1. Home
  2. »
  3. Berita
  4. »
  5. Revamping Pabrik-2 Pupuk Kaltim, Dorong Lompatan Produksi

Berikut Harapan Ketua ASOHI Baru untuk Industri Obat Hewan

Berikut Harapan Ketua ASOHI Baru untuk Industri Obat Hewan

Jakarta, Agrina-online.com.  Pengukuhan Ketua Umum baru Asosiasi Obat Hewan Indonesia (Asohi) telah diselenggarakan di Kementerian Pertanian pada 1 Desember 2025.

Sebelumnya ASOHI melaksanakan Munas IX di Bogor untuk melakukan voting secara luring dan daring. Melalui kesepakatan Akhmad Harris Priyadi terpilih menjadi Ketua Umum ASOHI, periode 2025-2029.

Dalam kata sambutannya Harris biasa ia disapa menyampaikan, visi ASOHI yaitu mewujudkan ASOHI lebih inovatif, fasilitatif, dan lebih kuat dengan seluruh pemangku kepentingan untuk kemajuan industri peternakan dan kesehatan hewan Indonesia.

Misinya lanjut Harris, pertama, ASOHI mendorong interaksi dan komunikasi transparan, pelaporan terjadwal kepada anggota, pemanfaatan teknologi informasi, serta database untuk pemutakhiran data industri.

Kedua, ASOHI sinergi, meningkatkan kolaborasi efektif dengan pemerintah dan mitra strategis lokal dan regional, fokus solusi pengembangan industri obat hewan, peternakan, dan kesehatan hewan.

Ketiga, ASOHI kuat, menguatkan peran, profesionalitas, dan kemandirian ASOHI daerah, pembentukan ASOHI Jakarta-Banten, atensi dan kunjungan interaksi pusat dan daerah, serta kederisasi anggota.

Keempat, industri meningkat, melanjutkan peran aktif ASOHI pada kemajuan industri obat hewan serta peternakan dan kesehatan hewan Indonesia. mendukung kearifan lokal obat hewan, peternakan, dan kesehatan hewan, AMR, TKDN, ASUH, serta mengacu pada roadmap pengembangan obat hewan Indonesia.

Harris melanjutkan, program jangka panjang ASOHI tentu bersinergi dengan stakeholder lain, terutama mitra ASOHI yaitu Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan. Hal ini dilakukan untuk menentukan regulasi yang lebih adaptif terhadap perubahan-perubahan saat ini dan tantangan baru.

“Selain itu, penguatan anggota ASOHI khususnya di bidang ekspor, sehingga tidak hanya fokus pada dalam negeri tapi juga ekspor,” jelasnya saat diwawancarai AGRINA, Gedung D Auditorium Kementan, Jakarta (1/12).

Di tempat sama, Hendra Wibawa, Direktur Kesehatan Hewan, Kementan mengatakan, Kementan telah menyiapkan tiga pendekatan utama untuk memajukan industri obat yaitu regulasi adapfit, fasilitasi ekspor, dan penguatan kapasitas nasional.

Salah satunya agenda krusial revisi peraturan mengenai obat hewan. Saat ini diatur dalam Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) nomor 15 Tahun 2021. Selain itu Kementan terus memfasilitasi ekspor obat hewan. Pasalnya ekspor obat hewan terus meningkat setiap tahunnya.

Pemerintah lanjut Hendra, menempatkan industri obat hewan sebagai salah satu pilar utama dalam menjaga kesehatan hewan, produktivitas, ketahanan pangan, serta melindungi masyarakat dari penyakit yang mengancam. “Kerja sama antara pemerintah dan ASOHI harus terus diperkuat dalam semangat kolaborasi,” jelasnya.

 

Mengatasi Peredaran Obat Hewan Via Daring

Hendra mengatakan, salah satu tantangan terbesar yang disorot saat ini adalah perubahan dalam distribusi obat hewan. Masuknya era digital, penjualan obat hewan marak melalui berbagai platform daring. Hal ini menimbulkan risiko seperti peredaran obat hewan yang tidak resmi atau palsu dan risiko terhadap keamanan hewan.

Terkait hal ini, pemerintah telah memulai inisiasi pemetaan peredaran obat hewan secara digital dan mengajak ASOHI untuk bekerja sama dalam pengawasan.

“Pemerintah telah melaksanakan pemetaan peredaran obat hewan, bekerja sama dengan asosiasi e-commerce, mengajak ASOHI untuk bisa memastikan pengerjaan bersama-sama memberantas obat hewan palsu,” katanya.

Harris mengatakan, industri obat hewan mengalami kerugian sangat besar terhadap beredarnya vaksin, obat-obatan ilegal yang dijual di online. Upaya telah dilakukan bahwa pengawas obat telah men-take down beberapa market place. Namun sayangnya lebih banyak lagi website atau market place bermunculan.

“Ini tidak selesai-selesai, makanya pak Dirjen PKH ingin adanya peningkatan atau nail level. Nanti Kementerian akan koordinasi dengan Komdigi sebagai salah satu jalan yang bisa dilakukan, kalau tidak kucing-kucingan terus, karena ini kerugiannya cukup banyak bukan hanya segi ekonomi, tapi material dan risiko pada hewannya,” tegasnya.

 

Sabrina Yuniawati

 

 

 

 

Tag:

Bagikan:

Trending

Pupuk Indonesia Resmikan Modernisasi Pabrik Tertua Pupuk Kaltim
Pupuk Indonesia Resmikan Modernisasi Pabrik Tertua Pupuk Kaltim
GAPKI & ILO
GAPKI dan ILO Bekali Pelatihan Praktik Bisnis Bertanggung Jawab
Revamping Pabrik-2 Pupuk Kaltim, Dorong Lompatan Produksi
Revamping Pabrik-2 Pupuk Kaltim, Dorong Lompatan Produksi
BULOG Perkuat Sinergi dengan TNI AD, Percepatan Penyerapan Gabah
BULOG Perkuat Sinergi dengan TNI AD, Percepatan Penyerapan Gabah
Ekspor Perikanan ke Taiwan dan Korsel Naik Jelang Imlek 2026
Ekspor Perikanan ke Taiwan dan Korsel Naik Jelang Imlek 2026
Scroll to Top