Jakarta, Agrina-online.com. Musyawarah Nasional (Munas) ke-9 Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) 2025, muncul kabar dari industri penunjang peternakan ini.
drh. Agung Suganda, M.Si, Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) , Kementan membuka Munas dengan pengumuman bahwa ekspor obat hewan menembus angka Rp5,5 triliun.
Bukan hanya berjaya di kandang sendiri, industri ini sudah merambah ke 95 negara lebih. Capaian fantastis itu menjadikan Munas ASOHI tahun ini momentum yang sangat strategis.
Angka Rp5,5 triliun tersebut, menurut Agung pertanda bahwa industri obat hewan Indonesia telah melangkah jauh ke pasar global dan harus terus dipertahankan bahkan ditingkatkan. Dalam hierarki ekspor subsektor pertanian, peternakan menduduki peringkat kedua.
Meskipun di bawah subsektor perkebunan, kontribusi dari sektor peternakan dan kesehatan hewan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pertanian saat ini sudah mencapai 15,68%.
Laju pertumbuhan PDB di subsektor ini juga konsisten dalam lima tahun terakhir, bahkan pada 2024 naik 2,78% menjadi Rp189,8 juta.
Ekspor produk peternakan, termasuk obat hewan, mengalami kenaikan volume 30% dan nilai 7,37% secara year on year, total nilai tahun ini mencapai Rp15,46 triliun.
Agung menjelaskan, ASOHI sebagai mitra strategis, bahkan sebagai salah satu pilar utama. Pasalnya, ASOHI tak bisa dipandang sebelah mata, menjaga kesehatan ternak, meningkatkan produktivitas, mengawal ketahanan pangan nasional, serta melindungi masyarakat dari penyakit zoonosis dan isu global Antimicrobial Resistance (AMR).
“Produksi komoditas peternakan akan baik, kalau tidak didukung oleh obat hewan kita. Hal ini juga berkaitan erat antara industri obat hewan dengan peningkatan populasi dan produksi ternak,” jelasnya saat memberikan sambutan Munas Asohi IX, Bogor, Kamis (23/10).
Namun, di balik kegemilangan ekspor, ada pekerjaan rumah yang tak kalah mendesak yaitu harga obat hewan. Agung berharap ASOHI dapat membantu menyediakan obat hewan yang terjangkau bagi para peternak.
Agung membandingkan, harga obat cacing di Indonesia bisa 10 kali lipat lebih mahal dibanding di Brasil, padahal jenis obatnya sama.
Menekan harga ini, Agung meminta regulasi dipermudah, terutama terkait importasi dan pengujian, tanpa mengurangi tujuannya. Harga yang kompetitif adalah kunci.
“Kalau harga produk di dalam negeri kita jauh lebih murah, ya ngapain harus impor? Impor itu enggak akan laku. Kompetitifnya harga domestik, ia melanjutkan, menjadi tameng utama untuk menahan gempuran masuknya produk impor, contohnya daging ayam dari Amerika Serikat,” ungkapnya.
Agung mengingatkan, industri obat hewan nasional harus terus didorong dan difasilitasi untuk bersaing secara global.
Namun, ada kehati-hatian, Indonesia tidak boleh menjadi sasaran empuk masuknya produk obat hewan dari luar yang sebetulnya mampu diproduksi di dalam negeri.
“ASOHI, dengan segala capaiannya, diminta untuk terus menjadi motor penggerak demi terwujudnya obat hewan yang terjangkau dan peningkatan daya saing komoditas peternakan nasional,” terangnya.

