Peternak perlu waspada terhadap serangan penyakit yang muncul saat ini karena dapat mengakibatkan kerugian besar.
Penyakit Infectious Bronchitis (IB) maupun Newcastle Disease (ND) sama-sama menyebabkan kerugian ekonomi besar pada peternakan ayam karena dapat mempengaruhi produksi telur dan pertumbuhan ayam dengan gelaja utama gangguan pernapasan. Dampak penyakit tersebut di antaranya, penurunan produksi dan kualitas telur serta peningkatan angka kematian ayam. Bagaimana cara menangani penyakit tersebut agar tidak menganggu produksi nasional?
Munculnya Virus IB Strain QX
drh. Roiyadi, Head of Technical Sumatera & West, AHLE National Japfa Group mengatakan, industri unggas sedang dibayangi ancaman senyap virus IB strain QX. Penyakit ini identik dengan gangguan pernapasan, pada ayam petelur (layer). IB jenis ini telah bermetamorfosis menjadi ‘hantu’ yang menyerang sistem reproduksi sehingga menyebabkan penumpukan cairan massif di rongga perut. Yang lebih parahnya lagi, penyakit ini baru terdeteksi saat kerugian produksi sudah membesar.
Roiyadi menambahkan, data pemetaan sampel di lapangan menunjukkan fakta mencengangkan. Virus IB strain QX kini menjadi varian paling dominan di Indonesia. Indikasi pada layer melampaui gejala ngorok biasa serta kerusakan pada ginjal hingga terganggunya produksi telur. Karakteristik unik IB QX pada layer adalah manifestasi klinik yang tertunda, yakni munculnya gejala ayam buncit karena penumpukan cairan (sistik) di oviduk. Penumpukan cairan ini bisa mencapai 1,3 liter.
“IB itu pada dasarnya penyakit pernapasan. Cuma pada ayam layer, orang mengenalnya penyakit ayam buncit. Di Indonesia IB strain QX ini paling banyak beredar, hingga mencakup 90% dari sampel yang masuk ke laboratorium kami. Ironinya, peternak menyadari kondisi perut buncit tersebut pada usia 24 hingga 30 minggu. Diagnosis tersebut sudah terlampau telat. Infeksi kritis yang menyebabkan cacat permanen pada saluran telur (oviduk). Ini diduga kuat terjadi jauh di awal kehidupan ayam,” terangnya saat seminar bertema ‘Respiratory & Reproductive Resilience: Solving Persistent Layer Health Challenges’, Kamis (18/9).
Roiyadi menjelaskan bahwa virus menyerang usia kritis 2-4 minggu, saat imunitas ayam berada di titik nadir sehingga akan memicu gejala terparah di kemudian hari. Sementara itu, infeksi virus yang sama menyerang di atas umur 5 minggu, umumnya hanya menimbulkan gejalan ngorok. Hal ini karena ayam yang lebih tua sudah memiliki dasar kekebalan dari vaksinasi. Solusinya adalah memperkuat pertahanan di tiga minggu pertama kehidupan ayam.
“Penggunaan vaksin homolog disarankan karena itu solusinya. Homolog vaksin dengan booster dua kali. Kegagalan vaksinasi di awal dapat terjadi ketidakcocokan strain atau rendahnya MAB (maternal antibody). Sehingga, virus QX bebas masuk dan merusak oviduk. Upaya pencegahan, termasuk biosekuriti dan penggunaan vaksin perlu perhatian khusus oleh para peternak agar terhindar dari keriguan akibat ayam ‘buncit’ di masa produksi,” tegasnya.
Gawat Darurat Virus Genotipe 7.2 ND
Sementara itu, wabah ND di Indonesia bukan sekadar isu kesehatan hewan biasa, melainkan ancaman serius terhadap ketahanan pangan nasional. Pakar Kesehatan Unggas, Teguh Y Prayitno, Head of Division Animal Health & Livestock Equipment Japfa Group mengatakan, peternak perlu mewaspadai penurunan produksi telur akibat ND yang dapat menggangu stabilitas pasokan pangan negeri ini. Masalah utamanya saat ini berpusat pada ayam petelur dan breeding.
Teguh menegaskan, meski vaksinasi telah dilakukan bertahun-tahun, wabah ND endemis di mana-mana dan masih terus terjadi. Faktor utamanya mulai dari masalah biosekuriti, ketidakcocokan vaksin akibat variasi antigenik, hingga program vaksinasi yang keliru. “Virus ND ini sangat senang menargetkan organ reproduksi, terutama bagian oviduk (saluran telur) seperti magnum dan bulung. Kerusakan jaringan di oviduk inilah yang memicu penurunan produksi telur, seperti munculnya telur dengan albumin encer yang sering disalahartikan sebagai infectious bronchitis,” katanya.
Sayangnya, vaksin yang selama ini digunakan tidaklah mempan. Teguh memaparkan bahwa ada perbedaan mendasar antara virus ND genotipe 7.2 dan vaksin konvensional seperti ND Lasota yang perbedaaanya mencapai 18%. Kunci masalahnya terletak pada ketidakcocokan antara antigen pada vaksin dan virus di lapangan. “Dulu orang targetnya titer antibodi 5-8 itu sudah out of date atau ketinggalan. Padahal ND, titer antibodi seharusnya dipantau dan diusahakan setinggi-tingginya, bahkan bisa mencapai lubang ke 10, 11, atau 12,” urainya.
