Pangakalan Bun, Agrina-online.com. Presiden Direktur Astra Agro Lestari (AAL), Djap Tet Fa membuka sesi “Talk to the CEO 2025”. Acara tersebut merupakan penyelenggaraan tahunan bersama para jurnalis nasional.
Di hadapan rekan-rekan jurnalis, Tet Fa biasa ia disapa menyoroti peran vital industri kelapa sawit dan sangat strategis bagi Indonesia, serta membeberkan strategi perusahaan ALL yang fokus pada ‘2 plus 1’ yaitu Tanaman (Plant), Manusia (People), dan Bumi (Planet).
Sesi diskusi malam itu, merupakan puncak rangkaian kunjungan lapangan para jurnalis ke kebun Astra Agro Lestari yang berlangsung hangat dan menyenangkan.
“Malam ini acara talk to the CEO, rekan-rekan jurnalis juga sudah cukup sering. Sebelumnya zaman Pak Santosa,” ujarnya, Kamis (30/10).
Strategi “2 Plus 1” Menuju Ulang Tahun Emas AAL
Di tengah isu deforestasi dan tuntutan sustainable atau berkelanjutan, Tet Fa menegaskan bahwa sawit adalah salah satu dari delapan minyak nabati dunia. Pada 2025 total dari 8 minyak nabati di dunia sekitar 200-230 juta ton.
Minyak makan diperlukan di dunia dan sawit merupakan salah satu penyumbang terbesar, secara market share 36% atau 80 juta ton minyak sawit yang diproduksi Indonesia, Malaysia, Thailand, dan sebagainya.
Indonesia produksi sawit kira-kira 50 juta ton/tahun, lanjut Tet Fa, memegang peran penting sebagai produsen, konsumen, sekaligus eksportir Crude Palm Oil (CPO)/minyak sawit terbesar di dunia.
Pasalnya, produksi sawit nasional dipakai industri besar seperti food (makanan), biodiesel, oleokimia. Sejak 2024 penggunaan biodesel sudah melebihi kebutuhan food sekitar 11 juta ton, B40 memakai CPO sekitar 13 juta ton, oleokimia 2 juta ton.
Kebutuhan CPO di masa mendatang akan lebih banyak, sehingga produktivitas perlu ditingkatkan. Hari ini produktivitas sawit 1 ha menghasilkan CPO sekitar 4 ton/ha.
Menjamin peran strategis ini, AAL fokus pada “2 plus 1”. CEO Astra Agro yang baru dilantik ini menjabarkan tentang mengelola industri sawit.
Plant ada tiga yaitu replanting, R&D serta sistem operasi masa depan. Astra Agro menargetkan peremajaan 8.000 ha/tahun, angka ini meningkat dari tahun sebelumnya 4.000-6.000 ha/tahun.
Sisi R&D Tet Fa menguraikan, Astra Agro mengembangkan benih unggul berkualitas dengan target produktivitas meningkat sekitar 20%-25%.
Lalu sistem operasi masa depan, adanya menerapan sistem smart plantation atau Internet of Thing (IoT) serta menggunakan AI (teknologi buatan) dalam proses pengecekan di kebun sawit.
“Aplikasi digital penting tidak lagi fokus pada manual karena kebun sawit begitu luas agar mudah terjangkau,” jelasnya.
Kedua people, karyawan perusahaan dan pekebun harus meningkatkan kompetensi melalui edukasi dan pelatihan, serta tidak kalah pentingnya memberikan kesempatan anak muda untuk terjun berkebun atau adanya regenerasi.
Lalu perusahaan memberikan kesempatan untuk meningkatkan jenjang karir di semua lini organisasi. Perusahaan memberikan kesempatan para wanita yang bekerja di AAL untuk memimpin perusahaan.
“Anak-anak muda di AAL diberikan kesempatan karir yang sama kepada seluruh karyawan selama kompeten, karakter, dan integritas tinggi kepada perusahaan,” urainya.
Ketiga, memberikan ajang inovasi dan award. Astra Agro Award (Alexa) diberikan untuk karyawan yang ingin menjadi pemimpin. Karyawan harus membuat inovasi, karena inovasi tidak bisa datang dari satu orang saja, tapi datang semua level atau bagian di perusahaan.
“Kedua bagian people, memberikan edukasi dan pelatihan secara kontinu. Menyiapkan karir perusahaan semua karyawan, ketiga memberikan ajang inovasi dan award,” jelasnya.
Terakhir yaitu planet, berlanjutan atau sustainable. Komitmen perusahaan NDPE (No Deforestation, No Peat, No Exploitation).
Perusahaan peduli akan lingkungan dan tidak membuka lahan baru, serta memiliki konservasi gambut. Lalu tidak memperkerjakan anak-anak serta memiliki sertifikasi ISPO, ISCC, dan RSPO.
Bahkan sertifikasi ISPO, AAL yang pertama memilikinya. Hal ini merupakan komitmen Astra Agro menerapkan Good Agriculture Practice (GAP) sudah dilakukan.
Selain itu, menurunkan karbon emisi berasal dari Palm Oil Mill Effluent (POME). Perusahaan telah memiliki 2 unit methane capture di Riau dan akhir tahun 2025 akan dibangun 1 methane capture.
