1. Home
  2. »
  3. Headline Agrina
  4. »
  5. Petani NTB Nikmati Kemudahan Akses Pupuk Subsidi

Revolusi Putih dari Sapi Merah Putih

Membangun karakter bangsa yang sehat dan kuat dengan konsumsi susu setiap hari.

 

Kebutuhan susu nasional pada 2024 mencapai 4,7 juta ton, sementara produksi dalam negeri hanya 1 juta ton atau 20% sehingga 80% dipenuhi dari impor. Hal  ini menjadi tantangan besar bagi peternak rakyat di Indonesia. PT Moosa Genetika Farmindo bersama IPB University dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) meluncurkan Sapi Merah Putih. Sebuah inisiatif ambisius untuk mengatasi masalah susu dengan cara pendekatan genetik. Sapi ini diharapkan bisa menjadi kunci meningkatkan produktivitas susu nasional dan membantu peternak lokal.

 

Swasembada Susu

Presiden Prabowo Subianto pernah mengusulkan gerakan ‘Revolusi Putih’ pada 2017, yaitu membangun karakter bangsa yang sehat dan kuat. Salah satu caranya menjadikan susu sebagai konsumsi rakyat Indonesia setiap hari. Kata putih dalam ‘Revolusi Putih’ identik dengan warna susu. Gerakan ini sejalan dengan pemerintahan saat ini, yaitu swasembada susu menuju Indonesia Emas 2045. Diharapkan anak-anak Indonesia sebagai generasi penerus yang kuat dan cerdas dalam mengemban amanat bangsa di masa mendatang.

Pemerintah menargetkan swasembada susu pada 2029 melalui Peta Jalan Pemenuhan Susu Segar 2025-2029 sebagai bagian dari memperkuat Program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta mengurangi ketergantungan impor. Hal ini dipertegas oleh Rachmat Pambudy, Menteri Bapennas yang mengatakan, program perencanaan Bapennas yakni ‘Revolusi Putih’ sebuah cita-cita lama yang kini dapat terwujud. Salah satu caranya menghasilkan sapi merah putih.

Kolaborasi antara sektor swasta, lembaga pendidikan, dan institusi pemerintah ini diharapkan bisa menjadi solusi meningkatkan produksi susu dalam negeri dan mewujudkan swasembada. Rachmat menambahkan, produksi sapi Merah Putih terinspirasi dari program para senior pada 1995. Saat itu Indonesia melahirkan 50 ekor sapi identik di hari kemerdekaan ke-50 tahun. Hal ini memicu pemikiran untuk melanjutkan ide para senior untuk melahirkan sapi pada hari kemerdekaan Indonesia.

“Selama dua tahun terakhir, ide ini terus dimatangkan serta secara berkala melaporkan kepada Presiden Prabowo. Ide Presiden membangun revolusi putih hanya bisa terwujud dengan bibit sapi baru. Target awal melahirkan 80 ekor sapi bertepatan dengan 80 tahun kemerdekaan Indonesia.  Namun lahir 120 sapi, tapi yang dipilih 80 ekor sapi ditetapkan sebagai Sapi Merah Putih,” ujarnya saat peluncuran Program Sapi Merah Putih di Lapangan Banteng, Jakarta (30/8).

Rachmat menambahkan, kunci utama pengembangan sapi Merah Putih yaitu ekosistem yang solid. Pentingnya berbagai pihak mendukung program, di antaranya PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) berani mengambil risiko untuk membiayai proyek tersebut. Pasalnya, kualitas sapi yang bagus akan mengutungkan para pemberi modal atau investor serta memperkuat ekosistem.  “Inovasi sapi Merah Putih bukan hanya penting untuk sektor peternakan dan pangan, tetapi untuk mendorong Science, Technology, Engineering, dan Mathematics (STEM). Program ini bebas dari APBN karena sepenuhnya didukung oleh BRI,” ungkapnya.

 

Pendekatan Genetik Kunci Peningkatan Produktivitas

Deddy F. Kurniawan,  Direktur Utama PT Moosa Genetika Farmindo mengatakan, 80% sapi perah Indonesia dipelihara oleh peternak rakyat dan produktivitasnya rendah. “Indonesia impor susu 80%, total 80% dikelola peternak rakyat, dan hari ini mempersembahkan 80 ekor sapi Merah Putih. Angka 80 ini seolah telah diatur oleh Yang Maha Kuasa dan menjadi momentum luar biasa untuk mengatasi kebutuhan susu yang sudah berlangsung puluhan tahun,” tegasnya.

