Sinergi lintas batas teknologi Thailand, solusi pertanian Indonesia.
Pameran perdana Horti & Agri Indonesia 2025 diajang ILDEX Indonesia ke-7 resmi dibuka. AgTech Connext to ASEAN 2025 Demo Day menjadi salah satu kegiatan pembuka yang menarik atensi karena tidak hanya sebagai etalase bisnis melainkan panggung pertukaran inovasi antara Indonesia dan Thailand. Hal ini dikarenakan Indonesia memiliki ambisi besar menjadi ‘Lumbung Pangan Dunia’. Seperti apakah inovasi yang dibawa peserta Thailand untuk solusi pertanian Indonesia?
Startup Pertanian Thailand
Fitri Nursanti Poernomo, Direktur PT Permata Kreasi Media (PKM) mengatakan, sinergi antara VNU Asia Pasifik dan PKM mencerminkan komitmen bersama untuk memajukan industri agribisnis dan peternakan Indonesia dan negara lainnya. “Saya merasa bangga telah dipercaya sebagai koordinator untuk panel penilaian startup pertanian dari Thailand. Kolaborasi ini merupakan inisiatif antara VNU Asia Pasifik dan NIA (National Innovation Agency) Thailand,” ungkapnya saat memberikan sambutan acara Demo Day AgTech Connex Asean 2025, Kab. Tangerang, Banten (17/9).
Fitri menambahkan, acara ini merupakan kesempatan bersama dalam mempelajari startup agribisnis di suatu negara dengan menampilkan inovasi dan solusi agritech berbasis teknologi. Setiap peserta akan menjelaskan cara kerja teknologi yang dikembangkan dan dinilai oleh para dewan juri. Sesi penjurian ini menawarkan peluang berharga untuk memperkuat jaringan inovasi antara Thailand dan Indonesia. “Ini membuka jalan kolaborasi strategis dalam industri agritech dan greentech, meningkatkan daya saing kedua negara melalui berbagai pengetahuan dan kemajuan teknologi,” jelasnya.
Momentum ini bukan sekadar seremonial tapi kesempatan emas untuk mempelajari kiat Thailand dalam mendorong agritech melalui pameran internasional. Fitri berharap, Horti & Agri Indonesia berkembang menjadi pameran bisnis agrifood besar di tahun mendatang, sejalan dengan prioritas pemerintah Indonesia untuk menjadikan Indonesia lumbung pangan dunia dan berkonsep berkelanjutan. “Indonesia berkeinginan untuk menjadi pangan kuat dan abadi. Pameran ini berfungsi sebagai platform vital untuk memajukan kedaulatan pangan nasional,” tegasnya.
Bukan Hanya Panggung Kompetisi
Di tempat yang sama, Montha Kaihirun, Direktur Departemen Promosi Inovasi Startup, NIA Thailand mengatakan, acara ini bukan hanya panggung kompetisi tapi membuka peluang bagi startup, investor, dan industri pertanian di seluruh negara. Teknologi startup merupakan mesin perubahan. Pasalnya, ini merupakan bisnis pertanian yang dibangun dari riset dan inovasi mutakhir serta mampu menyelesaikan beberapa tantangan yang dihadapi dunia saat ini, contohnya ketahanan pangan, perubahan iklim, efisiensi sumber daya, hingga kesejahteraan petani.
“Di bidang pertanian, deep tech dapat mengubah tantangan menjadi peluang. Teknologi ini dapat membantu memproduksi lebih banyak hasil pertanian, mengurangi limbah, dan membangun masa depan yang berkelanjutan. Fokus startup pertanian berbasis deep tech yang dapat memanfaatkan alat, jaringan, dan sumber daya agar lebih cepat dalam bekerja,” urainya.
Pada saat yang sama, lanjut Montha, inovasi dan praktik nyata teknologi ini memastikan petani, pelaku agribisnis, dan mitra paham dalam mengadopsi teknologi baru tersebut. Sehingga, teknologi menjadi bermakna ketika diterapkan di lapangan dan dampak positifnya meningkatkan produktivitas serta menciptakan nilai bisnis yang nyata.
“Tujuan program ini sederhana tapi kuat. Membantu startup memperluas pasar dan mempersiapkan ekspansi internasional, khususnya di kawasan ASEAN. Ini menciptakan peluang nyata untuk pendapatan, kemitraan, dan investasi yang dapat mempercepat kesuksesan. Lalu juga menghubungkan pemerintah, sektor swasta, dan investor untuk membangun ekosistem startup pertanian berkembang melalui inovasi, kolaborasi, dan kepercayaan,” terangnya.
