1. Home
  2. »
  3. Berita
  4. »
  5. PIS Salurkan Air Bersih Ke Petani Labuan Bajo

Jaga Mutu, Pangkas Susut Panen Sawit

Palembang, Agrina-online.com. Nilai hasil kebun sawit tidak berhenti pada banyaknya tandan buah segar (TBS) yang dipanen. Setelah tandan terlepas dari pohon, masih ada sejumlah tahapan yang menentukan berapa besar potensi hasil tersebut dapat dipertahankan hingga masuk ke pabrik kelapa sawit (PKS).

Tingkat kematangan buah, ketepatan teknik panen, penanganan TBS dan brondolan, hingga waktu tempuh menuju pabrik menjadi mata rantai yang saling berkaitan. Kelalaian pada salah satu titik dapat meningkatkan kehilangan hasil sekaligus memengaruhi mutu bahan baku yang diterima pabrik.

Kemampuan menjaga hasil sejak panen inilah yang menjadi salah satu fokus Pelatihan Teknis Panen dan Pascapanen Program Pengembangan SDM Perkebunan (SDMP) 2026. Kegiatan yang berlangsung di Palembang, 24–29 Agustus 2026 tersebut diikuti 111 pekebun dari Kabupaten Musi Rawas dan Muara Enim, Sumatera Selatan.

Kepala Bagian Usaha Hulu Pusat Penelitian Kelapa Sawit, PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN), Fandi Hidayat, PhD menilai, penguasaan teknik panen dan pascapanen dapat membantu pekebun mengoptimalkan produksi yang sebenarnya telah tersedia dari tanaman.

“Pelatihan ini merupakan bagian penting, terutama dalam hal kita menggali potensi produksi yang ada di lahan Bapak dan Ibu sekalian,” kata Fandi saat membuka kegiatan, Senin (24/8/2026).

 

Menjaga Hasil Setelah Tandan Dipanen

Produktivitas kebun tidak cukup dilihat dari luasan areal atau jumlah tanaman. Perlakuan terhadap buah yang sudah mencapai matang panen turut menentukan seberapa banyak hasil yang akhirnya dapat dimanfaatkan.

Karena itu, pemahaman mengenai ciri buah matang, metode pemotongan tandan, pengumpulan brondolan, serta penanganan dan pengangkutan TBS menjadi bekal penting bagi pekebun. Buah yang dipanen tepat waktu tetapi terlambat ditangani tetap berisiko mengalami penurunan mutu.

Fandi juga mengingatkan peserta untuk tidak berhenti pada materi yang diberikan instruktur. Diskusi dan pertukaran pengalaman antarpeserta dapat memperkaya pemahaman karena setiap kebun memiliki kondisi dan tantangan yang berbeda.

“Ilmu yang diperoleh pada kegiatan ini dapat diterapkan, diimplementasikan ketika nanti Bapak dan Ibu sudah kembali ke tempat masing-masing,” ujarnya.

Dengan demikian, pelatihan diarahkan tidak hanya untuk menambah pengetahuan, tetapi juga mendorong perubahan praktik di kebun. Pengetahuan mengenai panen dan pascapanen baru memberikan manfaat ketika diterapkan dalam kegiatan sehari-hari.

 

Belajar dari Praktik Kebun

Pemahaman teknis kemudian diperkuat melalui pembelajaran lapangan. Pada 27 Agustus 2026, peserta mengunjungi PT Bina Sawit Makmur dan PT Minanga Ogan untuk melihat secara langsung praktik pengelolaan panen dan pascapanen.

Kunjungan tersebut memberi kesempatan kepada pekebun untuk membandingkan materi yang diperoleh di kelas dengan penerapannya di lapangan. Berbagai aktivitas mulai dari pemanenan, pengumpulan TBS dan brondolan, hingga proses pengangkutan dapat diamati secara langsung.

Model pembelajaran seperti ini penting karena persoalan kehilangan hasil kerap muncul dari praktik sederhana yang dilakukan berulang-ulang. Cara meletakkan TBS, memastikan brondolan tidak tertinggal, menjaga buah dari kerusakan, hingga mempercepat pengiriman merupakan bagian dari upaya mempertahankan hasil produksi. Penerapan teknik tersebut dapat menjadi langkah praktis buat pekebun untuk mengurangi susut sekaligus menjaga kualitas TBS sebelum diterima PKS.

Dampak pelatihan juga diharapkan tidak berhenti pada peserta pelatihan. Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Selatan, Herlan Kagami mendorong peserta untuk meneruskan pengetahuan yang diperoleh kepada pekebun lain di lingkungannya.

“Harapan kami adalah bapak ibu semua setelah mengikuti apa yang kita kerjakan selama beberapa hari ke depan nantinya akan memberi bekal kepada bapak ibu dan pada akhirnya bisa menulari kepada masyarakat di sekitar kita,” ujar Herlan.

Sebanyak 111 pekebun yang mengikuti pelatihan terdiri atas 51 peserta dari Musi Rawas dan 60 peserta dari Muara Enim. Mereka terbagi dalam empat batch, yakni angkatan 4 dan 5 dari Musi Rawas serta angkatan 10 dan 11 dari Muara Enim.

Pelatihan diselenggarakan PT Riset Perkebunan Nusantara (PT RPN) dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun), bersama Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Selatan, Dinas Perkebunan Kabupaten Musi Rawas, serta Dinas Perkebunan Kabupaten Muara Enim.

 

Windi Listianingsih

Tag:

Bagikan:

Trending

Ol3108-jaga mutu TBS
Jaga Mutu, Pangkas Susut Panen Sawit
Sinergi Antar BPDP, Ditjenbun dan DGL, Pelatihan SDM Perkebunan 2026 Resmi Ditutup
Sinergi BPDP, Ditjenbun dan DGL Menutup Rangkaian Pelatihan SDM Perkebunan 2026
BPDP, Ditjenbun, dan DGL Dorong Penguatan Data Perkebunan melalui Pelatihan
BPDP, Ditjenbun, dan DGL Dorong Penguatan Data Perkebunan melalui Pelatihan
Selesaikan Uji Kinerja 168 Jam, Revamping Ammonia Pabrik-2 Pupuk Kaltim Siap Beroperasi
Revamping Ammonia Pabrik-2 Pupuk Kaltim Siap Beroperasi
agrina foto2
Revolusi Hemat Energi Budidaya Ikan Nila Desa Sitirejo Malang
Scroll to Top