1. Home
  2. »
  3. Inovasi
  4. »
  5. Hasil Samping Ikan Disulap Jadi Minuman Kolagen, Dukung Ekonomi Perempuan…

ILDEX Indonesia 2025: Peluang Investasi Industri Pertanian

Penyelenggaraan ILDEX ke-7 diharapkan banyak membuka kesepakatan bisnis dan investasi di Indonesia.

 

ILDEX Indonesia 2025 kembali digelar, tanda-tanda antusiasme investor tampak jelas. Pameran peternakan ini diikuti lebih dari 270 booth dari 26 negara. Secara umum, banyak stan memamerkan alat-alat petenakan, terutama untuk unggas, babi, dan ruminansia. Hal ini juga menjadi isyarat dorongan agar peternak lokal meninggalkan cara-cara tradisional. Seperti apa jalannya kegiatan ILDEX selama 3 hari?

 

Hari Pertama ILDEX INDONESIA

Pameran ILDEX (International Livestock, Dairy, Meat Processing and Aquaculture Exposition) Indonesia 2025 resmi dibuka Rabu, 17 September di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang Selatan, Banten. Di hari pertama penyelenggaraan, area pameran dipenuhi para pengunjung. Hal ini menunjukkan tingginya antusiasme pelaku industri terhadap perkembangan terbaru di bidang peternakan, kesehatan hewan, pengolahan daging, pertanian berkelanjutan, dan sebagainya.

Pembukaan ILDEX dimeriahkan oleh tokoh penting seperti drh. Agung Suganda, MSi, Dirjen Peternakan & Kesehatan Hewan (PKH), Kementerian Pertanian (Kementan) RI; Prapan Disyatat, Duta Besar Thailand untuk Indonesia; Dr. H. Komarudin, MAP, Asisten Bidang Pemerintahan Umum dan Kesra, Setda mewakili Gubernur Banten; Justin Pau, CEO VNU Exhibitions Asia Pacific; Panadda Kongma, Director of Agribusiness VNU Exhibitions Asia Pacific; dan drh. Fitri Nursanti Poernomo, Direktur PT Permata Kreasi Media (PKM).

Di hari yang sama, ada pula penyelenggaraan pelepasan ekspor produk imbuhan pakan milik PT Nutricell Pacific. Acara ini dihadiri Prof. Dr. Ir. Rachmat Pambudy, MS, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional yang didampingi Dirjen PKH Kementan. Momen ini menjadi bukti nyata kontribusi ILDEX Indonesia dalam memperkuat daya saing produk peternakan Indonesia di pasar global. Para pengunjung yang hadir terlihat mengunjungi setiap booth pertanian dari berbagai negara lalu menikmati seminar untuk menambah ilmu pengetahuan, bahkan membuka peluang kerja sama di bidang pertanian.

Ajang pameran petenakan terbesar di Indonesia ini menjadi barometer optimisme investasi sekaligus panggung kolaborasi antara pelaku usaha, pemerintah, dan akademisi. Agung Suganda membuka pameran dengan menekankan pentingnya sinergi untuk memperkuat kontribusi subsektor peternakan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. PDB subsektor peternakan tahun 2024 mencapai Rp349 triliun. Angka ini berkontribusi 12,54% dari total PDB sektor pertanian yang berjumlah Rp2.791 triliun.

Beberapa komoditas unggulan peternakan yang menyumbang nilai fantastis. Di antaranya daging ayam senilai Rp144,8 triliun, telur ayam Rp192,5 triliun, daging sapi Rp77,68 triliun, dan susu segar Rp19,4 triliun. “Diharapkan ILDEX ke-7 ini dengan tema ‘Kolaborasi Antara Para Pelaku Usaha, Pemerintah, dan Akademisi’ akan semakin diperkuat lagi pertanian nasional, serta harapannya terjadi kesepakatan bisnis dan investasi,” katanya.

 

Investasi

Pada ajang pameran yang berlangsung 17 – 19 September itu, Agung juga mengajak para pelaku usaha berinvestasi di bidang pembibitan, pembiakan, dan budidaya sapi. Pasalnya, bisnis peternakan berperan strategis dalam ketahanan pangan sekaligus mendukung visi Indonesia Emas 2045. “Peternakan bukan hanya soal pangan tapi juga pemberdayaan ekonomi masyarakat pedesaaan. Kami berharap semakin banyak investasi yang hadir untuk memperkuat industri ini,” ucapnya.

Terlebih, ungkap Agung, kebutuhan daging sapi nasional yang sebanyak 770 ribu ton baru terpenuhi dari dalam negeri sebesar 300 ribu ton. Defisit juga terjadi pada susu, yaitu produksinya hanya 1 juta ton dari kebutuhan mencapai 4,7 juta ton.

Dan untuk menjawab persoalan tersebut, Kementan meluncurkan Program Percepatan Peningkatan Produksi Susu dan Daging Nasional (P2SDN). Salah satu langkahnya ialah mendatangkan sejuta ekor sapi perah dan sejuta ekor indukan sapi pedaging untuk periode 2025 – 2029. “Sejauh ini komitmen swasta sudah cukup besar, yakni 998 ribu ekor sapi perah dan 577 ribu ekor sapi pedaging yang akan masuk hingga 2029,” terangnya.