Menurut Montha, penyelenggaraan Demo Day di Indonesia sangat spesial karena merupakan salah satu pasar pertanian paling dinamis dan menjanjikan di Asia, dari sumber daya alamnya yang melimpah, populasi penduduk terbesar, hingga permintaan yang tinggi terhadap pertanian cerdas. Indonesia adalah negara paling tepat dalam solusi agtech (agriculture technology) sehingga dapat memberikan dampak bagi pengguna. “Startup ini adalah kesempatan untuk terhubung dengan peluang bisnis nyata di pasar dengan pertumbuhan tercepat di Asia,” jelasnya.
Ada lima startup yang menjelaskan inovasi dari Thailand, yaitu BIOM CoLtd, Pureplus Bio Agtech CoLtd, Consolutech CoLtd, Algaeba Company Limited, dan Aqua Conquest CoLtd. Lima startup unggulan ini terpilih dari puluhan pendaftar serta mewakili beberapa pemikiran paling cemerlang di bidang agtech. Para startup akan memberikan ilmu pertanian lebih cerdas, berkelanjutan, dan terhubung dengan kehidupan sehari-hari.
Acara ini memberikan kesempatan untuk mendorong pertumbuhan bagi petani, bisnis, dan masyarakat yang terlibat. “Ini lebih dari sekedar kompetisi. Ini adalah perayaan kreativitas, visi, dan keberanian. Kesempatan bagi semua untuk membayangkan masa depan pertanian dan mengubah inovasi menjadi aksi,” ungkap Montha.
Mengenal Lima Startup Terbaik Thailand
Menggali inovasi deep tech Thailand yang tampil di panggung Demo Day dari mikroba hingga inspeksi telur bertenaga AI, hadir lima orang juri terkemuka di Indonesia yang mewakili berbagai institusi, meliputi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dari kalangan peneliti, Universitas Al Azhar Indonesia sebagai akademisi, Edufarmers Internasional dari organisasi nonprofit agrikultur, Minapoli mewakili swasta, dan AGRINA dari media massa.
Berikut lima startup terbaik, pertama BIOM, solusi berbasis mikroba yang untuk tanah, benih, dan tanaman. BIOM merupakan spin-off dari Fakultas Sains, Universitas Chulalongkorn yang berfokus pada pengembangan bioteknologi berkelanjutan dan keamanan di bidang pertanian, pangan, dan lingkungan.
Munculnya BIOM berakar dari pertanian modern menghadapi krisis akibat penggunaan bahan kimia berlebihan selama lebih dari 60 tahun di Thailand. Sehingga, menyebabkan degradasi dan residu pestisida beracun dalam tanah yang berujung pada produktivitas rendah. Solusinya dengan memperkenalkan teknologi biostimulasi mikroba yang dapat memperbaiki kesuburan, kesehatan, dan pemulihan tanah, meningkatkan laju pertumbuhan benih dan akar, serta meningkatkan ketersediaan nutrisi tanaman penting untuk mengangkat pertumbuhan dan hasil panen.
Lalu, ada biokontrol mikroba sebagai formula mikroba alami yang dapat mencegah dan mengendalikan penyakit layu bakteri pada tanaman sehingga secara efektif membasmi patogen tanaman tanpa resistensi obat. Watcharin Phoomkhong, Manager Bisnis BIOM mengklaim, “Hal ini terbukti produktivitas meningkat hingga 17% dan mengurangi biaya produksi hingga 7% pada beberapa komoditas seperti padi, sayuran, dan durian Thailand.”
Startup kedua, Pureplus Bio Agtech menghasilkan BioTree, mikroorganisme cerdas untuk tanah dan ternak. BioTree menawarkan inovasi mikroba yang diaplikasikan pada pertanian, peternakan, dan sistem pengolahan limbah. Inovasi utamanya menggunakan teknologi plasma berenergi rendah untuk ‘menghidupkan’ dan mengoptimalkan mikroba yang telah diisolasi dari sampel galur lokal. Proses ini bersifat non-GMO (nontransgenik). BioTree tidak hanya menjual produk mikroba tetapi juga menawarkan layanan bio-otomatisasi (bioautomation) budidaya mikroba secara cerdas dan stabil di lokasi.
Bio-otomatisasi ini dapat dihubungkan dengan sistem irigasi, hidroponik, atau tangki fermentasi pakan ternak. “Mikroorganisme otomatis yang canggih, solusi mengelola mikroorganisme yang tepat dan efisien. Pantau dan kontrol budidaya serta pelepasan mikroorgnisme dengan mudah melalui smartphone dengan perintah sederhana, sehingga dapat mengoptimalkan budidaya dan menyebarkan mikroorgnisme secara cepat dan akurat,” jelas Nitipol Polsa, CEO Pureplus Bio Agrotech.
