1. Home
  2. »
  3. Headline Agrina
  4. »
  5. Pemerintah Rombak HPP GKG Penggilingan

IPOC 2026: Membaca Masa Depan Sawit di Tengah Gejolak Global

Jakarta, Agrina-online.com. Sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia, Indonesia memiliki peran strategis dalam menjaga keseimbangan pasokan minyak nabati global. Di tengah kondisi global yang semakin tersekat, industri sawit Indonesia dituntut tidak hanya menjaga daya saing, tetapi juga memperkuat perannya sebagai penopang ketahanan pangan, energi, dan ekonomi nasional.

Dalam situasi tersebut, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) kembali menggelar the 22nd Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) and 2027 Price Outlook (IPOC 2026). Forum strategis tahunan yang menjadi barometer arah kebijakan dan prospek industri kelapa sawit nasional maupun global ini pada 11-13 November 2026 di Bali dengan tema “Palm Oil in a Fragmented World: Securing Food, Energy, and Economic Resilience.”

Ketua Panitia IPOC 2026, Suryanto Bun menjelaskan, tema ini mencerminkan kondisi global yang kian terfragmentasi. “Ditandai oleh perang dagang, proteksionisme, persaingan geopolitik, serta standar keberlanjutan yang berbeda-beda antarkawasan,” ujarnya di Jakarta, Jumat (9/10).

Sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia, tambahnya, Indonesia memiliki peran strategis dalam menjaga keseimbangan pasokan minyak nabati global. Di dalam negeri, sawit menjadi bahan baku utama minyak goreng dan pangan olahan, sekaligus tulang punggung program biodiesel yang menopang kemandirian energi.

Menurut Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono, IPOC 2026 hadir pada saat yang tepat ketika para pelaku industri perlu membaca ulang peta perdagangan global yang terus berubah. IPOC 2026 diharapkan mampu menghasilkan gagasan strategis dan rekomendasi kebijakan yang memperkuat ketahanan industri sawit nasional.

“Dunia saat ini semakin terfragmentasi, baik secara ekonomi maupun geopolitik. Melalui IPOC 2026, kami ingin membahas bagaimana industri sawit Indonesia dapat tetap tangguh, dan justru menjadi bagian dari solusi bagi ketahanan pangan dan energi, baik di dalam negeri maupun global,” urai Eddy.

Konferensi sawit yang dihadiri pemerintah, para pakar internasional, dan pegiat industri sawit ini mengupas isu strategis terkini dalam industri minyak sawit dan minyak nabati global selama dua hari kegiatan. Hari pertama IPOC 2026 menghadirkan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI, Airlangga Hartarto sebagai keynote speaker dengan tema peran industri kelapa sawit dalam memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia

Akan hadir pula sebagai pembicara kunci, yaitu Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy yang akan memaparkan strategi Indonesia membangun ketahanan pangan dan energi melalui sawit; Wakil Menteri Luar Negeri RI, Arif Havas Oegroseno membahas implementasi EUDR dan kesiapan Indonesia; serta Wakil Menteri Keuangan RI, Juda Agung mengulas ketahanan ekonomi Indonesia dan industri sawit.

Pada hari kedua, Luke Thomas Mahony mewakili PT Danantara Sumber Daya Indonesia akan menyampaikan special address mengenai tata kelola ekspor baru, termasuk tantangan dan peluang yang muncul di bawah regulasi ekspor terbaru. Konferensi dua hari ini terbagi dalam empat sesi utama, yaitu Economic Resilience, Food Security and Energy Transition, Trade and Geopolitics, serta Economic Outlook and Market Trends.

“Kami merancang IPOC 2026 agar peserta mendapatkan gambaran yang utuh, mulai dari arah kebijakan pemerintah, dinamika geopolitik dan perdagangan, hingga proyeksi harga 2027. Seluruh rangkaian ini diharapkan menjadi masukan penting bagi para pelaku industri sawit nasional dalam menyusun strategi ke depan,” terang Suryanto.

