Menurut Anissa Rosdiana, Bisnis dan Market Development Gamboeng Specialty Tea, industri teh Indonesia sempat diklaim menurun selama 10 tahun terakhir. Tantangan industri teh yaitu membangun kultur minum teh berkualitas di Indonesia, pasalnya konsumsi per kapita per tahun hanya 0,38 kg.
Namun, Gamboeng Specialty Tea menangkap peluang besar industri teh di Indonesia. “Strateginya gunakan edukasi, memanfaatkan media sosial dan kafe-kafe sebagai sarana edukasi. Misalnya, melalui barista yang tidak segan-segan bercerita tentang teh yang bagus di Indonesia,” jelasnya saat ditemui di Bandung, Jabar pada acara TPOMI 2025.
Target pasar Gamboeng Tea cukup luas dari kalangan baby boomers hingga gen Z. Baby boomers fokus pada kebutuhan kesehatan jantung. Gen Z melihat nilai jual teh sebagai releksasi, gaya hidup, dan pemulihan kesehatan pasca-COVID-19.
Anissa menjelaskan, teh yang paling favorit yaitu white tea dan green tea. Rata-rata produk dibanderol sekitar Rp25 ribu – Rp75 ribu/pak.
Gamboeng Specialty Tea memulai produk hilir pada 2014. Sementara, pengembangan produk spesialis baru dilakukan dua tahun terakhir. Kebun risetnya memiliki klon variatif sehingga menghasilkan rasa yang berbeda dari perkebunan lain.
Gamboeng Specialty Tea bangga menyandang tagline “Asli dari Sang Ahli”. Teh lokal Bumi Priangan ini hadir bukan hanya sekadar produk komersial, namun hasil penelitian dari Pusat Penelitian Teh dan Kina di bawah naungan PT Riset Perkebunan Nusantara. “Jadi, ini semuanya produk riset,” tuturnya.
Sabrina Yuniawati







