Jakarta, Agrina-online.com. Industri udang Indonesia menghadapi tantangan berlapis, mulai dari perubahan iklim, risiko penyakit, hingga persaingan pasar global dan persoalan penyerapan produksi dalam negeri. Penguatan kolaborasi antarpelaku usaha, dukungan pemerintah, serta perbaikan praktik budidaya menjadi bahasan utama dalam Farmers Aquaculture Roundtable Meeting (FARM) 2026 yang mempertemukan lebih dari 500 pelaku industri udang dari hulu hingga hilir.
Farmers Learning Club (FLC) dan Shrimp Club Indonesia (SCI) bersama Minapoli menggelar FARM 2026 di Swissôtel Jakarta PIK Avenue, Jakarta, Selasa (29/9/2026) dengan mengusung tema “From Resilience to Excellence: Towards the Golden Age of Shrimp Farming”. Forum ini menghadirkan 11 pembicara nasional dan internasional serta 26 perusahaan akuakultur dalam mini expo untuk membahas perkembangan teknologi, tantangan produksi, dan peluang pasar.
Ketua FLC, Gerry Gilang Kamahara mengatakan, industri udang nasional telah melewati berbagai tekanan, termasuk persoalan kontaminasi radioaktif Cesium-137 pada produk udang yang sempat mengganggu ekspor. Melalui kerja sama pelaku usaha dan pemerintah, ekspor kembali berjalan.
Kini industri kembali menghadapi tantangan berupa El Niño dan penguatan dolar Amerika Serikat terhadap rupiah. Menurut Gerry, kolaborasi antarpelaku industri dibutuhkan untuk menghadapi tekanan tersebut.
“Ini kondisi yang harus kita lalui dengan bergandengan tangan untuk mengatasi tantangan bersama. Kami sampaikan bahwa FLC bersama SCI adalah asosiasi yang siap bekerja sama dengan berbagai sektor yang tergabung dalam rantai industri udang Indonesia,” ujarnya.
Salah satu isu yang mengemuka ialah rencana atau kebijakan impor udang vaname. Gerry menegaskan penolakan FLC terhadap impor komoditas tersebut karena produksi petambak lokal perlu mendapat ruang serapan pasar yang memadai. Ketua Umum SCI, Prof. Andi Tamsil menegaskan sikap serupa. Ia meminta pemerintah menutup celah regulasi yang memungkinkan impor udang vaname.
Andi mengapresiasi langkah Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dalam menindaklanjuti aspirasi pelaku usaha. Sementara itu, Fernando J. Simanjuntak, Direktur Ikan Air Payau, Direktorat Jenderal Perikanan Budi Daya KKP, menegaskan pentingnya kerja sama pemerintah, asosiasi, dan industri untuk melindungi serta mengembangkan usaha budidaya udang nasional.
Selain persoalan pasokan dan kebijakan, FARM 2026 menyoroti upaya memperbaiki kinerja budidaya. Narendra Santika Hartana dari Suri Tani Pemuka membahas pengelolaan kesehatan udang melalui identifikasi jalur masuk penyakit, faktor risiko lingkungan, dan dampak ekonominya. Menurut Narendra, langkah pertama dari siklus budidaya yang terprediksi kesehatan udangnya adalah mengidentifikasi jalur masuk penyakit, organ udang yang diserang, strategi mitigasi, dan dampak ekonomi.
Sementara itu, Prof. Andy Shinn dari INVE Aquaculture menekankan penerapan biosekuriti secara menyeluruh, dari pembenihan hingga pembesaran, karena penyebaran penyakit tidak terbatas pada satu tahap produksi. “Selama ini, kita mengelola induk, pembenihan, dan pembesaran secara terpisah. Padahal, penyakit tidak mengenal pembagian ini,” terangnya.
Pemilihan genetik, nutrisi, dan keseimbangan mikroba tambak juga menjadi bagian dari pembahasan teknis. Dr. Natthinee Munkongwongsiri dari SyAqua Group mengingatkan bahwa pemilihan benur tidak cukup berpatokan pada kecepatan tumbuh, tetapi perlu mempertimbangkan kinerja budidaya secara menyeluruh, termasuk efisiensi pakan dan kelangsungan hidup.
Membangun budidaya udang yang tangguh menjadi bahasan utama Setiawan Aditia, Technical Applications Manager (Aquaculture) Asia Pacific LANXESS. “Resilience itu dibangun sebelum terjadi outbreak penyakit dan pada setiap tahap budidaya. Karena, resilience itu adalah sebuah proses, bukan sebuah respons darurat,” tegasnya.
Dari sisi pasar, Lie Tje Yoeng dari Central Proteina Prima menilai udang Indonesia masih memiliki peluang di pasar global, termasuk Amerika Serikat. Namun, produsen perlu menjaga konsistensi mutu serta menyesuaikan ukuran dan spesifikasi produk dengan kebutuhan pembeli.
“Kunci dalam persaingan pasar ke depannya bukanlah produsen yang menghasilkan udang yang paling banyak atau paling murah, melainkan yang mampu menyediakan ukuran, kualitas, dan konsistensi yang sesuai kebutuhan pasar,” katanya.
Revata Utama, Founder dan CEO Nusantics, turut menekankan pentingnya pemetaan penyakit berbasis data. Perbedaan tingkat prevalensi penyakit di berbagai sentra budidaya menunjukkan bahwa strategi penanganan perlu disesuaikan dengan kondisi setiap wilayah. Deteksi dini sebelum gejala muncul dapat membantu petambak menentukan tindakan yang lebih tepat.
“Penanggulangan penyakit harus menggunakan data dan tidak reaktif. Maka, dengan deteksi penyakit dini sebelum ada gejala, petambak dapat mengetahui kondisi lebih awal dan memberikan perlakuan yang tepat untuk mengatasi penyakit tersebut,” jelasnya.
Melalui seminar dan mini expo yang diikuti 26 perusahaan akuakultur, FARM 2026 juga menjadi ruang pertukaran informasi mengenai teknologi, tantangan di lapangan, dan peluang kolaborasi bisnis bagi pelaku industri udang nasional.
Windi Listianingsih







