1. Home
  2. »
  3. Berita
  4. »
  5. Hadapi Gejolak Global, Petrokimia Gresik Perkuat Strategis

Shrimp Club Indonesia dan Chef Bobon Santoso Bagi-Bagi Udang Setengah Ton

Shrimp Club Indonesia Bersama Chef Bobon Santoso Bagi-Bagi Udang Setengah Ton

Jakarta, Agrina-online.com  Shrimp Club Indonesia (SCI) atau Perhimpunan Petambak Udang Indonesia (PPUI) bersama Chef Bobon Santoso menggelar acara masak dan makan besar bertema  “Berbagi Udang Setengah Ton Bersama Bobon Santoso” di kawasan Palmerah (7/10).

Udang yang dimasak Chef Rakyat Indonesia tersebut, hasil sumbangan para petambak anggota SCI dan dibagikan kepada sekitar 600-an warga.

Menurut Bobon, acara  ini merupakan bentuk kepedulian petambak terhadap keresahan publik terkait isu udang asal Indonesia yang terdeteksi Cesium-137 (Cs-137) di Amerika Serikat (AS).

Meski SCI telah menegaskan bahwa kasus tersebut bersifat kasuistik dan tidak mencerminkan kondisi udang nasional secara keseluruhan, masyarakat tetap perlu diyakinkan kembali bahwa udang Indonesia aman untuk dikonsumsi.

“Bukti udang Indonesia aman dari radioaktif, saya menginisiasi campaignUdang Indonesia Aman, Mari makan Udang’ dengan meminta asosiasi petambak udang SCI menyediakan 500 kg udang dari beberapa tambak untuk dimasak dan dinikmati bersama masyarakat,” ujarnya.

Bobon turut memantau perkembangan kasus Cs-137 ini. Menurutnya, pemerintah memang sudah melakukan proses dekontaminasi paparan radioaktif tersebut di kawasan industri Cikande.

Namun tantangan besar selanjutnya adalah bagaimana meyakinkan publik, khususnya pasar ekspor, bahwa udang Indonesia 100% aman.

“Kami mengundang Pak Kusnanto, dosen Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika UGM, untuk memeriksa dengan alat Surveymeter radiasi. Dan hasil pengukurannya tidak ditemukan adanya zat atau unsur radioaktif pada udang Indonesia,” ungkapnya.

Melalui inisiatif tersebut, Bobon berharap pemerintah dapat mengambil langkah cepat dalam menstabilkan kembali industri udang dan meminimalkan dampak krisis terhadap sektor yang menjadi sumber penghidupan bagi sekitar satu juta orang.

Sebagai informasi, udang merupakan penyumbang devisa terbesar di sektor perikanan Indonesia, dengan nilai ekspor mencapai USD 1,7 miliar pada 2024 serta menyerap lebih dari satu juta tenaga kerja, baik langsung maupun tidak langsung.

 

Pemerintah Harus Gerak Cepat

Kolaborasi SCI dengan Chef sekaligus Youtuber Bobon Santoso, merupakan bukti bahwa petambak, melalui asosiasi, bekerja keras untuk mengedukasi masyarakat bahwa udang Indonesia aman dikonsumsi.

Acara makan udang gratis ini juga merupakan cara para petambak menjaga agar industri udang tetap hidup, sektor yang tidak hanya menghidupi pelaku usaha dan pekerjanya, tetapi juga memberi kontribusi besar bagi perekonomian nasional.

Oleh karena itu, Ketua Umum SCI Prof. Andi Tamsil kembali mendorong pemerintah untuk bekerja secara cepat dan tepat. SCI mendukung langkah perbaikan (corrective) dari pemerintah, sesuai dengan permintaan dari FDA AS.

Hal ini untuk meningkatkan keamanan pangan melalui Sertifikat dari Pemerintah (Certify Entity/CE) pada setiap kontainer yang akan diekspor ke AS, khususnya untuk udang yang diekspor dari Pulau Jawa dan Lampung.

Sertifikat pengiriman CE ini yang akan menjamin udang yang diekspor bebas kontaminasi Cs-137.

Permintaan terbaru dari FDA tersebut menjadi kabar baik karena AS tetap membuka pasar untuk udang asal Indonesia.

Tetapi tantangan besarnya, pemerintah harus bekerja keras dan bekerja cepat dalam memenuhi permintaan FDA, yang harus diimplementasikan mulai 31 Oktober 2025, tersebut.

“Kita hanya memiliki waktu tiga minggu untuk memastikan pemerintah menyiapkan seluruh protokol yang diperlukan agar setiap kontainer udang yang dikirim ke Amerika Serikat dapat disertai sertifikat pengiriman CE,” katanya.

Selain itu, lanjut Andi perlu memastikan lembaga berwenang yang menerbitkan sertifikat tersebut mampu mengeluarkan lebih dari 50 sertifikat per hari, mengingat pelabuhan di Lampung dan Jawa mengirim sekitar 1.000 kontainer setiap bulannya.

Andi mengingatkan bahwa dalam masa menyiapkan sistem baru tersebut, pemerintah sebaiknya tidak menghimbau para pelaku usaha Unit Pengolahan Ikan (UPI) di bagian hilir untuk menghentikan sementara produksi mereka.

Menurut Andi, pemerintah seharusnya bisa menyiapkan sistem baru tersebut secara cepat dan paralel tanpa menghentikan produksi di bagian hilir. Sebab hal itu akan semakin meningkatkan kepanikan dan ketidakpastian penyerapan udang di para petambak.

Andi menekankan bahwa SCI berkomitmen untuk terus berkolaborasi dengan berbagai pihak—pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat—untuk memastikan keberlanjutan industri udang nasional yang aman, sehat, dan berdaya saing global.

 

Sabrina Yuniawati

Tag:

Bagikan:

Trending

Sinergi HASI & HIPKASI Kembali Menggelar Diskusi Tentang Produktivitas Sawit
Sinergi HASI & HIPKASI Kembali Menggelar Diskusi Tentang Produktivitas Sawit
Menakar Mutu dalam Selembar Label
Menakar Mutu Dalam Selembar Label
WhatsApp Image 2026-03-10 at 10.08
Hadapi Gejolak Global, Petrokimia Gresik Perkuat Strategis
Buku Panduan Budi Daya Ayam Petelur Cage-Free Skala Komersial Pertama Diterbitkan
Buku Panduan Budi Daya Ayam Petelur Cage-Free Skala Komersial
BULOG Percepat Penyaluran Bantuan Pangan ke Wilayah Kepulauan Pasca Idulfitri
BULOG Percepat Penyaluran Bantuan Pangan ke Wilayah Kepulauan Seribu
Scroll to Top