1. Home
  2. »
  3. Berita
  4. »
  5. Majes Luncurkan Daily Functional Diet, Hewan Peliharaan Tropikal

Butuh Pengawasan Harga Telur di Tingkat Konsumen Agar Stabil

Jakarta, Agrina-online.com. Para peternak menegaskan bahwa tidak ada kenaikan harga di tingkat peternak di tengah isu kenaikan harga telur di sejumlah daerah. Harga telur di peternak saat ini tetap stabil di angka Rp24 ribu – Rp26.500 per kilogram, sesuai harga acuan pemerintah. Bahkan, produksi nasional berada dalam kondisi surplus sehingga tidak ada alasan pasokan menjadi penyebab kenaikan di pasar.

 

Menurut Ketua Presidium Pinsar Petelur Nasional, Yudianto Yosgiarso, seluruh peternak ayam petelur di Indonesia masih menjual telur pada harga stabil dan berada di bawah batas acuan. “Saat ini kami menjual dalam koridor Kisman Rp24.000–Rp26.500. Tidak pernah naik. Jadi kalau harga di pasar melonjak, ya pertanyaannya siapa yang bermain?” katanya usai menghadiri Rapat Koordinasi (Rakor) Stabilisasi Harga Telur Ayam Ras di Kantor Pusat Kementerian Pertanian (Kementan), Jakarta, Rabu (19/11/25).

 

Yudianto menambahkan bahwa stabilnya harga telur tidak terlepas dari perhatian dan kebijakan Menteri Pertanian. Bantuan SPHP jagung sejak Oktober disebut sangat membantu peternak menekan biaya pakan komponen terbesar dalam produksi telur.

 

“Pak Menteri hadir ketika kami kesulitan. SPHP jagung sangat membantu dan kami berharap berlanjut untuk menjaga stabilitas di Desember dan Januari,” tambahnya.

 

Lebih lanjut, Yudianto mengatakan bahwa produksi telur nasional berada pada kisaran 6,4 juta hingga 6,5 juta ton dan produksi ini masih surplus. Untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG), peternak diminta meningkatkan produksi hingga 700 ribu ton secara bertahap dan mereka siap memenuhinya.

 

“Produksi aman, surplus ada. Tidak ada kekhawatiran pasokan. Kami siap mendukung program nasional,” ucap Yudianto.

 

Bersamaan, Ketua Koperasi Berkah Telur Blitar, Yesi memperkuat pernyataan Pinsar. Yesi mengatakan, lonjakan harga di pasar jauh berbeda dengan harga di peternak dan itu terjadi bukan karena peternak. Harga telur di tingkat peternak Blitar juga berada di kisaran harga Rp24.000 – Rp26.500, namun sayangnya di pasar bisa menyentuh Rp35.000.

 

“Kami tidak pernah menjual di harga tinggi. Jadi kalau di pasar sampai Rp35.000, itu bukan dari kami. Ada middleman yang memainkan. Kami juga tidak punya kedaulatan menaikkan harga, kami patuh dengan pemerintah,” terangnya.

 

Yesi mengatakan, hingga saat ini lebih dari 95 persen telur peternak masih didistribusikan melalui pedagang perantara (middleman). Sehingga, peternak berada di posisi pasrah mengikuti harga yang ditentukan rantai perantara.

 

“Kami selalu dituduh penyumbang inflasi. Padahal, harga di kandang rendah. Yang harus diawasi itu middleman. Margin mereka kadang tidak wajar, itu yang bikin harga sampai meledak di ujung,” ucap Yesi.

 

Yesi menjelaskan bahwa hingga kini belum ada “wasit” yang mengawasi rantai middleman, sehingga ruang permainan harga masih sangat terbuka. Karena itu, ia meminta pemerintah yang berwenang di sektor perdagangan untuk memperketat pengawasan agar harga di tingkat konsumen tidak melonjak tajam dan peternak tidak terus-menerus menjadi pihak yang disalahkan, padahal produksi nasional dalam kondisi aman bahkan surplus.

 

“Kalau middleman mencari laba secara wajar, harga di end user tidak akan mahal. Tapi kalau ada satu saja rantai yang mengambil keuntungan tidak wajar, dampaknya membuat harga di konsumen melambung. Ini yang selalu kami minta untuk dipantau, dikendalikan, mohon perdagangan juga mengawasi,”kata Yesi.

 

Sementara itu, Mentan Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa kenaikan harga telur yang terjadi belakangan ini sebenarnya tidak signifikan dan akan ditindak tegas jika ada yang mempermainkan harga di pasar. Ia memastikan kondisi tersebut bersifat sementara dan berpotensi akan segera terkoreksi.

 

“Kenaikannya hanya sedikit, dan dalam waktu dekat insyaallah akan turun. Apalagi, harga DOC sudah turun signifikan dari 14.000 menjadi Rp11.500,” tegasnya.

 

Windi Listianingsih

Tag:

Bagikan:

Trending

Kebangkitan Industri Perbenihan Mendukung Kemandirian Pangan Nasional 
Kolaborasi Perbenihan Nasional untuk Mendukung Kemandirian Pangan
BPDP, Ditjenbun, dan DGL Learning Institute Tingkatkan Kompetensi 150 Pekebun melalui Pelatihan Budidaya
BPDP, Ditjenbun, dan DGL Tingkatkan Kompetensi 150 Pekebun melalui Pelatihan Budidaya
100 Ribu Petani dan Nelayan Sambut Presiden Prabowo di PENAS XVII
100 Ribu Petani dan Nelayan Sambut Presiden Prabowo di PENAS
Kebijakan Presiden Prabowo Berdampak Pada Usaha Tani
Kebijakan Presiden Prabowo Berdampak Pada Usaha Tani
WhatsApp Image 2026-06-24 at 12.53
BRIN Galang Kolaborasi Global untuk Pertanian Rendah Emisi
Scroll to Top