Negeri ini patut khawatir ketika Amerika Serikat (AS) mengajukan syarat pembelian produk pertanian dengan tarif 0% demi penurunan tarif bea masuk produk Indonesia 19% ke pasar Amerika. Tersebut dalam dokumen kesepakatan dagang AS-Indonesia adalah paha ayam (chicken leg quarter, CLQ) sebagai bagian dari produk pertanian yang harus diimpor Indonesia dari AS.
Paha ayam mungkin menjadi produk ‘buangan’ di Amerika karena warganya lebih menyukai potongan bagian dada. Dan pastinya, harga paha ayam itu juga murah karena menjadi produk inferior. Tapi di Indonesia, masyarakatnya meminati semua bagian ayam, terlebih paha. Masalah utamanya tidak berhenti di situ. Daya saing unggas Indonesia kalah jauh dari Amerika.
Ongkos produksi daging ayam di negeri Paman Sam itu sangatlah efisien lantaran industrinya terintegrasi dari hulu hingga ke hilir. Apalagi, akses jagung dan kedelai sangat mudah, melimpah, dan harganya murah. Posisi Amerika sebagai produsen ayam dunia juga sangat kuat, menempati urutan terbesar dengan produksi lebih dari 20 juta ton daging ayam per tahun. Pangsa pasar CLQ AS di dunia mencapai 17,65% atau senilai US$3,27 juta, ada di urutan kedua dunia setelah Brasil sebesar US$7,08 juta pada 2024.
Tentu berbeda dengan Indonesia yang bahan pakannya saja masih mengandalkan impor. Meski begitu, negara ini sudah lama swasembada daging ayam. Produksinya surplus 310 ribu ton di tahun lalu. Hitung-hitungan kasar harga CLQ di Amerika sekitar Rp46 ribu – Rp50 ribu per kg, sedangkan di Indonesia berkisar Rp60 ribu per kg. Harga yang sangat kompetitif dan tanpa hambatan tarif ini tentu akan sangat mengganggu industri unggas Indonesia. Jika impor tidak dikelola dengan baik, “Risiko PHK massal di sektor peternak rakyat akan luar biasa,” kata pakar agribisnis, Bungaran Saragih.
Rizal Taufikurahman, Ekonom Institute for Development of Economic and Finance (INDEF), merekomendasikan strategi jangka pendek, menengah, dan panjang untuk pemerintah. Meliputi, insentif pakan dan safeguard impor, hilirisasi produk olahan dan modernisasi logistik, kemandirian pakan, teknologi genetik, dan energi terbarukan untuk peternakan dan rumah potong hewan (RPH). Pemerintah juga harus menjadi fasilitator kebijakan hulu-hilir.
Pengusaha besar harus berinvestasi di hilir, menerapkan kemitraan dengan jaminan harga pembelian yang jelas, serta adopsi teknologi efisien pakan dan diversifikasi pasar ekspor. Peternak kecil menerapkan efisiensi pakan, biosekuriti, dan kelembagaan yang kolektif.
Memanfaatkan tarif Trump, Bungaran menilai, merupakan kesempatan Indonesia mereposisi diri menjadi pemain global sektor perunggasan. Pasalnya, ada potensi pasar ekspor unggas halal di China, Pakistan, dan India yang belum sepenuhnya digarap. Belum lagi pasar Timur Tengah dan Afrika yang cukup menjanjikan.
Terdapat 5 strategi menghadapi kebijakan Trump ala Bungaran yang bisa diterapkan. Yaitu, peningkatan efisiensi produksi ayam melalui penguatan industri pakan, mekanisasi dan precision farming, serta integrasi hulu-hilir. Kemudian, diversifikasi pasar dan produk dengan mendorong ekspor unggas olahan dan halal ke Timur Tengah, Asia Selatan, dan Afrika.
Berikutnya, perlindungan lewat kebijakan tarif dan nontarif. Setidaknya, kenakan tarif masuk 20%-30% untuk produk ayam impor dan penerapan standar halal, kesejahteraan hewan, dan SPS.
Lalu, penguatan industri hilir domestik dan mendorong BUMN Pangan masuk dalam rantai dingin industri unggas. Terakhir, kemitraan peternak dan swasta supaya peternak rakyat tak ketinggalan.
Yang juga tidak boleh luput dari perhatian, di pasar domestik terjadi perubahan selera konsumen. Tiap generasi punya karakter masing-masing. Terkhusus generasi Z, amat melek teknologi dan informasi berbekal gawai yang tidak lepas dari tangan. Preferensi konsumsinya pun jauh lebih kritis dari generasi sebelumnya.
Tak cukup lagi produk bagus dan menarik dipandang, harus pula beroleh ulasan yang baik dari para pembeli. Di tambah, generasi Z amat peduli masalah sosial dan keberlanjutan. Produk-produk dengan kemasan ramah lingkungan hingga menyisihkan hasil penjualan untuk amal misalnya, akan jadi pilihan untuk dibeli. Mari bersiap menghadapinya!
Windi Listianingsih