Teguh menambahkan, antibodi yang dihasilkan vaksin idelanya harus cocok dengan protein hemaglutinin-neuraminidase (HN) dan fusion (F) pada virus di lapangan. Namun, uji netralisasi yang dilakukan menunjukkan hasil mencengangkan. Menggunakan serum vaksin ND Lasota, efektivitas netralisasi terhadap virus ND Lasota mencapai 100%, tetapi terhadap genotipe 7.2 hanya 25%. Vaksin antibodi tinggi tapi virus gen 7 masuk itu cuma 25% bisa ternetralisasi sedangkan 75% lolos. “Tidak bisa menggunakan ND Lasota untuk ND Genotipe 7.2, itu di masa bertelur berkali-kali, itu tidak ada gunanya,” ucapnya.
Teguh menekankan, perlu adanya pertahanan ganda, antibodi humoral yang tinggi dan cocok, ditambah ketahanan mukosal. “Satu-satunya yang bisa mencegah penurunan produksi itu matching vaksin, tidak bisa pakai yang hammerick dan lainnya,” katanya.
Imunitas mukosal (local immunity) sangat penting karena virus ND masuk melalui saluran pernapasan, melalui paru-paru dan kantung udara (ersak). Kantung udara abdominal ini menempel pada oviduk yang menjadi “jalan tol” bagi virus untuk bereplikasi dan menyerang organ reproduksi. Imunitas ini dalam bentuk antibodi IgA sekretori, untuk mencegah invasi mikroba dan menjaga keseimbangan mikrobiota, hanya bisa diberikan melalui vaksin hidup (live).
Sayangnya, vaksin live yang cocok untuk genotipe 7.2 belum tersedia secara umum. Teguh juga menyoroti kelemahan vaksin vektor seperti Herpesvirus of Turkey (HVT) untuk ND, karena disuntik subkutan pada usia 1 hari dan hanya memproduksi antibodi di darah, bukan imunitas mukosal yang dibutuhkan di saluran pernapasan. “Hanya vaksin live yang bisa memberikan proteksi pada oviduk karena virus bukan masuk langsung ke oviduk lewat darah, tetapi lewat ersak. Pentingnya menutup jalur trakea dengan imunitas mukosal yang sesuai,” katanya.
Penanganan Tepat dan Cepat
Kombinasi antara suhu panas dan kelembapan tinggi di Indonesia bukan hanya memicu ketidaknyamanan tapi menjadi pemicu utama atau trigger penyakit pernapasan yang meggerogoti ternak unggas. Para pakar unggas selalu mewanti-wanti untuk tidak mengabaikan manajemen ventilasi yang tepat di kandang tropis, program vaksinasi, dan biosekuriti.
Menurut Ir. R. Syaprudin, SPt, IPU, MM, Business Development Executive Japfa Group, masalah penyakit seperti IB, Avian Influenza (AI), hingga Chronic Resporatory Disease (CRD), pemicunya adalah ketidaknyamanan ayam akibat ventilasi yang buruk. “Dulu ketika menjadi manajer broiler, CRD ini obatnya hanya satu: Neomycin ampicillin. Terserang CRD harus segera dipotong. Pencegahan tidak hanya pada vaksinasi dan biosekuriti, tapi ventilasi ideal, memastikan lingungan nyaman,” katanya.
Syaprudin menekankan, kendala utama dalam kualitas udara di kandang seringkali salah diagnosis. Berulang kali melakukan pengecekan dengan alat detektor untuk oksigen tidak pernah ditemukan kekurangan oksigen di dalam kandang. Namun, masalah rillnya adalah tingginya konsentrasi karbon dioksida (CO2) dan amoniak yang berdampak langsung pada kesehatan ayam. Selain itu, debu juga jarang diperhatikan. Padahal, debu merupakan salah satu pemicu dasar terjadinya penyakit respiratorik.
Hal lainnya yaitu ayam mengalami stres panas (heat stress) menunjukkan indikator jelas, terutama pada performa ayam. “Ketika kepanasan, nafsu makan turun, minumnya banyak. Hanya heat stress, ayam dampaknya ke mana-mana. Lalu, gangguan metabolisme ujung-ujungnya merusak kualitas kerabang telur (eggshell),” ucap Syaprudin.
Dalam kondisi tropis Indonesia, para peternak tidak bisa begitu saja meniru kontroler atau sistem ventilasi yang diadopsi dari Eropa atau Amerika. Syaprudin menyatakan bahwa Indonesia harus menemukan standar sendiri. Menurutnya, ayam yang tidak mati karena heat stress akan tetap menjadi ancaman karena yang bertahan adalah ayam-ayam yang rentan sekali terkena penyakit dan sewaktu-waktu dapat terinfeksi ketika kondisi lingkungan sedikit goyah.
Untuk mengatasi tingginya kelembapan (relative humidity) yang menjadi ciri khas daerah tropis, Syaprudin menegaskan perlunya kompensasi dari sisi ventilasi. Ia menyebut bahwa dalam kondisi lembap, peternak harus mengandalkan kecepatan angin untuk menciptakan wind chill effect yang membuat ayam merasa lebih dingin dan nyaman.
Rumus utama untuk manajemen ventilasi di kandang tropis, menurut Syaprudin, sangat sederhana yaitu harus menjaga keseimbangan antara suhu dengan kualitas udara. Ia menyimpulkan bahwa ayam yang nyaman dan tidak mengalami stres panas akan memiliki performa produksi yang bagus. “Hal ini penting bagi setiap peternak untuk mengevaluasi dan memiliki standar setting ventilasi masing-masing, tidak hanya berpedoman pada volume tetapi terutama pada suhu yang dirasakan ayam,” pungkasnya.
Sabrina Yuniawati dan Arfi Zulta B







