Bengkulu, Agrina-online.com – Setelah mendapatkan pembekalan teori mengenai sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dan penerapan Internal Control System (ICS), peserta Pelatihan Sertifikasi Auditor ISPO Pekebun diajak memperdalam pemahaman melalui kunjungan lapangan ke Kelompok Tani Harapan Kita, Kecamatan Pinoraya, Kabupaten Bengkulu Selatan, Provinsi Bengkulu.
Kegiatan kunjungan lapangan tersebut menjadi bagian penting dalam rangkaian pelatihan yang diselenggarakan DGL Learning Institute berkolaborasi dengan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun), Kementerian Pertanian, bersama Pemerintah Kabupaten Bengkulu Selatan.
Peserta telah mendapatkan berbagai materi di kelas mengenai persyaratan sertifikasi ISPO, pengelolaan dokumen dan rekaman, praktik perkebunan yang baik atau Good Agricultural Practices (GAP), teknik audit Tim Kendali Internal, pengelolaan lingkungan, serta transparansi.
Melalui kunjungan tersebut, peserta tidak hanya mempelajari materi secara teoritis, tetapi juga melihat secara langsung bagaimana prinsip-prinsip yang telah dipelajari dalam kegiatan perkebunan dan pengelolaan kelompok pekebun.
Di lapangan, peserta diajak mengamati berbagai aspek yang berkaitan dengan tata kelola kelompok pekebun, mulai dari kondisi kegiatan perkebunan, penerapan praktik perkebunan yang baik, hingga ketersediaan dokumen dan rekaman sebagai bukti pelaksanaan kegiatan.
Kegiatan ini menjadi kesempatan bagi peserta untuk menghubungkan materi pembelajaran dengan kondisi nyata di tingkat pekebun. Dalam penerapan ISPO, dokumen berfungsi sebagai pedoman pelaksanaan kegiatan, sedangkan rekaman menjadi bukti bahwa kegiatan tersebut benar-benar telah dilaksanakan.
Oleh karena itu, pengelolaan dokumen dan rekaman menjadi salah satu aspek penting yang perlu dipahami oleh calon auditor.
Selain melihat aspek administrasi, peserta juga dapat memperdalam pemahaman mengenai penerapan Good Agricultural Practices (GAP), termasuk bagaimana kegiatan perkebunan yang dikelola secara terencana dengan tetap memperhatikan aspek lingkungan dan perjalanan.
Materi tersebut sebelumnya telah diberikan di kelas dan kemudian diperdalam melalui pengamatan langsung di lapangan.
Kunjungan ke Kelompok Tani Harapan Kita juga memberikan gambaran kepada peserta mengenai proses pengumpulan bukti dalam pelaksanaan audit.
Peserta dapat belajar mengidentifikasi informasi yang diperlukan, mencermati kesesuaian antara dokumen dengan kondisi lapangan, serta memahami bagaimana suatu temuan dapat dinilai berdasarkan bukti yang tersedia.
Kegiatan lapangan juga menjadi ruang pembelajaran untuk memahami aspek transparansi dalam tata kelola kelompok pekebun.
Salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah keterbukaan informasi serta pencatatan realisasi harga penjualan tandan buah segar (TBS), sehingga transaksi dan informasi yang berkaitan dengan kegiatan kelompok dapat ditelusuri dengan baik.
Dengan melihat langsung kondisi di lapangan, peserta diharapkan memiliki pemahaman yang lebih utuh mengenai bagaimana standar dan prinsip ISPO diterapkan pada tingkat kelompok pekebun.
Pengalaman tersebut sekaligus menjadi bekal bagi peserta untuk memahami tantangan yang mungkin dialami ketika nantinya menjalankan fungsi audit dan pendampingan.
Melalui perpaduan pembelajaran teori dan praktik lapangan ini, pelatihan diharapkan mampu meningkatkan kompetensi calon auditor dalam mendukung penerapan ISPO di tingkat pekebun.
Pada akhirnya, peningkatan kompetensi tersebut diharapkan turut memperkuat sistem pengendalian internal, kualitas administrasi, serta tata kelola perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Sabrina Yuniawati







