Saatnya menyongsong era pertanian maju dan modern untuk mencapai kesejahteraan para petani.
Memberdayakan petani dengan bahasa yang mereka pahami menjadi jalan pembuka untuk meningkatkan pengetahuan yang berujung pada terangkatnya kesejahteraan. Sentuhan teknologi turut melengkapi inisiatif penting yang mendorong transformasi menuju pertanian maju dan modern itu. Seperti apa inisiatif tersebut dan bagaimana tanggapan petani penggunanya?
Inisiatif Baru
Dalam momentum perayaan hari jadinya yang ke-25 tahun di Indonesia, Syngenta memperkuat dukungan di sektor pertanian nasional dengan meluncurkan inisiatif baru untuk mendukung visi Petani Maju. Inisiatif ini mencakup peluncuran buku panduan pertanian dan peresmian Drone Learning Center.
Eryanto, Presiden Direktur PT Syngenta Indonesia mengatakan, tujuan utama inisiatif untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani. Salah satu inisiatif yang diperkenalkan adalah buku panduan pertanian yang disusun dengan format yang mudah dipahami oleh petani. Buku yang dibagikan secara gratis ini tidak hanya berisikan aspek teknis budidaya padi tetapi juga mencakup topik penting lainnya, seperti pertanian berkenjutan. Penyusunan buku melibatkan akademisi, penyuluh, dan petani.
“Buku menjadi satu fasilitas komunikasi efektif bagi petani. Pembahasan budidaya dengan kata-kata yang bisa dimengerti semua orang. Ini bukan sekadar teknikal teori tapi lebih kepada cara mengaplikasikannya. Buku ini tidak hanya fisik tapi juga akan disediakan format digital sehingga dapat diakses lebih luas oleh petani,” katanya saat peluncuran inovasi Syngenta di Cianjur, Jawa Barat (27/8).
Eryanto menambahkan, selain buku panduan, Syngenta juga membentuk Komunitas 10 Ton. Komunitas ini merupakan wadah untuk bertumbuh dan berkembang petani dan penyuluh. Tujuannya yaitu meningkatkan hasil produksi padi lebih tinggi dari rata-rata nasional dalam mencapai langkah nyata mendukung swasembada beras nasional. Di komunitas ini petani menerapkan pertanian berkelanjutan serta praktik agronomi sehingga bisa meningkatkan hasil panen hingga 10 ton/ha.
Program ini diprakarsai Syngenta sejak 2011 dan diinisiasi di Jawa Timur. Petani padi yang sukses menerapkan didorong untuk memberikan pengetahuan kepada petani lainnya tentang praktik pertanian yang baik dan benar. Program tersebut didukung para ahli pertanian Syngenta dan penyuluh pertanian.
“Petani yang tergabung dalam komunitas ini telah berhasil mencapai rata-rata hasil panen 8 – 10 ton/ha Gabah Kering Panen (GKP). Angka tersebut jauh di atas rata-rata nasional yang hanya sekitar 5,3 ton/ha. Kombinasi antara buku panduan dan Komunitas 10 Ton adalah suatu langkah untuk maju bersama,” katanya.
Sementara itu, Muhammad Muarifin, Ketua Gapoktan Sidondadi di Kecamatan Godong, Grobogan, Jawa Tengah yang tergabung dalam komunitas menjelaskan, tujuan utama komunitas adalah memotivasi petani untuk meningkatkan hasil panen. Komunitas ini berdiri di wilayahnya sekitar Februari 2022. Meskipun sudah tiga tahun berdiri, target 10 ton/ha masih belum sepenuhnya tercapai.
“Komunitas ini berdiri supaya petani bisa mendapatkan hasil 10 ton/ha. Target 10 ton/ha memang tidak mudah dan belum tercapai, namun adanya peningkatan signifikan dari hasil rata-rata per hektar mencapai 7-8 ton/ha dari sebelumnya hanya 5-6 ton/ha. Peningkatan ini tidak terlepas dari binaan yang diberikan Syngenta dalam budidaya dan penanganan hama penyakit. Sehingga petani dapat meminimalisir risiko gagal panen,” ungkap Muarifin bangga saat diwawancarai AGRINA.
