Jakarta, Agrina-online.com. Di tengah meningkatnya kebutuhan pangan nasional dan tekanan global yang terus berubah, satu pertanyaan besar mengemuka: ke mana arah bisnis peternakan Indonesia pada 2026?
Jawaban atas pertanyaan tersebut, akan terkuak dalam Seminar Nasional Outlook Bisnis Peternakan 2026 digelar oleh Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) pada Selasa, 16 Desember 2025, Menara 165, Jakarta Selatan, dengan format hybrid.
Forum tahunan ini dipersiapkan sebagai ruang strategis untuk membaca lebih awal berbagai sinyal penting industri, mulai dari proyeksi pertumbuhan, risiko kesehatan ternak, hingga tantangan keamanan pangan yang semakin kompleks.
Tahun ini, sorotan utama tertuju pada industri pakan ternak, yang diproyeksikan tumbuh lebih dari 6% pada 2026, seiring meningkatnya kebutuhan protein hewani dan ekspansi subsektor unggas.
Namun, pertumbuhan tersebut bukan tanpa tantangan. Di balik angka positif, muncul isu-isu krusial yang akan menentukan keberlanjutan industri, salah satunya adalah Antimicrobial Resistance (AMR) dan potensi residu obat hewan.
Isu ini diperkirakan akan menjadi salah satu topik diskusi paling dinanti, mengingat dampaknya tidak hanya pada produktivitas ternak, tetapi juga pada kepercayaan konsumen dan akses pasar ke depan.
ASOHI menyiapkan sejumlah narasumber kunci untuk mengulas persoalan ini dari berbagai sudut pandang.
Sisi kebijakan nasional, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian RI dijadwalkan memaparkan arah strategis pembangunan peternakan dalam mendukung ketahanan dan keamanan pangan.
Sementara itu, perspektif ekonomi makro akan disampaikan oleh ekonom CELIOS, yang akan mengupas peluang dan risiko bisnis peternakan 2026 di tengah gejolak perang tarif dan ketidakpastian global.
Hal yang menarik, seminar ini juga akan menghadirkan para ketua umum asosiasi industri peternakan nasional, masing-masing membawa gambaran nyata dari lapangan.
Ketua Umum Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU) akan mengulas potret pembibitan unggas dan prospeknya ke depan, sementara Ketua Umum Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) dijadwalkan mengungkap arah bisnis pakan ternak 2026.
Sisi peternak rakyat, Ketua Umum Pinsar Indonesia akan menyoroti dinamika pasar unggas dan tantangan struktural yang masih membayangi. Perspektif ternak ruminansia akan dibawa oleh Ketua Umum PPSKI, sedangkan gambaran industri kesehatan hewan akan dipaparkan langsung oleh Ketua Umum ASOHI.
Melibatkan pelaku usaha, asosiasi, regulator, akademisi, dan investor, seminar ini diproyeksikan menjadi salah satu forum paling komprehensif untuk membaca peta bisnis peternakan Indonesia sebelum memasuki 2026.
ASOHI menempatkan agenda ini bukan sekadar sebagai evaluasi tahunan, melainkan sebagai upaya menyusun arah bersama di tengah pertumbuhan, risiko, dan tuntutan keberlanjutan yang kian menguat.
Menekan Penggunaan Antibiotik
Bagi ASOHI, investasi masa kini bukan lagi sekadar tanah, bangunan, atau aset modal fisik semata. Di era transisi ini, informasi dan pengetahuan menjadi “modal kapital” yang tak kalah krusial.
“Edukasi adalah komponen investasi yang sangat penting,” tegas Ketua Umum ASOHI, Harris Priyadi. Salah satu medan tempur utama edukasi ini adalah pengendalian resistensi antimikroba atau Antimicrobial Resistance (AMR).
Edukasi ini bukan sekadar kampanye, pemerintah bersama ASOHI menjalankan Rencana Aksi Nasional yang melibatkan berbagai lembaga seperti Fleming Fund.
Targetnya ambisius tahun depan, penggunaan beberapa jenis antibiotik pada ternak akan dikurangi atau dibatasi secara ketat.
Kebijakan ini tentu menjadi pil pahit bagi sebagian peternak. Oleh karena itu, edukasi mengenai alternatif pengobatan selain antibiotik menjadi mendesak bagi para peternak dan dokter hewan di lapangan.
Langkah memperketat penggunaan antibiotik hewan ini diambil, tujuan besarnya mencegah residu obat masuk ke tubuh manusia. “Industri kesehatan hewan akan tetap berlangsung baik dengan opsi yang benar,” tuturnya.
Meski tantangan di depan mata, sinergi antara pemerintah, asosiasi, dan akademisi diharapkan mampu menciptakan industri peternakan yang lebih tangguh dan sehat bagi konsumen.
Sabrina Yuniawati