Startup ketiga yaitu Consolutech, mesin inspeksi kualitas telur dengan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence, AI). Consolutech fokus pada teknologi AI dan sistem untuk inspeksi kualitas telur. Munculnya teknologi ini berasal dari permasalahan di industri pembibitan (hatchery) karena timbulnya telur retak, kotor, dan lainnya. Dampaknya, para pelaku usaha mengalami kerugian sekitar 20% atau setara ratusan juta dolar AS per bulan di tingkat global.
Sehingga solusi tepatnya adalah produk mesin portabel berbasis AI dan aplikasi Mr. Egg. Kedua solusi ini dapat mendeteksi keretakan permukaan, ketipisan cangkang, kondisi sel udara, hingga kesuburan embrio dalam 5 detik dengan akurasi tinggi. Dampak positif menggunakan teknologi ini diklaim mencegah keretakan pada telur dari 80% menjadi 96%.
Lalu, dukungan smart farm dengan cara mengumpulkan data di cloud (penyimpanan data) untuk analisis dan perencanaan rantai pasok sehingga dapat mengelola produksi telur secara seketika. “Manfaatnya, peningkatan efisiensi produksi dan mengurangi kerugian, perencanaan produksi secara efisien, menghemat biaya produksi hingga 40%. Sistem ini memungkinkan pengambilan keputusan lebih cerdas dalam produksi unggas,” terang Posathip Sathaporn, Cofounder Consolutech.
Stratup Perikanan
Startup keempat dan kelima untuk bidang perikanan, yaitu Aqua Conquest dan Algaeba Company. Aqua Conquest menghasilkan inovasi untuk meningkatkan kesehatan udang, mengurangi kerugian, dan pertumbuhan udang lebih cepat. Produknya bernama MaxBoost, solusi teknologi budidaya udang dengan meningkatkan kekebalan tubuh dan mengendalikan penyakit. Terutama, membantu mencegah penyakit White Feces Syndrome (WFS), White Spot Syndrome Virus (WSSV), and Yellow Head Disease (YHD).
Keunggulan MaxBoost meningkatkan produksi udang dan mengurangi kehilangan hasil sehingga meningkatkan keuntungan. Kedua, pertumbuhan udang lebih cepat dan tingkat keberlangsungan hidup lebih tinggi. Ketiga, menghasilkan udang berkualitas tinggi, aman, dan memenuhi standar kepuasan konsumen. Dampak positifnya, petambak dapat meningkatkan hasil panen. Phattaraporn Manaprempree, Head Communication & Advertising Officer Aqua Conquest mengatakan, “MaxBoost solusi teknologi canggih yang merevolusi budidaya udang dengan meningkatkan kekebalan, mengendalikan penyakit, dan ramah lingkungan.”
Sementara, Algaeba Company yang menawarkan solusi berkaitan dengan pengelolaan kolam dengan menggunakan teknologi AI. Produknya SeaThru Mobile, SeaThru Counter, dan SeaThru Current. SeaThru Mobile memanfaatkan platform untuk menyediakan perhitungan, pengukuran, dan klasifikasi spesies akuatik dengan menggunakan kamera ponsel. SeaThru Counter menawarkan perangkat keras berakurasi tinggi untuk pelaku usaha pembenihan ikan dan udang. Lalu, SeaThru Current menyediakan optimalisasi pemberian pakan dengan teknologi AI melalui pelacakan kebiasaan ikan dan udang secara real time.
Solusi teknologi ini secara spesifik dirancang untuk meningkatkan produktivitas dan mendorong pengelolaan sumber daya yang bertanggung jawab. “Algaeba berinovasi dalam akuakultur presisi dengan SeaThru paltform yaitu Mobile yang memungkinkan perhitungan udang berbasis seluler, Counter perangkat hardware di pembenigan, Sedangkan, Current pengoptimalan pemberian pakan,” jelas Kunn Kangvannsaichol, CEO Algaeba Company Limited.
Dalam sesi penjurian, Algaeba menjadi pemenang the Best Performing AgTech Connext to ASEAN 2025 Demo Day dengan skor tertinggi 1.655 poin. Di urutan berikutnya adalah Pureplus Bio Agtech dengan nilai 1.497 poin, diikuti Consolutech 1.482 poin, BIOM 1.450 poin, dan Aqua Conquest 1.444 poin.
Sabrina Yuniawati







