Jakarta, Agrina-online.com. Dunia sedang tidak baik-baik saja. Suhu iklim naik, perang berkepanjangan, harga pupuk dan pestisida melambung. Tapi di balik krisis, masih ada peluang dan harapan, petani sayur Indonesia untuk bertahan.
Angka bicara. Nilai produksi sayuran nasional tembus Rp120 triliun per tahun. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sendiri diperkirakan membutuhkan pasokan sayur hingga Rp10 triliun per tahun. Ini peluang besar, meski di baliknya ada tantangan seperti konversi lahan terus terjadi, usia petani makin tua, regenerasi nyaris tak terlihat. Sementara di sisi lain, konsumen makin sadar akan pentingnya sayur. Ironis bukan.
Prof. Bayu Krisnamurthi, Guru Besar Agribisnis IPB University, mengingatkan sistem pangan sayuran kita sedang diuji. Prospek besar ini tak akan berarti apa-apa kalau sistem pangannya amburadul. Ada tiga komponen penting yang harus diperkuat yaitu benih sayur yang baik dan terjamin, petani yang handal dan sistem pasca panen modern sehingga suplai bisa stabil, sayur tetap segar, dan aman dikonsumsi.
“Teknologi perbenihan pun diharapkan dapat menjawab tantangan keragaman jenis dan kualitas dari permintaan konsumen, sekaligus menjawab tantangan perubahan iklim. Luas lahan yang semakin sempit membutuhkan tanaman yang lebih produktif,” tegasnya dalam diskusi media bertajuk “Beyond Seeds: Strengthening Indonesia’s Food System” yang digelar PT East West Seed Indonesia (EWINDO) di Jakarta, Rabu (22/4/2026).
Benih sebagai Solusi Ketahanan Pangan
Managing Director EWINDO, Glenn Pardede sependapat bahwa benih unggul adalah fondasi biologis ketahanan pangan. Berbagai studi membuktikan, peningkatan genetik lewat varietas unggul bisa naikkan hasil panen 20–50 persen. “Kami melihat bahwa benih unggul adalah fondasi penting, tetapi tidak berdiri sendiri. Karena itu, kami mendorong pendekatan yang lebih luas dalam sistem pangan melalui peningkatan kapasitas petani dan mendorong konsumsi pangan sehat,” ujarnya.
EWINDO tidak main-main. Perusahaan ini sudah mengoleksi lebih dari 2.000 aksesi kekayaan genetik tanaman lokal dari berbagai wilayah Indonesia. Mulai dari tomat, cabai, bawang, terong, pare, sampai okra. Hasilnya? Petani sekarang sudah bisa menanam varietas unggul yang tahan banting terhadap perubahan iklimseperti bawang merah MERDEKA F1, cabai TANGGUH F1, tomat SERVO F1, semangka AMARA F1, terong M 72 F1, kacang panjang GUARDA F1, dan paria ANGGUN TAVI F1.
Di tengah dunia yang makin tidak menentu, ketahanan pangan ditentukan dari hal paling dasar yaitu benih. Siap atau tidak siap, sekarang saatnya bertindak.
Brenda A.







