Palu, Agrina-online.com – PT Daya Guna Lestari (DGL Learning Institute) melaksanakan Pelatihan Implementasi Indonesian Sustainable Palm Oil atau ISPO bagi pekebun kelapa sawit asal Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah. Pelatihan Implementasi ISPO ini diikuti oleh 33 peserta dari Kabupaten Morowali.
Kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan pemahaman pekebun terhadap prinsip-prinsip perkebunan kelapa sawit berkelanjutan, tata kelola kebun yang baik, aspek legalitas, kelembagaan, lingkungan, serta praktik budidaya yang sesuai dengan standar yang berlaku.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pengembangan SDM Perkebunan Tahun 2026 yang dilaksanakan melalui kolaborasi antara Badan Pengelola Dana Perkebunan, Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Republik Indonesia, dan DGL Learning Institute.
Direktur Utama PT Daya Guna Lestari, M. Gema Aliza Putra, menyampaikan bahwa Pelatihan Implementasi ISPO memiliki peran penting dalam mempersiapkan pekebun menghadapi tuntutan tata kelola perkebunan yang semakin baik, tertib, dan berkelanjutan.
“ISPO bukan hanya sekadar kewajiban administratif. ISPO adalah bagian dari upaya membangun tata kelola perkebunan yang lebih baik, lebih tertib, dan lebih berkelanjutan. Pemahaman ini penting agar pekebun semakin siap menghadapi tuntutan perkebunan yang berdaya saing,” katanya dalam keterangan tertulis yang diterima AGRINA, Rabu (17/6).
Menurutnya, keberlanjutan di sektor perkebunan tidak boleh hanya menjadi wacana di tingkat perusahaan besar.
Pekebun juga perlu memahami prinsip-prinsip keberlanjutan agar mampu mengelola kebunnya dengan lebih baik dan sesuai dengan arah pembangunan perkebunan nasional.
“Pekebun harus menjadi bagian penting dari transformasi perkebunan berkelanjutan. Karena itu, pelatihan seperti ini sangat penting untuk membuka pemahaman, memperkuat kemampuan, dan memberikan bekal praktis bagi peserta,” tambahnya.
Dalam rangkaian pelatihan, peserta tidak hanya menerima materi di dalam kelas, tetapi juga mengikuti praktik lapangan secara langsung ke PT Mamuang, bagian dari Astra Agro Lestari.
Kunjungan praktik ini menjadi kesempatan bagi peserta untuk melihat secara lebih nyata bagaimana prinsip-prinsip tata kelola perkebunan, keberlanjutan, dan penerapan standar di sektor kelapa sawit dijalankan di lapangan.
Gema menilai bahwa praktik lapangan menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran. Menurutnya, peserta akan lebih mudah memahami materi ketika dapat melihat langsung contoh penerapan di kebun dan operasional perkebunan.
“Belajar ISPO tidak cukup hanya dari teori. Peserta perlu melihat langsung bagaimana prinsip-prinsip keberlanjutan, tata kelola, dan praktik perkebunan yang baik diterapkan di lapangan. Karena itu, praktik langsung ke PT Mamuang menjadi bagian penting dari proses pembelajaran ini,” jelasnya.
Ia menambahkan, melalui praktik lapangan tersebut peserta dapat memperoleh gambaran yang lebih konkret mengenai pentingnya pencatatan, pengelolaan kebun, aspek lingkungan, keselamatan kerja, serta kepatuhan terhadap prinsip-prinsip keberlanjutan.
Hal ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi peserta untuk mulai memperbaiki tata kelola kebun masing-masing.
“Setiap kebun tentu memiliki kondisi yang berbeda. Tetapi prinsip dasarnya sama, yaitu bagaimana kebun dikelola dengan lebih tertib, produktif, bertanggung jawab, dan berkelanjutan. Itulah pesan utama yang ingin kita dorong melalui pelatihan ini,” ungkap Gema.
Sebagai lembaga pelatihan, DGL Learning Institute menegaskan komitmennya untuk menjaga kualitas pelaksanaan pelatihan.
DGL berupaya menghadirkan proses pembelajaran yang tidak hanya bersifat formal, tetapi juga aplikatif dan dekat dengan kebutuhan peserta di lapangan.