Akselerasi Melalui Teknologi
Eryanto menerangkan, Syngenta tidak hanya meluncurkan buku panduan tetapi juga meresmikan Drone Learning Center. Hal ini merupakan komitmen dalam mengadopsi inovasi dan teknologi pertanian. Drone Learning Center sebagai tempat untuk melatih petani dalam menerapkan teknologi dan mengembangkan potensi penggunaan drone untuk pertanian presisi.
“Peran teknologi baru ini akan menarik minat petani muda atau generasi milenial sehingga dapat terjun serta berperan aktif pada sektor pertanian Indonesia. Memberdayakan petani muda, Syngenta juga meluncurkan komunitas GenAgri atau Generasi Petani Muda untuk Negeri. Peran teknologi dapat mengubah persepsi terhadap sektor pertanian menjadi profesi yang lebih inovatif, kompetitif, dan menguntungkan,” terangnya.
Sementara itu, Widiastuti, Deputi Bidang Koordinasi Usaha Pangan dan Pertanian, Kemenko Pangan mengatakan, salah satu strategi yang bisa meningkatkan produktivitas dengan peluncuran drone yang lebih masif serta penggunaan drone akan lebih tepat dan cepat dalam budidaya. Hal ini karena pada proses penyemprotan akan lebih tepat dan sesuai kebutuhan tanaman.
“Sarana dan prasarana yang didukung sinergi semua pihak dari pemerintah, pelaku usaha, atau stakeholder menginisiasi adanya drone, buku panduan para petani, dan melibatkan penyuluh. Sinergi ini diharapkan bisa tercapai amanah Pak Presiden Prabowo dalam mencapai swasembada pangan dan Indonesia Emas 2045,” ungkapnya.
Widiastuti menjelaskan, “Konsumsi beras per kapita di Indonesia sangat tinggi dibandingkan negara lain. Indonesia mencapai 6,50 kg/kapita/bulan atau 78 kg/tahun berdasarkan data BPS. Memastikan produksi pertanian cukup dan mampu untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Salah satu strateginya, Syngenta memiliki lembaga riset, menciptakan teknologi, lalu membina petani. hal ini bisa menghasilkan produktivitas lebih bagus atau lebih tinggi.”
Eryanto menambahkan, ketersediaan beras adalah topik yang sangat penting karena menjadi dasar ketahanan pangan nasional. Sebagai perusahaan berbasis sains, Syngenta berkomitmen untuk terus mendukung program-program pemerintah demi ketahanan pangan. “Kita sudah berjalan selama 25 tahun bersama petani, ke depan teruslah bekerja keras untuk mentransformasi pertanian Indonesia menuju era lebih kompetitif dan produktif,” katanya.
Muarifin menimpali, teknologi drone sangat bagus diaplikasikan dan diterapkan saat ini. Pasalnya, tantangan teknis para petani yaitu masalah tenaga kerja yang sulit dan biaya tenaga kerja yang mahal. Muarifin merinci, biaya pekerja untuk penyemprotan lahan selama setengah hari bisa mencapai Rp60 ribu – Rp70 ribu per orang. Ia berharap, dengan adanya alat dan mesin pertanian seperti drone penyemprotan hama, dapat menjadi solusi masalah tersebut. Namun, biaya sewa drone masih terbilang mahal dibandingkan tenaga manual.
“Biaya sewa drone untuk satu hektar bisa mencapai Rp200 ribu – Rp250 ribu, sementara dua tenaga kerja manual hanya butuh sekitar Rp120 ribu – Rp140 ribu untuk pekerjaan yang sama. Alsintan bersaing dengan harga tenaga kerja. Harapannya penggunaan drone dapat diperluas dan banyak digunakan petani lainnya agar biaya sewa lebih terjangkau,” harapnya.
Sabrina Yuniawati







