1. Home
  2. »
  3. Berita
  4. »
  5. Ifah Syarifah, Menyelisik Inovasi Daun Teh Arafa

Membangun Ekosistem Perunggasan Modern

Kelestarian lingkungan menjadi bagian tak terpisahkan dari strategi pembangunan perunggasan.

 

Industri perunggasan nasional tengah berada di persimpangan dinamika global yang menuntut penyesuaian. Menurut Harry Suhada, Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH), Kementerian Pertanian (Kementan), hal ini bukan sebatas aspek produktivitas, tetapi mencakup efisiensi, keberlanjutan, dan memperhatikan dampak lingkungan.

 

Tantangan Baru

“Saat ini perunggasan nasional menghadapi tantangan baru,” ungkap Harry. Antara lain, volatilitas harga jagung sebagai bahan baku utama pakan. Kedua, keseimbangan kemitraan antara integrator dan peternak mandiri sebagai amanah Permentan No. 10 Tahun 2024. Ketiga, tuntutan sustainability (keberlanjutan), termasuk isu kesejahteraan hewan dan jejak karbon. Keempat, kedaulatan pangan nasional di mana perunggasan naisonal sebagai penyangga utama protein hewani Indonesia.

Tantangan global seperti perubahan iklim, gejolak harga pakan, penyakit unggas, serta perubahan pola konsumsi juga menuntut kerja dengan cara tak biasa. Kelestarian lingkungan pun menjadi bagian tak terpisahkan dari strategi pembangunan perunggasan. Upaya mitigasi terhadap emisi gas rumah kaca, pengelolaan limbah ternak menjadi energi, efisiensi penggunaan air, serta pemanfaatan teknologi ramah lingkungan akan menjadi kunci menjaga keseimbangan antara peningkatan produktivitas dengan kualitas ekosistem. Sehingga, sektor perunggasan tetap tumbuh tanpa mengorbankan kualitas lingkungan hidup bagi generasi mendatang.

“Kita perlu memperkuat sistem produksi melalui efisiensi dan penggunaan sumber daya. Kemudian, adaptif terhadap teknologi digital dan bioteknologi, ramah lingkungan, dan responsif terhadap kesejahteraan hewan dan global,” imbuhnya pada seminar ‘Manajemen Lingkungan Berkelanjutan dan Teknologi Adaptif untuk Unggas Produktif di Era Modern’, Kamis (18/9).

Dalam rangka mewujudkan sistem perunggasan nasional yang lebih maju dan berdaya saing, Ditjen PKH mengakselerasi beberapa kebijakan. Pertama, penguatan basis data perunggasan nasional berbasis teknologi informasi untuk transparansi produksi dan distribusi. Kedua, pengembangan kemitraan berkeadilan antara peternak rakyat dan pelaku usaha besar.

Ketiga, fasilitasi bioteknologi reproduksi dan nutrisi unggas guna meningkatkan efisiensi produksi tersebut. Keempat, program bebas penyakit strategis unggas menuju pengakuan internasional. Kelima, dukungan riset dan pengembangan teknologi hijau dalam manajemen kandang dan emisi karbon.

Namun, pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Karena itu, Harry mengajak lembaga atau asosiasi ilmiah seperti MIPI (Masyarakat Ilmu Perunggasan Indonesia), industri, dan peternak untuk turut serta membangun ekosistem perunggasan modern. “Masa depan perunggasan Indonesia ada di tangan kita semua. Mari kita jadikan sistem perunggasan sebagai model pertanian modern yang produktif dan efisien, berkeadilan bagi peternak kecil berbasis inovasi teknologi serta berkelanjutan bagi lingkungan hidup dan generasi mendatang,” ajaknya.

 

Keberlanjutan

Membahas keberlanjutan, Slamet Widodo, Head of Commercial Production PT Ciomas Adisatwa, JAPFA Group menyebut ada tiga pilar: ekonomi, sosial, dan lingkungan (environmental). “Tiga hal ini tidak bisa dilepaskan satu sama lain ketika kita bicara sustainability,” ungkapnya.

