Jakarta, Agrina-online.com – Pemenuhan gizi seimbang melalui konsumsi protein hewani menjadi langkah krusial dalam mencetak generasi emas Indonesia yang bebas dari stunting .
Hal ini dipertegas, Ahli gizi, Dr. Rita Ramayulis, DCN, M.Kes bahwa ayam dan telur merupakan solusi pangan lokal yang paling efektif dan efisien untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak.
“Konsumsi ayam dan telur secara tepat merupakan solusi efektif dan efisien untuk mencegah stunting ,” ungkapnya dalam acara ‘Asohi Protein Walk 2026’ di Taman Wisata Wiladatika, Cibubur, Sabtu (24/10).
Menurut Dr. Rita, masa depan bangsa sangat ditentukan oleh kualitas tumbuh kembang anak sejak usia dini. .
Protein hewani kualitas tinggi yang terkandung di dalam ayam dan telur memiliki peran strategis yang tidak dapat digantikan sepenuhnya oleh sumber pangan lain.
“Konsumsi ayam dan telur secara tepat adalah solusi nyata. Keduanya tidak hanya nutrisi padat, tetapi juga mudah didapat oleh masyarakat luas,” ujarnya.
Mengapa Harus Ayam dan Telur?
Dr. Rita memaparkan beberapa keunggulan utama ayam dan telur sebagai senjata utama melawan stunting . Pertama, asam amino esensialnya lengkap. Protein hewani dari ayam dan telur menyediakan asam amino esensial dalam jumlah lengkap.
Hal ini sangat dibutuhkan untuk membangun sel-sel tubuh dan jaringan otak anak. Kedua, bioavailabilitas tinggi. Zat gizi yang terkandung di dalam kedua bahan pangan ini memiliki tingkat penyerapan yang tinggi, sehingga tubuh anak dapat memanfaatkannya secara maksimal.
Ketiga, ekonomi dan mudah diakses. Dibandingkan sumber protein hewani lainnya, ayam dan telur menjadi opsi yang paling terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia.
Manfaat Nyata untuk Anak
Dr. Rita merici beberapa poin manfaat nyata mengonsumsi ayam dan telur bagi anak-anak Indonesia. Poin pertama, dapat mencegah Stunting. Konsumsi rutin membantu memastikan anak mencapai tinggi dan berat badan ideal sesuai usianya.
Lalu poin kedua, mengoptimalkan kecerdasan: Nutrisi di dalamnya mendukung perkembangan kognitif dan kemampuan belajar anak secara maksimal.
“Pengenalan ayam dan telur sudah bisa dimulai sejak anak memasuki masa Makanan Pendamping ASI (MPASI) usia 6 bulan,” jelasnya.
Variasi masakan sehat, selanjutnya dapat disajikan dalam bentuk yang mudah dicerna, seperti dikukus, direbus, atau dicampur ke dalam bubur tim.
“Dua protein ini dapat dikonsumsi setiap hari. Memasukkan minimal satu butir telur atau porsi ayam yang cukup ke dalam menu harian anak,” tutupnya.
Sabrina Yuniawati