Gema menyampaikan bahwa kualitas pelatihan menjadi perhatian utama DGL Learning Institute.
Menurutnya, pelatihan harus mampu memberikan pemahaman yang jelas, pengalaman belajar yang baik, serta tindak lanjut yang dapat membantu peserta menerapkan ilmu yang telah diperoleh.
“Kami tidak ingin peserta hanya hadir, duduk, mendengar, lalu pulang membawa sertifikat. Kami ingin peserta benar-benar mendapatkan ilmu,” ungkapnya.
Gema menambahkan, “Yang paling penting adalah bagaimana setelah pelatihan ini selesai, ada perubahan cara melihat kebun, perubahan cara bekerja, dan peningkatan kemampuan dalam mengelola usaha perkebunan,” ujarnya.
DGL Learning Institute juga memperkuat proses pembelajaran melalui LMS DGL atau Learning Management System. Melalui LMS tersebut, peserta dapat mengakses materi, memperoleh penguatan pembelajaran, serta mengikuti proses monitoring pasca pelatihan.
Menurut Gema, pelatihan yang baik tidak boleh berhenti pada saat acara penutupan. Setelah pelatihan selesai, peserta tetap perlu didorong untuk menindaklanjuti ilmu yang telah diperoleh, termasuk melalui monitoring dan kajian kebun.
“DGL akan melakukan monitoring pasca pelatihan melalui akun LMS masing-masing peserta. Monitoring ini bukan hanya administratif, tetapi menjadi bagian dari upaya untuk melihat bagaimana ilmu yang diterima dapat ditindaklanjuti dan diterapkan di lapangan,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya kajian kebun sebagai bagian dari proses pembelajaran lanjutan. Kajian kebun diperlukan karena setiap peserta memiliki kondisi kebun yang berbeda, baik dari sisi lahan, pola pemeliharaan, produktivitas, maupun persoalan teknis yang dihadapi.
“Dengan adanya kajian kebun, peserta dapat lebih memahami kondisi nyata di lapangan dan mencari solusi yang sesuai dengan kebutuhan kebunnya. Jadi pelatihan tidak hanya menjadi kegiatan sesaat, tetapi menjadi proses yang berkelanjutan,” tambah Gema.
Pelatihan Implementasi ISPO bagi pekebun Morowali ini diharapkan dapat memberikan manfaat nyata dalam meningkatkan kesadaran peserta terhadap pentingnya tata kelola kebun yang baik dan berkelanjutan.
Selain itu, pelatihan ini juga diharapkan mampu mendorong pekebun untuk lebih siap dalam mengikuti arah kebijakan perkebunan nasional yang menekankan aspek produktivitas, keberlanjutan, dan daya saing.
Gema berharap para peserta tidak hanya mengikuti pelatihan untuk memperoleh sertifikat, tetapi benar-benar menjadikan kegiatan ini sebagai momentum untuk memperbaiki praktik pengelolaan kebun.
“Sertifikat bisa disimpan di map, tetapi ilmu akan hidup di kebun. Yang paling penting adalah bagaimana ilmu yang diperoleh selama pelatihan dapat diterapkan dan membawa perubahan nyata bagi pekebun,” tegasnya.
Melalui kolaborasi antara Badan Pengelola Dana Perkebunan, Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Republik Indonesia, dan DGL Learning Institute.
Program Pengembangan SDM Perkebunan Tahun 2026 diharapkan menjadi bagian dari upaya nasional dalam memperkuat kapasitas sumber daya manusia perkebunan Indonesia.
DGL Learning Institute menilai bahwa penguatan SDM menjadi fondasi penting dalam membangun masa depan perkebunan yang lebih produktif, tertib, dan berkelanjutan.
“Teknologi boleh semakin maju, sistem boleh semakin berkembang, tetapi jika SDM-nya tidak disiapkan, maka kemajuan itu tidak akan berjalan maksimal. Karena itu, kami percaya bahwa penguatan SDM adalah fondasi penting bagi masa depan perkebunan Indonesia,” tutup Gema.
Sabrina Yuniawati