 

Inovasi Terkini

Pameran tahun ini menampilkan teknologi terbaru yang siap menjawab tantangan industri, mulai dari sistem pemantauan kesehatan hewan berbasis sensor digital, nutrisi pakan presisi, teknologi pembibitan unggul, hingga kandang pintar dengan dukungan IoT (internet of things). Di sektor perunggasan, pengunjung disuguhkan inovasi sistem kandang tertutup modern, mesin penetas, vaksin unggas generasi baru, dan solusi biosekuriti yang lebih efisien. Sementara itu, industri pengolahan daging dan susu menampilkan mesin pemotongan mutakhir, teknologi rantai dingin, serta sistem pengemasan inovatif.

Suasana pameran kian hidup dengan interaksi dinamis antara eksibitor dan visitor. Para pengunjung tidak hanya melihat produk tetapi juga mencoba demo teknologi, berdiskusi langsung dengan pakar, serta menjalin peluang bisnis baru. Hal ini menjadikan ILDEX Indonesia 2025 bukan sekadar pameran, melainkan pusat transfer pengetahuan dan kolaborasi internasional.

Justin Pau mengatakan, ILDEX Indonesia 2025 menghadirkan lebih dari 250 perusahaan dari dalam dan luar negeri dengan target lebih dari 10 ribu pengunjung profesional selama 3 hari penyelenggaraan. Acara ini menjadi platform strategis bagi pelaku usaha, peneliti, akademisi, hingga investor untuk memperluas jaringan, mengadopsi teknologi terbaru, serta memperkuat ketahanan pangan nasional.

“Fokus kami adalah menghadirkan teknologi mutakhir yang dapat mendukung transformasi industri peternakan Indonesia. Antusiasme pada hari pertama membuktikan bahwa ILDEX Indonesia 2025 menjadi momentum penting untuk mendorong pertumbuhan industri yang lebih berdaya saing dan berkelanjutan,” ujarnya.

 

Dukungan dan Penutupan

ILDEX Indonesia diselenggarakan oleh Kementerian Pertanian RI bersama Federasi Masyarakat Perunggasan Indonesia (FMPI) dan dikelola VNU Asia Pacific serta PKM. Acara ini juga didukung VIV Worldwide dan co-located dengan Horti Agri Indonesia, menjadikan salah satu pameran agribisnis paling komprehensif di kawasan Asia.

Selain pameran, seminar, workshop, dan program edukasi, di akhir acara ada pemilihan booth best performance, best favorite, best unique booth. Hal ini untuk mendukung dan mengapresiasi para pengusaha, asosiasi, dan lainnya yang tetap eksis dan berpartisipasi di setiap penyelenggaraan. Japfa menjuarai booth kategori best performance, juara kedua Nutricell, dan juara ketiga Big Dutchman.

Menurut Dirut PKM, Ruri Sarasono, volume pengunjung menjadi catatan manis karena jumlahnya jauh lebih besar, 20%-25% lebih banyak dari tahun sebelumnya. Hari pertama pengunjung mencapai 5.300 orang, hari kedua 5.100 orang, dan hari terakhir 3.000 – 4.000 orang.

“Angka ini menjadikan pameran ini paling tinggi selama tujuh kali diselenggarakan. Jadi, saya pikir ILDEX Indonesia saat ini paling sukses, paling banyak dihadiri oleh para pemangku kepentingan maupun masyarakat yang ingin mengetahui lebih jauh tentang pertanian,” ungkapnya saat penutupan ILDEX (19/9).

Di tempat sama, Fitri Nursanti mengatakan, antusiasme peserta dan tingginya peminat ILDEX membuat mereka mengharapkan pameran diselenggarakan kembali tahun depan. Biasanya, pameran diselenggarakan dua tahun sekali.

“Banyak permintaan, karena banyak permintaan baik dari internasional yang mengatakan seandainya ada lagi, insyaallah mereka ingin berpartisipasi. Bahkan sempat mendiskusikan kemungkinan untuk menambah durasi pameran menjadi empat hari meski saat ini hanya tiga hari. Dapat dilihat bahwa ini menunjukkan antusiasme yang tinggi,” pungkasnya.

 

Sabrina Yuniawati

Tag:

Bagikan:

Trending

WhatsApp Image 2026-04-22 at 7.49
Hasil Samping Ikan Disulap Jadi Minuman Kolagen, Dukung Ekonomi Perempuan dan Lingkungan
WhatsApp Image 2026-04-23 at 3.51
Bayu Krisnamurti : Ingatkan Perkuat Sistem Pangan Sayuran Nasional
Konflik Lahan Sawit tak Kunjung Usai
Konflik Lahan Perkebunan Sawit Tak Kunjung Usai
HASI 2026 DITUTUP
HASI 2026 Resmi Ditutup, Sampai Jumpa di Yogyakarta
Industri Sawit, Penopang Utama Neraca Perdagangan
Industri Sawit, Penopang Utama Neraca Perdagangan
Scroll to Top