1. Home
  2. »
  3. Headline Agrina
  4. »
  5. Pemerintah Rombak HPP GKG Penggilingan

B50 dan El Nino Bayangi Ekspor Sawit, Devisa Terancam Susut

Jakarta, Agrina-online.com. Produksi minyak sawit Indonesia diperkirakan melemah pada 2027 di tengah meningkatnya kebutuhan dalam negeri untuk program biodiesel B50. Kombinasi penurunan produksi dan lonjakan konsumsi tersebut berpotensi memangkas ekspor hingga jutaan ton, sekaligus mengurangi devisa dan menekan kontribusi sawit terhadap neraca perdagangan nasional.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono mengungkapkan, produksi minyak sawit mentah (crude palm oil, CPO) pada 2026 diperkirakan mencapai 53,73 juta ton. Angka ini meningkat dibandingkan produksi 2025 sebesar 51,66 juta ton. Namun, pada 2027 produksi CPO diproyeksikan turun menjadi 51,73 juta ton, sedangkan produksi minyak inti sawit (palm kernel oil, PKO) juga berkurang dari 5,09 juta ton menjadi 4,91 juta ton.

Dengan demikian, total produksi CPO dan PKO pada 2027 diperkirakan hanya 56,64 juta ton, turun sekitar 3,7% dari proyeksi 2026 sebesar 58,82 juta ton. Dampak El Nino menjadi salah satu faktor yang membayangi produksi di tengah produktivitas perkebunan yang belum menunjukkan peningkatan berarti.

“Produksi 2027 bermasalah karena ada El Nino. Kalau tidak ada El Nino, potensinya bisa 59,5 juta ton. Dengan adanya El Nino ini, produksi kita 56,6 juta ton. Jadi, kira-kira terjadi penurunan dari potensi sekitar 4,9%,” ujar Eddy dalam konferensi pers GAPKI di Jakarta, Jumat (9/10/2026).

Di sisi lain, konsumsi minyak sawit domestik diperkirakan meningkat. Berdasarkan proyeksi GAPKI, total konsumsi dalam negeri naik dari 27,12 juta ton pada 2026 menjadi 30,20 juta ton pada 2027. Kebutuhan biodiesel menjadi pendorong utama dengan serapan ditaksir melonjak dari 14,69 juta ton menjadi 17,40 juta ton atau naik 18,46%.

Kenaikan kebutuhan tersebut berkaitan dengan penerapan mandatori B50 secara penuh sepanjang 2027. Sementara itu, kebutuhan untuk pangan dan oleokimia juga diperkirakan bertambah.

 

Ekspor Menyusut, Pendanaan Biodiesel Ikut Diuji

Kesenjangan antara produksi dan konsumsi domestik berpotensi mempersempit volume minyak sawit yang tersedia untuk pasar ekspor. GAPKI memperkirakan ekspor produk sawit turun dari 31,12 juta ton pada 2026 menjadi 26,49 juta ton pada 2027, atau berkurang sekitar 4,63 juta ton.

Eddy menilai, peningkatan penyerapan untuk biodiesel akan memunculkan konsekuensi yang perlu diperhitungkan pemerintah. Pasalnya, ekspor sawit selama ini menjadi sumber devisa sekaligus menopang penerimaan pungutan ekspor yang digunakan untuk mendukung pembiayaan program biodiesel.

“Apakah akan menurunkan ekspor dengan mandatori B50? Mungkin, tinggal angkanya berapa kan seperti itu,” katanya.

Menurut Eddy, peningkatan kebutuhan dalam negeri harus diimbangi dengan upaya memperbesar produksi, terutama melalui peningkatan produktivitas dan penggunaan benih unggul. Tanpa tambahan pasokan dari kebun, pemenuhan kebutuhan biodiesel yang lebih besar berisiko mengurangi alokasi untuk ekspor.

Sekretaris Jenderal GAPKI, Hadi Sugeng juga menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan antara kebutuhan domestik dan pasar internasional. Berdasarkan catatan GAPKI, hingga Agustus 2026, produksi CPO dan PKO mencapai 41 juta ton, naik 5,02% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, konsumsi domestik tumbuh lebih cepat, yakni 6,81% menjadi 17,52 juta ton.

Pada periode yang sama, nilai ekspor produk sawit mencapai US$27,55 miliar atau sekitar Rp479,76 triliun, meningkat 11,14% secara tahunan. GAPKI memperkirakan nilai ekspor sepanjang 2026 dapat mencapai sekitar Rp668 triliun. Penurunan volume ekspor pada tahun berikutnya berpotensi mengurangi penerimaan devisa tersebut.

Penyusutan ekspor juga perlu dicermati dari sisi pungutan ekspor. Jika volume pengiriman ke luar negeri berkurang, basis penerimaan pungutan berpotensi menyusut, sehingga keberlanjutan pembiayaan biodiesel perlu diperhitungkan, terutama apabila selisih harga minyak sawit dan bahan bakar fosil kembali menuntut subsidi.

 

Pasokan Mengetat, Harga Minyak Nabati Berpotensi Naik

Berkurangnya pasokan ekspor Indonesia juga berpotensi memengaruhi pasar minyak nabati dunia. Sebagai produsen utama minyak sawit, perubahan kebijakan konsumsi domestik Indonesia dapat menggeser keseimbangan pasokan dan permintaan global, terutama jika produksi di negara produsen lain tidak mampu menutup kekurangan pasokan.

Eddy menilai, harga minyak nabati dunia berpeluang menguat pada 2027. Kondisi panen di sejumlah negara produsen turut memengaruhi keseimbangan pasar, sementara meningkatnya serapan sawit untuk biodiesel dapat memperketat ketersediaan minyak sawit untuk kebutuhan pangan dan industri.

Dampaknya juga berpotensi menjalar ke pasar domestik. Jika harga CPO terdorong naik mengikuti harga pasar internasional, biaya bahan baku industri minyak goreng dapat meningkat. Tekanan tersebut berpotensi diteruskan ke harga minyak goreng, bergantung pada perkembangan harga bahan baku, biaya pengolahan, dan kebijakan pemerintah.

Di sisi lain, harga CPO yang lebih tinggi tidak otomatis menguntungkan seluruh pelaku industri. Perusahaan perkebunan dan petani tetap menghadapi kenaikan biaya produksi, sementara kebutuhan bahan baku untuk program biodiesel juga harus dipenuhi. Eddy menegaskan, peningkatan produksi menjadi pekerjaan penting agar kebutuhan biodiesel, konsumsi dalam negeri, dan permintaan ekspor dapat dipenuhi secara lebih seimbang.

 

Windi Listianingsih

Tag:

Bagikan:

Trending

gapki 091026
B50 dan El Nino Bayangi Ekspor Sawit, Devisa Terancam Susut
pre-ipoc 2026
IPOC 2026: Membaca Masa Depan Sawit di Tengah Gejolak Global
FARM 2026
FARM 2026 Satukan Industri Bahas Masa Depan Udang Indonesia
ticeb 2026
Menjaga Pasokan Sawit Tanpa Mengorbankan Keberlanjutan
IMG-20261001-WA0026
Api Tak Kenal Batas Konsesi, GAPKI dan APHI Angkat Fakta dari Lapangan
Scroll to Top