Jakarta, Agrina-online.com. Pameran dagang internasional terkemuka Indonesia untuk peternakan, susu, pengolahan daging, dan perikanan ILDEX Indonesia secara resmi akan menjadi acara tahunan dimulai pada 2026.
Pameran ternak ini memperkuat perannya sebagai gerbang menuju sektor agribisnis dan ketahanan pangan Indonesia yang terus berkembang.
ILDEX Indonesia, diselenggarakan sebagai jawaban pertumbuhan permintaan dan transformasi cepat di industri peternakan nasional. Dalam acara soft launching ILDEX Indonesia 2026, diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 25 November 2025.
Ruri Sarasono, Direktur Utama PT Permata Kreasi Media (PKM), menyampaikan bahwa edisi berikutnya, ILDEX Indonesia 2026, akan diselenggarakan pada 16–18 September 2026.
Bertempat di Hall 5–6, ICE BSD City, Tangerang, melanjutkan kolokasi dengan Horti & Agri Indonesia serta memperkenalkan Dairy Pavilion yang berfokus pada rantai suplai produksi dan pengolahan susu.
“Tingginya permintaan dari industri peternakan baik nasional maupun internasional membuat penyelenggaraan event ILDEX Indonesia diadakan lebih cepat, untuk menjawab kebutuhan industri yang terus berkembang” ujarnya.
Ruri menambahkan, pada tahun depan menjadi momentum penting bagi dunia peternakan khususnya perunggasan.
Banyak pihak menilai bahwa momentum industri peternakan saat ini sangat strategis, apalagi pemerintah juga tengah memperkuat fokus pada kemandirian pangan asal ternak, stabilitas pasokan MBG dan percepatan pembangunan sektor persusuan Indonesia.
Pada acara soft launching ILDEX Indonesia 2026 juga dilengkapi dengan acara bincang perunggasan yang menghadirkan Ketua Umum GPMT (Gabungan Perusahaan Makanan Ternak), Desianto Budi Utomo.
Dalam kesempatan tersebut Desianto menyampaikan bahwa sebagai sumber bahan pakan pokok utama di dalam formulasi ayam bahwa dari 110 pabrik pakan anggota GPMT, 90% memproduksi bahan pakan ayam. Jika industri perunggasan kolaps, maka GPMT juga.
Ia menyinggung terkait tarif yang diberikan Presiden Trump yaitu kebijakan tarif 0% untuk produk Amerika Seikat yang masuk Indonesia, sedangkan tarif Indonesia ekspor ke AS (Amerika Serikat) sekitar 19%.
“Tarif ini salah satu ancaman industri perunggasan adalah CLQ (chicken leg quarter) dari AS. Kalau ayamnya masuk, nanti negara penghasil CLQ lain akan mengantre. Ini bisa menjadi disaster bagi perunggasan Indonesia” tegasnya.
Di tempat sama, Ketua IV GPPU (Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas), Asrokh Nawawi menyebutkan bahwa potensi genetik dari ayam yang ada di Indonesia berkembang amat sangat pesat.
Dalam lima tahun terakhir ini luar biasa, sebab lima tahun yang lalu satu ekor GPS (Grand Parent Stock) ayam mampu menghasilkan kira-kira 30-40 ekoe (Parent Stock).
Satu ekor PS mampu menghasilkan 120-130 ekor final stock (FS). Asrokh menambahkan bahwa pasokan kebutuhan daging ayam di Indoesia dapat tercukupi secara nasional tanpa perlu melakukan importasi.
Sementara dalam kesempatan lain Justin Pau, CEO VNU Asia Pacific, menekankan pentingnya posisi strategis Indonesia dalam rantai nilai peternakan di kawasan.
Indonesia merupakan salah satu pasar peternakan paling dinamis di Asia, dengan potensi pertumbuhan yang sangat besar di sektor pakan, unggas, susu, dan kesehatan hewan.
ILDEX Indonesia sebagai acara tahunan mulai tahun 2026, kami bertujuan menciptakan lebih banyak peluang bagi merek-merek global untuk memasuki pasar dengan permintaan tinggi ini dan terhubung langsung dengan distributor, produsen, serta investor lokal.
“Ini bukan sekadar soal bisnis, tetapi tentang membangun kemitraan jangka panjang yang akan membantu industri memenuhi kebutuhan protein Indonesia yang terus meningkat secara berkelanjutan. Babak baru ini dimulai dengan ILDEX Indonesia edisi ke-8 tahun 2026,” jelasnya.
Pada edisi ILDEX Indonesia 2025 mencetak capaian luar biasa, menjadi penyelenggaraan terbesar dengan rekor partisipasi internasional dan jumlah pengunjung dagang. Jumlah pengunjung profesional sekitar 12.880 dari 43 negara serta 2.107 peserta konferensi yang mengikuti berbagai sesi teknis dan bisnis.
Fitri Nursantri P, Direktur PT Permata Kreasi Media (PKM), menyatakan bahwa ILDEX 2025 yang menghadirkan 278 peserta dari 26 negara, termasuk perwakilan dari Asia, Amerika Serikat, dan Eropa, berperan sebagai jembatan bagi para pelaku industri peternakan global.
“ILDEX bukan hanya platform bisnis, tetapi juga pusat untuk berbagi inovasi dan memfasilitasi alih pengetahuan,” jelasnya.
Fitri menambahkan, “ILDEX Indonesia bukan sekadar platform pameran, tetapi juga titik temu bagi para pemangku kepentingan, menghubungkan pemerintah, para pemimpin industri, akademisi, dan profesional untuk berkolaborasi dan membentuk masa depan sektor peternakan,” pungkasnya.
Sabrina Yuniawati







