1. Home
  2. »
  3. Berita
  4. »
  5. Menjelang Ramadan dan Idul Fitri 2025, Pasokan dan Harga Pangan…

Stabilitas Pangan Nasional Terjaga di Tengah Dinamika Global dan Tantangan Iklim

Jakarta, Agrina-online.com. Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global serta potensi fenomena El Nino pada tahun 2026, Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan berbagai langkah strategis untuk menjaga ketahanan pangan nasional. Langkah tersebut dilakukan melalui penguatan produksi, peningkatan cadangan beras, pompanisasi hingga pengembangan varietas adaptif.

Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman menegaskan, masyarakat tidak perlu khawatir terhadap dinamika global maupun potensi gangguan iklim. Pasalnya, produksi pangan nasional saat ini berada di atas kebutuhan konsumsi.

“Produksi beras kita berkisar antara 2,6 sampai 5,7 juta ton per bulan, sementara kebutuhan nasional sekitar 2,5 juta ton per bulan. Artinya produksi kita berada di atas konsumsi. Jadi pangan aman, masyarakat tidak perlu risau,” ujar Mentan Amran di Kantor Kementerian Pertanian, Jumat (6/3/2026).

Dinamika geopolitik global yang memanas memang berpotensi memengaruhi stabilitas perdagangan dan rantai pasok pangan dunia. Namun demikian, menurut Amran, kondisi produksi dan cadangan pangan nasional dinilai cukup kuat untuk menghadapi berbagai potensi gejolak tersebut.

“Pangan kita siap menghadapi berbagai kondisi terburuk, mulai dari El Nino, La Nina, hingga dinamika geopolitik global. Pertanian kita insyaallah tetap aman,” tegasnya.

Saat ini total ketersediaan beras nasional mencapai sekitar 27,99 juta ton yang terdiri dari stok Perum BULOG sebesar 3,76 juta ton, stok masyarakat sekitar 12,50 juta ton, serta standing crop atau padi siap panen sebesar 11,73 juta ton. Dengan jumlah tersebut, cadangan beras nasional diperkirakan mampu mencukupi kebutuhan hingga hampir satu tahun ke depan.

Produksi beras nasional juga menunjukkan tren yang positif. Pada periode Januari hingga Mei 2026, produksi beras tercatat mencapai sekitar 16,92 juta ton. Sementara itu, stok beras pemerintah yang dikelola Perum BULOG diperkirakan dapat terus meningkat hingga menembus 5 juta ton dalam dua bulan ke depan seiring masuknya hasil panen di berbagai daerah.

Dalam upaya memperkuat ketahanan produksi menghadapi perubahan iklim, Mentan Amran menjelaskan, Indonesia telah mengembangkan berbagai varietas unggul spesifik lokasi yang adaptif terhadap kondisi lahan serta tetap memiliki produktivitas tinggi.

Tak hanya untuk lahan kering, ia juga memaparkan terobosan pengembangan padi di lahan rawa. Indonesia memiliki potensi lahan rawa mineral sekitar 1 juta hektar yang dapat dimanfaatkan melalui penggunaan varietas unggul padi Inpara. Selain itu, terdapat pula varietas Biosalin yang mampu ditanam pada lahan pesisir yang terdampak intrusi air laut.

Menghadapi kondisi kekeringan, pemerintah juga mengembangkan padi gogo. Yakni, padi yang dibudidayakan di lahan kering dan mampu tumbuh dengan kebutuhan air yang lebih sedikit dibandingkan padi sawah.

Untuk menghadapi potensi kekeringan akibat perubahan iklim, Kementan telah menjalankan berbagai langkah adaptasi iklim. Salah satunya, melalui program pompanisasi lahan pertanian yang sebelumnya telah mencakup sekitar 1,2 juta hektar dan pada tahun ini diperluas lagi hingga 1 juta hektar tambahan.

“Potensi kekeringan sudah kita antisipasi sejak awal melalui pompanisasi agar produksi tetap terjaga,” ungkapnya.

Di luar komoditas beras, produksi pangan lain seperti ayam dan telur juga berada dalam kondisi surplus. Ketersediaan pupuk juga dipastikan aman dengan harga yang tercatat turun sekitar 20 persen sehingga mendorong petani untuk terus meningkatkan produksi.

Dengan berbagai langkah tersebut, pemerintah optimistis stabilitas pangan nasional tetap terjaga di tengah dinamika global maupun potensi tantangan iklim.

 

Windi Listianingsih

Tag:

Bagikan:

Trending

WhatsApp Image 2026-06-24 at 12.53
BRIN Galang Kolaborasi Global untuk Pertanian Rendah Emisi
pelatihan sdm sawit
Kejar Produktivitas, Pekebun Sawit Dibekali Budidaya dan ISPO
IMG-20260623-WA0031
Produktivitas Sawit Rakyat Masih Tertinggal, SDM Pekebun Jadi Kunci
Pupuk Indonesia hanya melaksanakan ekspor berdasarkan penugasan resmi pemerintah
Transformasi Tata Kelola dan Efisiensi, Pupuk Indonesia Kembali Masuk Fortune Southeast Asia 500
AEO KBI 170626
Raih Sertifikasi AEO, Kona Bay Indonesia Tegaskan Komitmen Standar Perdagangan Internasional
Scroll to Top