Tangerang, Agrina-online.com — Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono menegaskan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukanlah program yang menyediakan nutrisi bagi anak-anak sekolah.
Melainkan instrumen strategi untuk mendistorsi stok dan menstabilkan harga pangan demi kesejahteraan para petani serta peternak lokal di seluruh Indonesia.
Dalam pemaparannya, Kepala BGN mengungkapkan bahwa total penerima manfaat mencapai 58 juta anak.
Potensi perputaran ekonomi dari sektor bahan baku seperti (karbohidrat, sayur, buah, dan protein) bernilai sangat luar biasa, yakni berkisar Rp145 triliun sepanjang hari efektif sekolah.
Pemerintah berkomitmen menggunakan program skala besar MBG ini untuk mengintervensi pasar secara positif.
Ketika harga komoditas pertanian atau peternakan di lapangan anjlok, MBG akan hadir sebagai penyerap hasil panen guna mendongkrak kembali harga ke tingkat acuan pemerintah.
Hal ini diharapkan dapat menyudahi fenomena lama di mana petani membuang hasil panen seperti wortel, kentang, sayuran hijau, telur, hingga susu akibat harga yang rusak di pasaran.
“Kita tidak boleh membiarkan peternak ayam dan telur yang sudah bersusah payah, menderita pada harga pakan yang tinggi sementara harga jual telurnya terlalu murah. Ini tidak boleh terjadi lagi,” kata Ketua DPN KHTI itu saat pembukaan NLP & Indogritech, Rabu (4/11).
Sebagai langkah nyata mengatasi anjloknya harga telur saat ini, BGN tengah membangun ekosistem belanja berani ( toko online ).
Melalui sistem ini, setiap program dapur umum MBG diwajibkan membeli pasokan telur langsung dari peternak yang dikelola oleh asosiasi atau koperasi, bukan melalui calo, makelar, ataupun tengkulak.
Langkah digitalisasi ini juga diambil untuk memperketat kontrol pengawasan anggaran, memastikan dapur umum membeli dengan harga acuan pemerintah, sekaligus menutup celah manipulasi keuntungan sepihak yang rawan memicu tindak pidana korupsi.
Kebijakan Baru: Minimal 80% Susu Segar Lokal
Selain komoditas telur, BGN melakukan perdagangan besar pada aturan pasokan susu untuk program MBG.
Pada regulasi sebelumnya, kandungan susu segar lokal hanya diwajibkan sebesar 30%, sementara 70% sisanya menggunakan susu bubuk impor.
Melalui “keajaiban kebijakan” baru di atas secarik kertas, Kepala BGN membalik aturan tersebut.
Susu yang diberikan dalam program MBG kini wajib mengandung minimal 80% susu segar.
Meskipun saat ini produksi susu segar domestik baru mampu mencukupi sekitar 20% kebutuhan nasional.
Peraturan ketat ini sengaja diberlakukan sebagai stimulan ( pemicu ) agar industri peternakan sapi perah lokal tumbuh pesat dan bergairah.
Nilai Tukar Petani Mengalami Kenaikan
Kebijakan yang berpihak pada sektor agraria ini juga diklaim mengatrol Nilai Tukar Petani (NTP) nasional yang kini telah menyentuh angka 131.
Angka ini meningkat signifikan dari periode sebelumnya yang berada di angka 124 lalu bergerak ke 127.
NTP di atas angka 100 menunjukkan bahwa hasil pertanian saat ini tidak hanya cukup untuk membiayai kebutuhan hidup sehari-hari, namun sudah memiliki surplus atau sisa keuntungan bagi para petani.
Meski mengakui bahwa implementasi program berskala masif ini masih menghadapi berbagai kendala operasional di lapangan.
BGN berkomitmen penuh untuk terus membenahi sistem pengadaan. Prosedur yang berjalan mungkin akan terasa lebih ketat dan birokratis.
Namun hal tersebut dinilai krusial demi menjamin program berjalan dengan transparan, akuntabel, dan bebas dari korupsi.
Sabrina Yuniawati