Target AAL akan membangun 10 methane capture sampai 2030. POME ini mengeluarkan gas methane sangat merusak, gas tersebut 28 kali lebih rusak dibandingkan CO2. Gas di-capture maka tidak keluar dan dijadikan biogas. Hal ini dapat mengurangi penggunaan solar.
“Dalam setahun dengan adanya methane capture dapat menurunkan sekitar 126,33 kiloton CO2. Kalau dibangun 10 unit dapat menurunkan 356 ribu ton emisi karbon. Target perusahaan sampai 2030 dapat menurunkan 30% karbon emisi dari tahun 2019” pungasnya.
Lalu smallholders atau petani menjadi partnership atau kemitraan. Luas Lahan sawit 42% dimiliki oleh petani plasma atau petani kecil. Walaupun petani hanya memiliki 4ha-10ha tapi banyak dimana-mana.
Disanalah perusahaan membantu memberikan edukasi cara menanam yang baik dan benar, proses panen yang tepat, rawat tanaman yang baik, dan lain sebagainya.
Perusahaan memiliki aplikasi leaf sampling unit (LSU) cara kerjanya yaitu melihat kesehatan daun. Tanaman yang kurang sehat atau kekurangan unsur hara fosfor atau bahkan nitrogen.
Dalam budidaya tidak semua pohon membutuhkan obat., sehingga pembudidaya hanya memberikan sesuai kebutuhan tanaman.
Tet Fa mencontohkan, saat tubuh manusia kekurangan vitamin C maka yang hanya dibutuhkan adalah vitamin C saja bukan semua vitamin dikonsumsi. Hal ini akan berdampak pada tingginya pengeluaran dan dan tidak memberikan benefit lebih banyak.
Sisi tanaman demikian, tidak semuanya membutuhkan pupuk majemuk, pupuk tunggal, mikro ataupun makro. Lalu perusahaan membantu kebutuhan petani dalam akses market dan finansial.
Petani banyak yang tidak mengerti penjualan hasil panen, sehingga perusahaan AAL dapat menapung hasil produksi petani dengan harga yang sesuai dan transparan.
Selain itu lanjut Tet Fa, perusahaan memberikan dukungan berupa kebutuhan pupuk, alsintan, maupun benih. Sistem pembayarannya dengan cara menjual hasil sawit ke perusahaan AAL.
Ketiga mendukung inovasi dan digitalisasi. AAL memiliki aplikasi untuk petani mitra yaitu teknologi bernama Aplikasi Sistem Informasi Sistem Kemitraan (Siska) yang dapat memudahkan petani dalam bertransaksi.
Replanting, Bukan Sekadar Ganti Pohon Tua
Strategi utama di pilar ‘Plant’ adalah peremajaan tanaman. Tet Fa menjelaskan, sekitar 30% dari tanaman Astra Agro rata-rata sudah berusia di atas 20 tahun, yang mengakibatkan penurunan produktivitas.
“Replanting itu bukan cuma mengganti pohon tua dengan pohon baru. Tapi replanting itu adalah menanam masa depan,” katanya.
Perusahaan berencana mempercepat program replanting hingga 8.000 ha/tahun. Benih yang digunakan adalah benih unggul hasil R&D internal yang menjanjikan pertumbuhan lebih pendek dan hasil panen lebih tinggi.
“Contohnya seperti benih dengan pertumbuhan tinggi sekitar 40-50 cm per tahun, jauh lebih rendah dari benih lama yang bisa mencapai 70-80 cm,” ujarnya.
Di sisi R&D, Tet Fa beberapa peneliti dan berhasil menghasilkan bibit unggul, seperti Bibit Lestari, Nirmala, dan Sejahtera. Inovasi juga merambah penggunaan mikroba bernama ASTEMIC (Astra Efficient Microbe) untuk mengurangi pemakaian pupuk hingga 25%.
Modernisasi juga menjadi kunci dalam operasional perusahaan memanfaatkan drone untuk pemupukan dan pemantauan, serta menerapkan kecerdasan buatan (AI) dan data analitik untuk meningkatkan efisiensi.
Program ini merujuk pada program data analistik digital perusahaan, seperti Melli (Mill Excellent Indicator), Tiara (TBS Prediksi Astra Agro), Amanda (Aplikasi Mandor Astra Agro), dan Dinda (Daily Indicator of Astra Agro). “Ada yang namanya Melli, Dinda, Tiara, Amanda. Mungkin besok ada Linda,” cetusnya.
Lebih dari itu, Ia menekankan perlunya apresiasi terhadap pekerja kebun. Ia mengajak jurnalis untuk turut mengampanyekan peran positif sawit agar kerja keras 16–17 juta pekerja di sektor sawit dapat dihargai.
Perusahaan yang baru saja merayakan ulang tahun ke-37 ini, kini menatap target besar di usia ke-50. Tet Fa berharap percepatan replanting akan membantu perusahaan mencapai tujuan yang ia sebut sebagai “Astra Agro 50”.
Sabrina Yuniawati







