya tengah mempersiapkan 150 SDM di wilayah Lebak, Pandeglang, dan Serang.
Perusahaan juga mendirikan Green Tech Academy, sebuah pusat pelatihan di mana masyarakat dan pelajar dapat belajar serta memberikan pengajaran langsung ilmu pertanian modern, serta berkesempatan mendapatkan sertifikasi resmi.
Tak hanya Heru, Teguh juga memanfaatkan pertanian menjadi tempat menambah ilmu.
Pihaknya juga mengembangkan konsep ekowisata edukasi yang menarik kunjungan ribuan anak muda dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari tingkat TK hingga pelajar.
Pasalanya, selain fokus pada komoditas pangan primer seperti padi dan cabai. P4S Bunga Teduh mengembangkan klaster tanaman bunga telang yang dipanen setiap hari untuk memberikan pemasukan harian dan mingguan bagi masyarakat sekitar.
Model bisnis klaster ini dinilai berhasil memutus ketergantungan petani yang biasanya hanya mengandalkan hasil panen musiman setiap empat bulan sekali.
Bahkan, pemanfaatan tanaman perbatasan seperti bunga matahari tidak hanya berfungsi melindungi tanaman cabai dari hama, tetapi juga menjadi daya tarik wisata swafoto yang mendatangkan pendapatan tambahan sebelum masa panen tiba.
Dalam hal pemasaran, Teguh mendorong anak-anak muda dan kelompok tani (poktan) untuk aktif memanfaatkan media sosial serta platform e-commerce guna memperluas jangkauan pasar B2B ( Business to Business ) langsung ke industri, restoran, dan hotel tanpa melalui rantai distribusi yang panjang.
“Pertanyaan hari ini bukan sekedar tentang rupiah semata, melainkan bagaimana regenerasi dalam merawat pangan bangsa masa kini dan masa depan, berakar pada tradisi namun tetap mengembangkan teknologi,” tutupnya.
Stok BULOG Aman
Sementara itu, sisi hilirnya, Perum BULOG mencatat pencapaian bersejarah dalam pengelolaan cadangan pangan nasional.
Stok beras yang dikelola BULOG saat ini berhasil menyentuh angka 4,6 juta ton, yang merupakan jumlah stok tertinggi sepanjang sejarah berdirinya lembaga pengelola logistik pangan tersebut.
Capaian positif ini didorong oleh terwujudnya penyerapan beras dari produksi dalam negeri yang secara kumulatif telah mencapai 4,2 juta ton.
Angka ini meningkat signifikan dibandingkan dengan pencapaian sebelumnya yang berada di kisaran 3,1 juta ton.
Epi Sulandari, Kepala Divisi Hubungan Kelembagaan Perum BULOG menyampaikan, penghargaan tinggi atas kerja keras seluruh insan BULOG serta dukungan penuh dari para petani lokal.
“Ini adalah perjuangan kita bersama untuk menjaga kelestarian pangan. Dengan ketersediaan stok mencapai 4,6 juta ton, kami memastikan menjangkau masyarakat terhadap kebutuhan beras tetap aman dan pasokan terjamin di seluruh daerah,” ujarnya.
Selain memperkuat cadangan pangan, BULOG juga menekankan pentingnya menjaga stabilitas harga di tingkat petani maupun konsumen.
Langkah-langkah ekologi dan pengolahan yang diukur terus diperhatikan agar saling pasokan beras yang disimpan dan didistribusikan ke berbagai daerah tetap terjaga.
Guna menjaga daya beli masyarakat, BULOG secara aktif menggelar program intervensi harga beras murah di pasaran serta berkolaborasi erat dengan para bupati, pemerintah daerah, dan Badan Pangan Nasional (BPN).
Langkah ini diperkuat dengan skema digitalisasi sistem logistik untuk mengawasi ketepatan waktu serta jalur distribusi beras hingga wilayah kepulauan dan pelosok negeri.
Sabrina Yuniawati







