1. Home
  2. »
  3. Tanaman Hias
  4. »
  5. Mengenal Aglaonema Alanaqu, Silangan Terbaru yang Diperkenalkan ke Publik

Langkah Pemerintah Dukung Petani Tebu, Menyerap Produksi hingga Pembatasan Impor Gula Rafinasi

Langkah Pemerintah Dukung Petani Tebu, Menyerap Produksi Petani hingga Pembatasan Impor Gula Rafinasi

Jakarta, Agrina-online.com.  Tingginya komitmen pemerintah dalam komando Presiden Prabowo Subianto dalam mendukung keberlanjutan petani pangan dalam negeri, salah satunya diwujudkan dengan menjaga harga di tingkat petani. Tren berulang berupa depresiasi harga petani saat produksi tengah meninggi dengan sigap diatasi melalui peningkatan penyerapan produksi oleh BUMN dan swasta.

Terkait itu, Kepala Badan Pangan Nasional/National Food Agency (NFA) Arief Prasetyo Adi memastikan realisasi penyerapan gula petani terus meningkat. Terlebih ID FOOD telah disuntik Rp 1,5 triliun oleh Danantara. Tak hanya itu, Arief juga mengungkapkan pemerintah akan mulai mengurangi impor gula rafinasi yang didapati ada yang telah masuk ke pasar umum.

“Pemerintah tentu semuanya mendukung petani tebu. Untuk itu, pemerintah akan kurangi importasi yang berkaitan dengan gula rafinasi sekitar 200 ribu ton. Gula rafinasi harus dikendalikan karena ini kan untuk industri, bukan untuk ke pasaran umum seperti gula konsumsi,” terangnya usai Rapat Koordinasi Terbatas di Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta, Kamis (11/9).

Arief  menjelaskan, “Tadi Pak Menko Pangan menyampaikan melalui Direktorat Jenderal Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga Kementerian Perdagangan diminta untuk mengawasi gula rafinasi ini, karena ada ditemukan di Serang, Banten. Di sana masih ada gula rafinasi. Sementara harusnya ini untuk industri. Penindakan hukumnya itu wilayahnya Satgas Pangan Polri,” imbuhnya.

Untuk diketahui, larangan peredaran gula rafinasi ke pasar umum telah termaktub dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 17 Tahun 2022 tentang Perdagangan Gula Kristal Rafinasi (GKR). Pasal 5 dalam beleid itu mengatur bahwa produsen dilarang menjual GKR kepada distributor, pedagang, dan atau konsumen.

Di samping itu, Kepala NFA Arief Prasetyo Adi juga menyampaikan perkembangan penyerapan gula petani yang telah dilaksanakan BUMN, yakni ID FOOD dan PT Sinergi Gula Nusantara (SGN), serta swasta. Langkah ini untuk mengatasi kelesuan lelang gula di tingkat petani. Terlebih produksi gula kristal putih di September ini diproyeksikan menjadi titik kulminasi panen di 2025 ini.

“Intinya kebijakan pemerintah itu mendukung para petani, impor sebisa mungkin jangan. Pokoknya intinya kita sama petani. Kurs dollar juga hari ini tinggi. Jadi memang yang paling benar itu membangun ekosistem pangan di Indonesia, seperti visi Bapak Presiden Prabowo,” ujarnya.

Per 10 September, total realisasi serapan gula petani yang dipantau NFA telah menyentuh angka 60,6 ribu ton. Rinciannya terdiri dari ID FOOD Group 31,5 ribu ton. Lalu asosiasi pedagang/swasta totalnya 22,2 ribu ton dan SGN 6,9 ribu ton. Sementara sisa belum terserap 21,3 ribu ton dan masih ada pengajuan baru sekitar 30 ribu ton, sehingga total target serapan berada di angka 112 ribu ton.

Produksi gula kristal putih sendiri menurut Proyeksi Neraca Gula Konsumsi per 2 September, menunjukkan pada September ini merupakan titik kulminasi panen dengan estimasi dapat mencapai 777,6 ribu ton. Sementara total produksi gula kristal putih sepanjang 2025 ini diperkirakan mencapai 2,5 juta ton.

“Lalu update penyerapan gula petani dari ID FOOD dan SGN, dua-duanya jalan tapi bertahap. Sekarang ini sisa yang belum terserap sekitar 21 ribu ton. Kemudian yang swasta juga kita minta bantu serap. Jangan sampai petani tak mau nanam tebu, karena tebunya saat sudah jadi gula, tapi ternyata gulanya tak laku,” ungkapnya.

Ditambahkan stok awal 2025 dan impor raw sugar diperoleh total ketersediaan di angka 4,1 juta ton. Sementara kebutuhan konsumsi gula Konsumsi setahun di angka 2,8 juta ton, sehingga diproyeksikan stok gula konsumsi secara nasional sampai akhir 2025 masih terdapat 1,3 juta ton. Untuk itu, Arief mendorong peniadaan impor gula ke depannya.

“Jadi kita sampai dengan akhir tahun, kemungkinan neraca kita masih kelebihan 1,3 juta ton gula konsumsi, sehingga kita lagi berusaha supaya tidak impor. Maksudnya harus diatur produksinya. Kalau kelebihan 1,3 juta ton, itu seharusnya tidak perlu impor,” bebernya.

“Mengenai tetes tebu dan etanol, pabrik gula itu kan memproduksi gula dari tebu. Sebagian ada by product-nya, tapi bukan limbah. Itu bisa dijual namanya tetes, mayoritas dipakai buat etanol. Kalau etanol di impor, maka tetesnya disini tak laku, penuh di tangki, di penyimpanan, pabrik jadi tak bisa giling tebu,” katanya.

Kepala NFA Arief Prasetyo Adi dalam Rakortas hari ini turut pula mengusulkan pembatasan importasi etanol. Menurutnya, Menteri Perdagangan berkomitmen akan melakukan pengkajian dan formula dalam bagaimana mengukur impor etanol ke depannya.

 

Sabrina Yuniawati

Tag:

Bagikan:

Trending

indolivestock award
Bukan Sekadar Award, Indo Livestock Cari Tokoh Pangan Menginspirasi Negeri
debindo
INDOGRITECH Expo 2026 Diluncurkan, Menguatkan Kolaborasi Menuju Kemandirian Pangan
Brondolan sawit AAL dok AAL
Pengendalian Biaya Menopang Pertumbuhan Astra Agro Kuartal I 2026
WhatsApp Image 2026-04-22 at 7.49
Hasil Samping Ikan Disulap Jadi Minuman Kolagen, Dukung Ekonomi Perempuan dan Lingkungan
WhatsApp Image 2026-04-23 at 3.51
Bayu Krisnamurti : Ingatkan Perkuat Sistem Pangan Sayuran Nasional
Scroll to Top