Jakarta, Agrina-online.com. Ancaman terbesar terhadap ketahanan pangan Indonesia bukan hanya perubahan iklim atau alih fungsi lahan. Kondisi tanah pertanian yang terus mengalami degradasi atau ‘sakit’ menjadi persoalan mendasar yang mulai mengkhawatirkan. Menurunnya kandungan bahan organik, rusaknya ekosistem mikroba tanah, hingga penggunaan pupuk kimia secara berlebihan membuat banyak lahan kehilangan kesuburannya.
CEO PT Pramudita Darya Parma, Freddy Wijaya mengatakan, Indonesia sebenarnya dianugerahi tanah vulkanik yang kaya mineral. Namun, kondisi tersebut perlahan berubah akibat berbagai tekanan terhadap ekosistem tanah.
“Berdasarkan penelitian BRIN tahun 2023, lebih dari 65% tanah di Indonesia memiliki kandungan bahan organik kurang dari dua persen. Padahal idealnya berada di kisaran dua hingga tiga persen,” ujarnya saat peluncuran produk pada ajang Inagritech 2026 di Jakarta, Kamis (30/7/2026).
Ia menambahkan, data United Nations Convention to Combat Desertification (UNCCD) menunjukkan sekitar 32,6 juta hektar lahan di Indonesia telah mengalami degradasi. Bahkan pada lahan produktif, luas lahan yang mengalami penurunan kualitas mencapai sekitar 43,35 juta hektar atau sekitar 23,3% dari total kawasan produktif nasional.
“Ini menunjukkan kondisi yang cukup serius. Indonesia dikenal sebagai negara agraris, tetapi lahan-lahan pertaniannya justru mengalami penurunan kesuburan,” katanya.
Menurut Freddy, degradasi tanah dipicu oleh berbagai faktor. Mulai dari deforestasi, konversi lahan, praktik budidaya intensif, perubahan iklim, hingga penggunaan pupuk kimia secara berlebihan dalam jangka panjang.
Ia menjelaskan, penggunaan pupuk kimia memang mampu memberikan respons pertumbuhan tanaman yang cepat sehingga menjadi pilihan utama petani. Namun jika digunakan terus-menerus tanpa diimbangi upaya mengembalikan bahan organik dan kehidupan biologis tanah, kesuburan lahan akan terus menurun.
“Tanaman akhirnya menjadi bergantung pada pupuk kimia karena kondisi tanahnya sudah rusak. Ketika beralih ke pupuk organik atau hayati, pertumbuhannya terasa lambat karena tanahnya memang sudah kehilangan kesehatannya,” jelas Freddy.
Bioteknologi Menghidupkan Kembali Tanah
Berangkat dari kondisi tersebut, PT Pramudita Darya Parma mengembangkan berbagai produk berbasis bioteknologi yang ditujukan untuk memulihkan kesehatan tanah. Salah satunya adalah Pupuk Hayati Dinosaurus yang mengandung kombinasi 18 jenis mikroba alami untuk membantu memperbaiki ekosistem tanah.
Mikroorganisme tersebut berfungsi melepaskan unsur hara yang terikat di dalam tanah, membantu penambatan nitrogen, merangsang pertumbuhan akar, sekaligus menekan perkembangan patogen penyebab penyakit tanaman.
“Kami berusaha hadir sebagai solusi untuk mengembalikan lagi kesuburan tanah dan menciptakan pertanian yang lebih sustainable,” ucap Freddy.
Selain itu, perusahaan juga memperkenalkan DynaSource Liquid Soil Enhancer, produk baru yang dikembangkan untuk rehabilitasi lahan kritis, hydroseeding, hingga pemulihan tanah pasca pembukaan lahan maupun aktivitas pertambangan.
Freddy menjelaskan, ketika lapisan tanah atas (topsoil) hilang akibat pembukaan lahan, proses pembentukan kembali lapisan tersebut secara alami dapat memerlukan waktu puluhan tahun.
“Begitu tanah terbuka, terpapar sinar matahari dan mengalami erosi, keseimbangan ekosistemnya berubah. Tanah menjadi sangat sulit dimanfaatkan kembali sehingga diperlukan proses rehabilitasi untuk mengembalikan kesuburannya,” ungkapnya.
Penggunaan pupuk hayati tidak hanya memperbaiki kondisi tanah, tetapi juga membantu meningkatkan produktivitas tanaman sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia.
Berdasarkan hasil uji coba pada sejumlah petani binaan, penggunaan pupuk hayati mampu meningkatkan hasil panen hingga sekitar 35%, disertai penurunan serangan hama dan penyakit sehingga kebutuhan pestisida maupun pupuk kimia juga berkurang.
“Harapan kami, dengan produk ini kita bisa mengembalikan lagi kesuburan tanah kita untuk bersama-sama menjaga kesuburan tanah sampai ke anak cucu kita nanti. Karena kalau bukan kita yang merawat, siapa lagi,” tutupnya.
Windi Listianingsih







