Purwakarta, Agrina-online.com. Program Makan Bergizi Gratis alias MBG diusung guna mempercepat pemenuhan gizi bagi masyarakat. Seperti disampaikan Badan Gizi Nasional, Program MBG 2026 kembali dilaksanakan pada 8 Januari. Program ini langsung melayani 55,1 juta penerima manfaat dan terus digenjot bertahap hingga target 82,9 juta penerima terpenuhi.
Badan Gizi Nasional juga telah membangun 19.188 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai wilayah sebagai infrastruktur pendukung. Komitmen tersebut untuk memperluas jangkaun penerima manfaat MBG.
Lalu, peluang apa yang bisa ditangkap bagi pelaku usaha, selain memasok bahan baku? Seperti digemborkan pemerintah, Program MBG sengaja digulirkan juga sebagai pematik berkembangnya bisnis bagi pelaku UMKM.
Cita Rasa Resto
Berbeda dengan lainnya yang berlomba memasok bahan baku seperti sayuran, ayam, daging, dan telur, PT Arto Berkah Center memilih menyasar segmen bumbu. Sebagian tentu melihatnya sebagai sebuah sisi kecil, padahal nyatanya bumbu tergolong vital dalam hidangan.
Dudi Ruhendi, Marketing Division PT Arto Berkah Center membeberkan, pihaknya melihat peluang berdasarkan realitas di lapangan. Banyak penerima manfaat MBG (anak sekolah, balita, dan ibu hamil), tidak menghabiskan porsi makanan yang diberikan lantaran cita rasanya kurang menarik. Selain itu dalam banyak kasus saat porsi yang disiapkan berjumlah besar, cita rasa makanan menjadi tidak konsisten.
“Tujuan kita sama untuk mencerdaskan anak bangsa melalui MBG, makanya makanan yang disediakan harus nikmat sehingga bisa dihabiskan dan tujuan MBG bisa tercapai,” ungkap jebolan IPB University ini di Wanayasa, Purwakarta.
Oleh karena itu, menurut Dudi, pihaknya melihat bumbu sangat penting dan menyasar segmen tersebut dengan menghadirkan bumbu instan siap pakai. Mengusung merek Traju Bumbu Masak – Bumbu Masak Ala Resto, Dudi menggadang produknya mampu mengatrol cita rasa makanan MBG layaknya masakan resto.
“Sebelumnya kami memangg memasok dan memasarkan bumbu ke resto-resto, jadi soal rasa sudah terbukti,” cetus Dudi yang menjamin produknya tetap mengusung kata kunci Sehat. “Karena untuk MBG dan tagetnya anak-anak, kita pastikan tetap sehat, kadar garam, tingkat kepedasan, dan lainnya tetap terkontrol,” sambungnya.
Pangkas Waktu
Selain menghadirkan cita rasa resto, Dudi mengungkapkan setidaknya ada 3 poin keunggulan lain dari penggunaan Traju. Pertama adalah menghemat waktu penyiapan makanan di SPPG.

Umumnya staf SPPG harus menyiapkan bahan dan bumbu H-1 dari jadwal MBG. Dengan Traju, kondisi tersebut bisa dipangkas selain lebih praktis dan efisien. Lantaran sudah siap pakai, bumbu Traju tinggal digabungkan dengan sayuran, telur, ayam, atau bahan lain untuk menghasilkan makanan MBG.
Keunggulan berikutnya adalah tanpa bahan pengawet. Dudi mengungkapkan, Traju diracik dari bahan alami, diolah higienis, dan tanpa pengawet. “Karena tidak pakai bahan pengawet, expired-nya hanya 5 hari, tapi kalau disimpan di chiller tahan 6 bulan,” cetus Dudi.
Varian yang banyak menjadi keunggulan berikutnya. Saat ini varian Traju mencapai 44 jenis menu bumbu siap saji. Mulai dari bumbu tempe bacem, ayam goreng rempah, ayam bakar madu, nasi goreng, mie goreng, aneka tumis, hingga pasta macam bolognese.
“Di luar varian yang sudah ada, kami sangat terbuka untuk varian menu sesuai keinginan SPPG,” ungkap Dudi yang juga menyebut bahan-bahan pembuat Traju semuanya dipasok dari petani lokal melalui penyuplai.
Kontrak 22 SPPG
Dudi memaparkan, sejauh ini pihaknya sudah bekerja sama dengan 22 SPPG di sekitaran Jabodetabek dan Jawa Tengah. Ke depannya, ia menargetkan untuk dapat lebih banyak bekerja sama dengan SPPG di berbagai wilayah.
“Minggu depan kami rencana presentasi dengan 11 SPPG di Kabupaten Bogor, dan 4 SPPG di kota Bogor, mudah-mudahan bisa terjalin kerja sama,” tutur Dudi yang juga menjelaskan bahwa perusahaannya memiliki 4 lokasi produksi bumbu Traju dengan yang terbesar berada di Cimanggis, Depok, Jawa Barat.
Untuk pengiriman Traju ke SPPG, Dudi mengatakan bahwa pihaknya tidak mengenakan biaya kirim selama lokasinya dekat dari pabrik. Sementara, periode kirim disesuikan dengan jumlah target porsi makanan dari setiap SPPG.
“Kita ‘kan kemasan 1 kg dan setiap varian beda porsinya. Misal untuk nasi goreng 1 kg Traju, bisa untuk 85 porsi saji. Kalau ayam goreng, dari 1 kg bumbu bisa 215 porsi, jadi kirim sesuai target porsi. Setiap SPPG ‘kan berbeda, jadi disesuaikan,” papar Dudi sambil menyebut harga Traju berbanderol ekonomis.
Terkait sistem kerja sama dengan SPPG, Dudi memaparkan, pihaknya menggunakan sistem kontrak selama 1 tahun. Jadi selama periode itu, harga Traju disepakati di awal dan tetap hingga kontrak selesai. Hal tersebut guna meminimalkan dampak fluktuasi harga bahan baku. Menjadi rahasia umum jika cabai, bawang merah, bawang putih, dan lainnya yang merupakan bahan utama Traju harganya kerap naik-turun.
Dengan makin menjamurnya SPPG di berbagai daerah, Dudi yakin bisnis bumbu Traju kian melaju. Tertarik mengikuti jejak Traju?
Selamet Riyanto