Pilar ekonomi terkait bagaimana bisnis bertumbuh, memperoleh pendapatan, lapangan kerja bisa terserap, dan usaha berkelanjutan. Pilar sosial adalah bagaimana kita peduli dengan kesehatan manusia, peningkatan standar hidup karyawan, pendidikan dan kesehatan pekerja, hingga kondisi masyarakat di sekitar bisnis berada.

Pilar lingkungan ialah bagaimana sebuah industri, baik itu perusahaan besar maupun perusahaan kecil, peduli kepada lingkungan. “Bagaimana bisnis itu tidak boleh mengesampingkan lingkungan dan alam sekitar. Karena sekali kita mengabaikan alam sekitar, maka pada akhirnya juga akan mengganggu bisnis kita,” terangnya.

Industri peternakan unggas pasti menghasilkan limbah. Karena itu, ulas Slamet, pikirkan cara mengelola limbah agar tidak mencemari lingkungan. “Yang terkecil sekali, bagaimana kita bisa menggunakan kembali limbah atau plastik yang kita punya. Itu bagian dari kepedulian kita terhadap lingkungan,” lanjutnya.

Di sisi lain, Slamet menambahkan, terjadi perubahan perilaku konsumen antara generasi baby boomers, X, Y, dan Z. “Tiap generasi itu punya tipikal yang berbeda-beda. Generasi Z itu sudah lahir pada posisi enak. Dan itu mempengaruhi kehidupan mereka,” ungkapnya.

Dengan perkembangan teknologi dan informasi yang pesat, generasi Z sangat melek pengetahuan dan teknologi. Kemudian, generasi ini juga sangat peduli dengan sosial. Pun demikian caranya membeli suatu produk. Saat membeli satu produk di platform online, yang dilihat pertama adalah ulasannya (review). “Mesti review. Review-nya dilihat, review-nya gimana, komentarnya orang-orang gimana. Itu mempengaruhi cara mereka memutuskan. Dan itu penting,” ucapnya.

Dengan melihat review, generasi Z ingin menggali pengalaman orang lain. Apakah membeli produk ini bagus atau tidak, bagaimana komentarnya, adakah satu hal yang buruk. Jika ketemu bintang yang satu atau komentar negatif, pasti tidak akan dibeli.

“Kemudian, dia sangat peduli kepada yang namanya traceability (ketelusuran). Nah, generasi sekarang sudah melihat, meminimalisir menggunakan packaging (kemasan) plastik misalnya. Dia lebih suka menggunakan packaging yang berlainan. Kertas, kertasnya itu dari apa, apakah ini merusak hutan dan sebagainya, dia sangat peduli melihat itu semua,” urai Slamet. Generasi Z juga mendukung merek-merek yang punya kepedulian terhadap sosial, seperti ada donasi dan amal, serta praktik-praktik yang berkelanjutan.

Slamet mengingatkan, pembahasan keberlanjutan ini tidak hanya berada di perusahaan besar. “Baik itu farm broiler, farm layer, tidak ada salahya harus berpikir ke sana. Karena apa? Karena customer (pelanggan) kita seperti itu. Bagaimana aspek sustainability itu selalu di setiap produk yang kita hadirkan. Sampai end-to-end itu memenuhi kebutuhan konsumen atau pasar secara berkelanjutan,” sarannya.

 

Windi Listianingsih, Peni Sari Palupi

Tag:

Bagikan:

Trending

Foto Pendukung I
Pasokan Pupuk Nasional Aman di Tengah Ekskalasi Negara Teluk
Kebutuhan Beras Aman, Tidak Terpengaruh Kondisi Geopolitik
Kebutuhan Beras Aman, Tidak Terpengaruh Kondisi Geopolitik
Syngenta indonesia Luncurkan Buku Pintar Budidaya Hortikultura
Perkuat Ketahanan Pangan, Syngenta Indonesia Rilis Buku Pintar Hortikultura
Lahan Cabai Rawit Setan
Produksi Surplus, Pasokan Cabai Aman Selama Ramadan dan Jelang Idul Fitri
Kementan Kawal MoU Hilirisasi Ayam Gorontalo & ID FOOD
Kementan Kawal MoU Hilirisasi Ayam Gorontalo & ID FOOD
Scroll to Top