Deddy menjelaskan bahwa terbentuknya PT Moosa merupakan diaspora luar negeri yang kembali ke negaranya untuk berkarya di Tanah Air. “Saya menghabiskan beberapa tahun di New Zealand. Pendiri lainnya seperti Dr. Ivan Rizal Sini dari Australia, Prof. drh. Arief Boediono dari Jepang, Prof. Sigit Prastowo dari Jerman, dan Irawan Mulyadi dari Australia,” urai CEO Dairy Pro Indonesia itu.

Menurut Deddy, perbaikan manajeman peternakan sangatlah penting, salah satunya teknologi genetik yang memegang peran signifikan untuk meningkatkan produksi. Tantangan manajemen peternakan seperti teknologi genetik, kandang, dan pakan mengalami stagnasi dalam 25 tahun terakhir. Padahal, teknologi genetik telah berkembang pesat di lapangan.

“Sebelum 25 tahun, setiap sapi membutuhkan waktu paling tidak puluhan tahun dan paling cepat tujuh tahun untuk bisa mengetahui tingkat produktivitas dan membuktikan bagus tidaknya seekor sapi. Namun dengan adanya teknologi genomik, potensi genetik seekor sapi bisa diketahui dalam waktu kurang dari 2 minggu dengan akurasi tinggi. Teknologi revolusioner ini digunakan untuk menciptakan sapi Merah Putih,” rinci alumnus IPB jurusan kedokteran hewan ini.

Deddy menyampaikan, sapi Merah Putih dikembangkan dengan referensi genetik dari 80% sapi perah rakyat yang telah beradaptasi dengan lingkuangan tropis Indonesia. Empat karakter utama target pengembangan yaitu pertama, produktivitas. Sapi ditargetkan memiliki produktivitas lebih tinggi dari rata-rata sapi perah di Indonesia yang saat ini hanya sekitar 3.500 liter/ekor/tahun.

Kedua, reproduktivitas. Sapi Merah Putih diharapkan memiliki kemampuan reproduksi yang baik untuk menghasilkan anak-anak berikutnya. Ketiga, ketahanan panas. Sapi ini dikembangkan agar tahan terhadap suhu dan kembapan tinggi di iklim tropis. Keempat, imunitas tinggi. Karakter ini penting untuk meningkatkan ketahanan sapi terhadap penyakit seperti mastitis yang menjadi momok di kalangan peternak sapi perah.

Layanan unggulan dan teknologi yang digunakan PT Moosa yaitu DNA testing dan genomic selection; Moosa Breeding Solution (MBS); inseminasi buatan, in vitro fertilization (IVF), dan riset inovasi genetika terapan; bioinformatika dan platform digital; Sooki Gelato dan Edufarm. Sehingga, perusahaan menciptakan standar baru untuk sapi perah Indonesia atau disebut Indonesia Genomic Breeding Value. “Standar ini memungkinkan penilaian genetik yang jelas sehingga peternak memiliki patokan pasti untuk memperbaiki kualitas sapi mereka,” katanya.

Deddy berharap, inisiatif ini dapat memberikan harapan baru bagi peternak dan menciptakan karakter sapi perah ideal di masa depan. Ia menekankan pentingnya kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk peternak, koperasi, dan universitas untuk terus mengembangkan sapi Merah Putih di Indonesia.

Pada kesempatan tersebut dilakukan juga penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara PT Moosa dan PT Nusa Farm Indonesia terkait pemeliharaan dan pengembangan pakan, serta kerja sama dengan BRI untuk mendukung pembiayaan program. “Mudah-mudahan ini jadi inspirasi kita semuanya,” tutupnya.

 

Sabrina Yuniawati

Tag:

Bagikan:

Trending

PTPN IV PalmCo Siap Jadi Lokasi Implementasi Serangga Penyerbuk Asal Tanzania
PTPN IV PalmCo Siap Jadi Lokasi Implementasi Serangga Penyerbuk Tanzania
Serangga Penyerbuk Dilepas, Harapan Baru Masa Depan Sawit Indonesia
Serangga Penyerbuk Dilepas, Harapan Baru Masa Depan Sawit Indonesia
Kementan Fasilitasi Komitmen Pelaku Usaha Jaga Harga Kedelai
Kementan Fasilitasi Komitmen Pelaku Usaha Jaga Harga Kedelai
KKP Hentikan Sementara Operasional UPI Denpasar
KKP Hentikan Operasional UPI Denpasar
3 Jurus Mentan Amran Benahi Gula Nasional
3 Jurus Mentan Amran Benahi Gula Nasional
Scroll to Top