Pemerintah mencanangkan program revitalisasi tambak Pantura Jawa Barat sebagai katalis budidaya tilapia yang berkelanjutan. Revitalisasi ini diharapkan menghasilkan nila salin berstandar premium untuk pasar ekspor. Luasannya mencapai 78.550 ha yang akan dikerjakan dalam 3 tahap.
Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan, produksi tilapia nasional saat ini sekitar 1,5 juta ton dan nilainya Rp4,2 triliun. Sementara itu, Indonesia menempati posisi ketiga produsen utama tilapia dunia dengan pangsa pasar 10,4%. Ada di posisi pertama yaitu China sebesar 40,9%. Posisi kedua ditempati Kolombia dengan pangsa pasar 10,7%. Pada tahun lalu nilai ekspor tilapia nasional mencapai US$93,51.
Dirjen Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan, TB Haeru Rahayu menekankan perlunya tilapia Indonesia “naik kelas” dari pasar tradisional ke ritel modern hingga mal, dengan memperhatikan keberlanjutan, keamanan pangan, dan penguatan merek. Dengan demikian, revitalisasi menitikberatkan budidaya terintegrasi yang memperhatikan penerapan teknologi terkini serta cara budidaya yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Aktivitasnya melibatkan pemerintah daerah, swasta, masyarakat, dan industri pendukung.
Program revitalisasi tambak mendapat mendukung penuh dari pemerintah daerah Jawa Barat. Pasalnya, program tersebut bakal menyerap sangat banyak tenaga kerja langsung dan tak langsung, meningkatkan produksi nila provinsi, dan menggerakkan perekonomia daerah sehingga meningkatkan PDRB.
Meski begitu, Asosiasi Tilapia Indonesia (ATI) memberikan beberapa catatan terhadap revitalisasi tambak ini. Kekhawatiran bocornya produk tilapia ke pasar lokal akan menyebabkan suplai membludak dan harga drop menjadi perhatian utama. Ketersediaan benih dan indukan berkualitas pun masih menjadi tanda tanya. Dari sisi pemerintah, ada pekerjaan rumah yang besar. Yaitu, memperluas akses pasar di tengah berbagai tantangan seperti penerapan tarif baru, persaingan sesama produsen tilapia dunia, persyaratan keberlanjutan budidaya, hingga praktik budidaya yang baik.
Budidaya tilapia bukan sekadar menebar ikan di keramba. Dengan pakan yang tepat dan pengelolaan yang cermat, pembudidaya dapat menjaga danau tetap bersih, menghasilkan ikan sehat, sekaligus memperoleh keuntungan berkelanjutan. Perairan umum seperti danau, waduk, dan sungai banyak dimanfaatkan untuk budidaya tilapia, umumnya menggunakan keramba jaring apung (KJA).
Di sisi lain, aktivitas budidaya tilapia masih banyak dilakukan di perairan umum. Kondisi perairan umum yang rentan tercemar limbah rumah tangga, industri, pertanian, dan peternakan menjadi salah satu tantangan tersendiri bagi para pembudidaya. Praktik budidaya yang kurang tepat juga memperbesar risiko pencemaran. Semua ini tidak hanya merugikan hasil produksi, tetapi juga mengganggu keseimbangan ekosistem perairan.
Prof. Dr. Ir. Etty Riani, MS, Guru Besar IPB University menegaskan, keberhasilan budidaya tidak hanya diukur dari produksi tinggi, tetapi juga dari tiga aspek: ekonomi, ekologi, dan sosial. Usaha harus menguntungkan dan efisien, menjaga kualitas air dan keanekaragaman hayati, serta memberi manfaat adil bagi masyarakat sekitar. Kerja sama antara pembudidaya, pemerintah, dan masyarakat menjadi kunci dalam menjaga perairan bukan hanya sebagai media produksi, tetapi menjadi ekosistem hidup yang harus dilestarikan.
Untuk menjaga kelestarian lingkungan dan keberlanjutan usaha, pemerintah berperan penting menetapkan zonasi perairan dan legalitas KJA sesuai kapasitas perairan untuk menjaga daya dukungnya. Di lain pihak, pembudidaya berperan besar dalam budidaya yang berkelanjutan melalui pemantauan kualitas air secara rutin, manajemen pakan yang cermat, pengendalian eceng gondok, dan kerja sama menjaga lingkungan. Dengan disiplin menerapkan langkah-langkah tersebut, pembudidaya tilapia di Waduk Cirata, Jawa Barat bisa menghasilkan tilapia yang sehat dan stabil secara ekonomi sekaligus menjaga ekosistem.
Windi Listianingsih







