Jakarta, Agrina-online.com Kementerian Pertanian mencatat tren penurunan harga pakan ternak di tingkat produsen pada periode Februari hingga awal Maret 2026.
Penurunan ini diharapkan dapat membantu menekan biaya produksi peternak, khususnya pada sektor perunggasan yang bergantung pada pakan pabrikan.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Agung Suganda mengatakan tren penurunan harga pakan ini menjadi perkembangan positif bagi keberlanjutan usaha peternakan nasional.
“Penurunan harga pakan menjadi kabar baik bagi peternak karena membantu menurunkan biaya produksi. Jika biaya produksi lebih efisien, maka usaha peternakan bisa lebih berkelanjutan dan stabilitas harga produk peternakan juga lebih terjaga,” katanya dalam keterangan tertulis, Kamis (5/3).
Berdasarkan pemantauan Sistem Informasi Produksi dan Harga Pakan (SPORA) Direktorat Pakan Kementerian Pertanian, penurunan terjadi pada berbagai jenis pakan yang digunakan peternak ayam pedaging maupun petelur.
Pakan ayam pedaging (broiler) fase starter (BR1) mengalami penurunan terbesar yakni rata-rata Rp112/kg dari 33 pabrik pakan.
Bahkan beberapa pabrik penurunan mencapai Rp600/kg, dengan rataan harga produsen sekitar Rp8.010/kg.
Pakan broiler fase pre starter (BR0) tercatat turun rata-rata Rp82/kg dari 30 pabrik pakan dengan rataan harga produsen sekitar Rp8.451/kg.
Sementara itu, pakan broiler finisher (BR2) turun rata-rata Rp89/kg dari 31 pabrik pakan dengan rataan harga produsen sekitar Rp7.967/kg.
Penurunan juga terjadi pada pakan layer masa produksi (P3) sebesar Rp86/kg dari 32 pabrik pakan dengan rataan harga produsen sekitar Rp6.803/kg.
Konsentrat layer masa produksi (KP3) yang turun rata-rata Rp74/kg dari 14 pabrik pakan dengan rataan harga produsen sekitar Rp7.735/kg.
Namun demikian, Agung mencatat penurunan harga pakan baru dilakukan oleh sebagian pabrik pakan. Dari total 87 pabrik pakan unggas yang beroperasi di Indonesia, sekitar 33 pabrik atau 38 persen telah menyesuaikan harga.
“Sesuai arahan Bapak Menteri Pertanian, kami secara rutin melakukan pemantauan harga melalui sistem SPORA serta menjalin komunikasi dengan industri pakan. Penurunan harga ini menunjukkan adanya penyesuaian yang positif di tingkat industri sehingga dapat membantu menekan biaya produksi peternak,” ujarnya.
Ia juga mengajak pabrik pakan lainnya untuk mengikuti langkah perusahaan yang telah lebih dahulu menurunkan harga pakan.
Ketua Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) Desianto Budi Utomo mengatakan industri pakan terus melakukan efisiensi agar harga pakan semakin kompetitif.
Industri pakan terus melakukan berbagai efisiensi dan penyesuaian agar harga pakan dapat lebih kompetitif.
“Kami juga terus berkoordinasi dengan pemerintah untuk memastikan ketersediaan bahan baku pakan dengan harga yang lebih kompetitif, sehingga industri pakan dapat mendukung keberlanjutan usaha peternakan nasional,” kata Desianto saat dikonfirmasi terpisah.
Sebelumnya, Mentan Amran menegaskan pemerintah terus memperkuat produksi jagung nasional sebagai bahan baku utama pakan ternak.
“Tidak ada impor jagung khusus pakan. Bahkan kita sudah ekspor. Ekspor di Kalimantan Barat ke Malaysia. Juga kita ekspor ke Filipina. Dari NTB, dari Gorontalo. Jadi ada tiga tempat, dan Bapak Presiden lepas langsung,” kata Mentan Amran dalam Panen Raya Jagung di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat pada Kamis, 8 Januari 2026.
Kebijakan penguatan produksi jagung ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto pada acara Panen Raya dan Pengumuman Swasembada Pangan di Karawang, Jawa Barat, 7 Januari 2026, yang menargetkan penurunan harga pakan untuk menekan harga pangan nasional.
Sabrina Yuniawati







