Jakarta, Agrina-online.com. Pemerintah, melalui kolaborasi antara Kementerian Pertanian, Badan Pangan Nasional, dan Perum Bulog, meluncurkan program stabilisasi harga pangan dengan mendistribusikan jagung pakan untuk peternak mandiri dan kecil.
Langkah ini diambil untuk menjaga stabilitas harga di tingkat peternak dan petani, serta mencegah fluktuasi harga yang ekstrem. Program ini merupakan implementasi langsung dari arahan Presiden Prabowo yang memprioritaskan kesejahteraan petani dan peternak.
Kepala Badan Pangan Nasional, Arief Prasetyo Adi menegaskan, komitmen pemerintah dalam menjaga ekosistem pangan dari hulu hingga hilir. Arief menegaskan, saat harga jagung tinggi, pemerintah akan membantu peternak.
Sebaliknya, saat harga rendah pemerintah akan membantu petani.
Pasalnya sangat penting menjaga harga jagung agar tidak terlalu tinggi. Sehingga peternak tidak kesulitan dalam memperoleh jagung pakan. “Namun tidak terlalu rendah juga ditingkat petani agar petani tetap menanam jagung. Intinya hulu dan hilir tetap dirangkul,” ujarnya, Rabu (24/9).
Pada saat ini, pemerintah menyiapkan 52.400 ton jagung pakan dan siap didistribusikan dengan anggaran sebesar Rp78 miliar. Harga dijual ke peternak sebesar Rp5.500/kg. Harga ini sudah ditetapkan pemerintah untuk memastikan petani mendapatkan untung.
Arief menambahkan, harga jagung di tingkat petani sebelumnya hanya Rp3.150/kg, berhasil naik menjadi Rp4.500/kg, lalu NFA menetapkan skema harga Rp5.500/kg. “Harga ini mendapatkan sambutan dari para peternak, khususnya di Jawa Timur. Pasalnya harga jagung sempat menyentuh Rp6.700/kg-Rp6.800/kg. bantuan ini dapat menstabilkan harga dan membantu peternak kecil,” urainya.
Arief berpesan kepada Perum BULOG dan seluruh pihak terkait bahwa program ini berjalan lancar dan mencegah adanya penyelewengan. Pasalnya program stabilisasi ini akan berlangsung hingga Desember.
Sementara itu, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), Agung, mengapresiasi peluncuran program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) untuk jagung pakan.
Program ini diharapkan dapat menstabilkan harga jagung yang sempat mengalami gejolak, serta menjaga harga telur dan daging ayam di pasaran. “Peluncuran SPHP Jagung ini sudah lama dinantikan. Terus terang, ini yang kami tunggu-tunggu,” ujarnya.
Agung menjelaskan, program ini akan menggelontorkan 52.400 ton jagung dengan harga Rp 5.500/kg secara psikologis memengaruhi harga pasar dan membuat harga jagung kembali stabil. “Saya yakin besok harga jagung harus stabil lagi karena sudah digelontorkan tadi, akan digelontorkan 52.400 ton dengan harga 5.500/kg,” katanya.
Program ini akan menyasar 2.109 peternak yang telah diverifikasi. Namun, Agung mengakui bahwa proses verifikasi data peternak masih menjadi tantangan. Ia menemukan adanya data ganda saat verifikasi berjenjang.
“Ini PR ke depan, agar prosesnya cepat. Jadi bukannya teman-teman Bapanas atau Bulog lambat, tetapi memang dari penyiapan data peternaknya pun juga membutuhkan waktu,” katanya.
Lebih lanjut, Agung menekankan pentingnya program ini untuk menjaga stabilitas harga telur dan daging ayam. Meskipun harga di tingkat konsumen sempat mengalami kenaikan di beberapa daerah, harga di tingkat peternak masih di bawah harga acuan.
“Dengan adanya penyaluran SPHP ini, sangat mempengaruhi harga bukan hanya harga jagung di tingkat peternak, tetapi juga harga telur maupun ayam hidup di tingkat peternak, dan juga berpengaruh pada harga telur dan ayam tingkat konsumen,” ujarnya.
Pemerintah melalui Perum Bulog akan mendistribusikan Cadangan Jagung Pemerintah (CJP) kepada para peternak. Program ini bertujuan untuk menstabilkan harga jagung di tengah pasokan yang menipis dan harga yang mulai merangkak naik, tanpa mematikan ruang gerak petani.
Ditempat terpisah, Dirut Perum BULOG, Ahmad Rizal Ramdhani menegaskan, BULOG siap dengan penugasan selanjutnya yaitu penyaluran SPHP jagung pakan. BULOG akan tetap memperhatikan kualitas jagung sebelum melakukan distribusi kepada peternak. “BULOG akan maksimalkan dalam penyaluran agar harga jagung kembali normal ditingkat peternak,” ungkapnya.
Ketua Koperasi Peternak Unggas Sejahtera Jawa Tengah, Suwadi menyambut baik program ini. Menurutnya, distribusi CJP merupakan momen yang tepat karena pasokan jagung saat ini sedang berkurang dan harganya cukup tinggi.
Suwadi meyakinkan bahwa program CJP ini tidak akan merugikan petani, melainkan justru menstabilkan kebutuhan pakan para peternak. “Kedatangan CJP ini adalah untuk menstabilkan kebutuhan para peternak,” ujar Suwadi.
Suwadi menekankan bahwa petani dan peternak adalah satu kesatuan yang sama-sama dilindungi oleh pemerintah. Ia berterima kasih kepada pemerintah dan berharap Bulog dapat segera menyiapkan jagung sesuai kebutuhan yang telah ditetapkan.
Sabrina Yuniawati