Pada sesi Economic Resilience, Bayu Krisnamurthi dari IPB University akan membahas sawit sebagai pilar ketahanan ekonomi Indonesia. Sementara, Teuku Muhammad Riefky Hasan dari LPEM FEB Universitas Indonesia akan memaparkan outlook ekonomi Indonesia 2027.

Isu ketahanan pangan dan transisi energi akan menampilkan Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi membahas kebijakan biofuel sebagai instrumen ketahanan ekonomi. Ekonom sekaligus pakar kebijakan publik UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat mengulas peluang dan tantangan kebijakan biodiesel berkelanjutan. Sedangkan, Pietro Paganini dari John Cabot University, Roma, Italia, akan menyoroti tren dan risiko pasar di balik fenomena “palm oil free”, dan Datuk Mohamad Helmy Othman Basha dari Malaysian Palm Oil Board (MPOB) akan menjawab pertanyaan apakah keberlanjutan masih memberikan nilai tambah bagi industri.

Sesi ketiga mengenai Trade and Geopolitics akan menghadirkan Mahendra Siregar yang mengupas posisi sawit di tengah perang dagang, proteksionisme, dan rivalitas geopolitik. Susan Stroud (No Bull Agriculture) akan membahas pasar minyak nabati global, biofuel, dan pergeseran permintaan. Lalu, Ello Hanson dari DBS Bank Indonesia akan mengulas geopolitik baru keberlanjutan, standar perdagangan, dan akses pasar.

Pada sesi Economic Outlook and Market Trends, para pakar seperti Ryan Chen dari Cargill Investments (China) akan memaparkan tren dan prospek sawit di China beserta implikasinya terhadap harga, Julian McGil dari Glenauk Economics membahas pengelolaan keterkaitan pangan dan energi dalam industri sawit Indonesia, dan Joko Supriyono dari GAPKI mengulas dinamika kebijakan, peluang, serta jalur menuju ketahanan industri sawit Indonesia. Thomas Mielke dari ISTA Mielke GmbH (Oil World) akan menyampaikan outlook pasokan, permintaan, dan harga minyak sawit serta minyak nabati lainnya.

Seperti gelaran IPOC tahun-tahun sebelumnya, IPOC 2026 pun kembali menghadirkan analis minyak nabati senior terkemuka dunia, Dorab Mistry dari Godrej International Ltd.. Dorab akan menguak prospek harga minyak nabati tahun 2027 di tengah “perfect storm” yang dihadapi industri sawit.

Selain rangkaian konferensi yang kaya akan analisis mendalam, IPOC 2026 juga menyelenggarakan pameran industri yang menampilkan perkembangan terkini teknologi, produk, dan layanan pendukung dari sektor hulu hingga hilir. Rangkaian acara akan diawali dengan GAPKI Golf Tournament dan Welcome Cocktail Reception pada 11 November 2026 serta Networking Night pada 12 November 2026 yang menjadi wadah bagi pelaku usaha, pembuat kebijakan, dan mitra global untuk memperkuat jejaring bisnis berkelanjutan.

Suryanto menambahkan, IPOC 2026 mempertemukan pelaku usaha, pembuat kebijakan, analis, dan investor dari berbagai belahan dunia. Memasuki penyelenggaraan ke-22, “IPOC bukan hanya sebuah konferensi, melainkan sebuah investasi strategis untuk memahami arah pasar dan merajut kemitraan di tengah dunia yang kian terfragmentasi,” tandasnya.

 

Windi Listianingsih

 

Tag:

Bagikan:

Trending

gapki 091026
B50 dan El Nino Bayangi Ekspor Sawit, Devisa Terancam Susut
pre-ipoc 2026
IPOC 2026: Membaca Masa Depan Sawit di Tengah Gejolak Global
FARM 2026
FARM 2026 Satukan Industri Bahas Masa Depan Udang Indonesia
ticeb 2026
Menjaga Pasokan Sawit Tanpa Mengorbankan Keberlanjutan
IMG-20261001-WA0026
Api Tak Kenal Batas Konsesi, GAPKI dan APHI Angkat Fakta dari Lapangan
Scroll to Top