1. Home
  2. »
  3. Agrina Update
  4. »
  5. Bayer dan Kemenko PM Satukan Kekuatan untuk Petani

Munas IX Asohi Melempar Gagasan untuk Tantangan Global dan Domestik

Munas IX Asohi Melempar Gagasan untuk Tantangan Global dan Domestik

Jakarta, Agrina-online.com.  Musyawarah Nasional (Munas) ke-9 Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) 2025, muncul kabar dari industri penunjang peternakan ini.

drh. Agung Suganda, M.Si, Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) , Kementan membuka Munas dengan pengumuman bahwa ekspor obat hewan menembus angka Rp5,5 triliun.

Bukan hanya berjaya di kandang sendiri, industri ini sudah merambah ke 95 negara lebih. Capaian fantastis itu menjadikan Munas ASOHI tahun ini momentum yang sangat strategis.

Angka Rp5,5 triliun tersebut, menurut Agung pertanda bahwa industri obat hewan Indonesia telah melangkah jauh ke pasar global dan harus terus dipertahankan bahkan ditingkatkan. Dalam hierarki ekspor subsektor pertanian, peternakan menduduki peringkat kedua.

Meskipun di bawah subsektor perkebunan, kontribusi dari sektor peternakan dan kesehatan hewan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pertanian saat ini sudah mencapai 15,68%.

Laju pertumbuhan PDB di subsektor ini juga konsisten dalam lima tahun terakhir, bahkan pada 2024 naik 2,78% menjadi Rp189,8 juta.

Ekspor produk peternakan, termasuk obat hewan, mengalami kenaikan volume 30% dan nilai 7,37% secara year on year, total nilai tahun ini mencapai Rp15,46 triliun.

Agung menjelaskan, ASOHI sebagai mitra strategis, bahkan sebagai salah satu pilar utama. Pasalnya, ASOHI tak bisa dipandang sebelah mata, menjaga kesehatan ternak, meningkatkan produktivitas, mengawal ketahanan pangan nasional, serta melindungi masyarakat dari penyakit zoonosis dan isu global Antimicrobial Resistance (AMR).

“Produksi komoditas peternakan akan baik, kalau tidak didukung oleh obat hewan kita. Hal ini juga berkaitan erat antara industri obat hewan dengan peningkatan populasi dan produksi ternak,” jelasnya saat memberikan sambutan Munas Asohi IX, Bogor, Kamis (23/10).

Namun, di balik kegemilangan ekspor, ada pekerjaan rumah yang tak kalah mendesak yaitu harga obat hewan. Agung berharap ASOHI dapat membantu menyediakan obat hewan yang terjangkau bagi para peternak.

Agung membandingkan, harga obat cacing di Indonesia bisa 10 kali lipat lebih mahal dibanding di Brasil, padahal jenis obatnya sama.

Menekan harga ini, Agung meminta regulasi dipermudah, terutama terkait importasi dan pengujian, tanpa mengurangi tujuannya. Harga yang kompetitif adalah kunci.

“Kalau harga produk di dalam negeri kita jauh lebih murah, ya ngapain harus impor? Impor itu enggak akan laku. Kompetitifnya harga domestik, ia melanjutkan, menjadi tameng utama untuk menahan gempuran masuknya produk impor, contohnya daging ayam dari Amerika Serikat,” ungkapnya.

Agung mengingatkan, industri obat hewan nasional harus terus didorong dan difasilitasi untuk bersaing secara global.

Namun, ada kehati-hatian, Indonesia tidak boleh menjadi sasaran empuk masuknya produk obat hewan dari luar yang sebetulnya mampu diproduksi di dalam negeri.

“ASOHI, dengan segala capaiannya, diminta untuk terus menjadi motor penggerak demi terwujudnya obat hewan yang terjangkau dan peningkatan daya saing komoditas peternakan nasional,” terangnya.

Sementara itu, Drh. Irawati Fari, Ketua Umum Badan Pengurus ASOHI Pusat periode 2021-2025 mengatakan, Munas IX ini sebagai momentum refleksi, konsolidasi, dan penentuan arah baru demi kemajuan industri obat hewan Indonesia. Tema yang diusung pun cukup provokatif: “Bersama ASOHI Sinergi Kuat Industri Meningkat”.

“Kekuatan industri tidak terletak pada kita berkompetisi semata, melainkan dengan sinergi kita bisa berkolaborasi dengan lebih solid. Kolaborasi antar pelaku industri, regulator, dan stakeholder adalah kunci di tengah tantangan global dan transformasi teknologi,” ujar Irawati.

Munas ke-9 ini terasa istimewa lantaran menjadi titik balik kepemimpinan. Irawati Fari secara tegas menyatakan periode ini adalah yang terakhir baginya setelah mengemban amanah selama dua periode atau delapan tahun.

“Saatnya kita memilih ketua umum yang baru nanti. Berharap ketua baru yang terpilih periode 2025-2029 akan amanah dan menjadikan organisasi lebih solid, mantap, dan jaya,” katanya.

Salah satu “sumbang pikir” terbesar ASOHI yang diluncurkan dalam Munas ini adalah Buku Roadmap Pengembangan Obat Hewan.

Buku ini diharapkan menjadi referensi bagi semua pihak, termasuk pemerintah dan stakeholder lainnya, untuk menyikapi situasi kondisi peternakan dan kesehatan hewan ke depan.

Peluncuran buku ini merupakan upaya pengurus ASOHI 2021-2025 untuk selalu melahirkan atau menunjukkan gagasan ASOHI di setiap Munas.

Pada acara pembukaan Munas, diselipkan agenda ceramah ekonomi yang menarik. ASOHI menghadirkan pakar ekonomi, dengan tema panas: “Dampak Kebijakan Trump terhadap Ekonomi Indonesia, Khususnya Bidang Peternakan”.

Ini menunjukkan asosiasi tak hanya sibuk di kandang sendiri, tapi juga mencermati geliat kebijakan makro pemerintah. Acara juga diselipkan dengan pemberian pelakat kepada para pemangku kepentingan di bidang peternakan, perikanan, dan lainnya.

Pengurus ASOHI Pusat menyatakan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung kegiatan Munas IX ini, terutama kepada Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementerian Pertanian, serta Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Irawati berharap estafet kepemimpinan ASOHI berjalan baik dan organisasi ini terus menjadi wadah yang inklusif, adaptif, dan proaktif.

Tantangan ke depan dipastikan tak ringan, mulai dari tantangan global, dinamika industri lokal, hingga isu kesehatan hewan dan ketahanan pangan.

“Namun, dengan semangat sinergi, ASOHI optimis dapat melangkah lebih jauh, lebih solid, dan lebih berdampak,” pungkasnya.

 

Sabrina Yuniawati

Tag:

Bagikan:

Trending

Astra Agro Goes to Campus, Berbagi Praktik Sawit Berkelanjutan
Astra Agro Goes to Campus, Berbagi Praktik Sawit Berkelanjutan
IMG-20260603-WA0070
Tanam Serentak, Langkah Nyata Menuju Swasembada Pangan
OL sapi perah
HSN ke-18, Saatnya Sapi Perah Masuk Prioritas Swasembada Pangan
TPOMI 2026
Sawit 115 Tahun, Saatnya Ganti Teknologi?
DGL Learning Institute dan Polbangtan Medan Sukses Gelar In House Training Auditor ISPO
DGL Learning Institute dan Polbangtan Medan Sukses Gelar In House Training Auditor ISPO
Scroll to Top