Nusa Dua, Agrina-online.com. Dinamika perdagangan antara Indonesia, Malaysia, dan Amerika Serikat kini semakin menentukan masa depan ekspor minyak sawit Indonesia. Menurut Analis komoditas Bloomberg, Alvin Tai, Malaysia bergerak lebih cepat mengamankan fasilitas perdagangan dengan AS, sementara posisi Indonesia masih menggantung.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menetapkan tarif resiprokal 19 persen untuk Malaysia dan potensi penyesuaian tarif 0 persen. Malaysia telah menandatangani perjanjian dagang dengan AS dan mendapatkan tarif bea masuk 19 persen serta tarif nol untuk sejumlah komoditas utama seperti minyak sawit, kakao, dan karet.
Akan tetapi, kesepakatan tersebut bukan tanpa kewajiban. “Malaysia perlu membeli semikonduktor, komponen dan peralatan kedirgantaraan, dan pusat data senilai 150 miliar selama lima tahun,” ujar Alvin di acara Indonesia Palm Oil Conference (IPOC) 2025, Nusa Dua, Bali, Jumat (14/11).
Di samping itu, Malaysia juga harus menyerap batu bara senilai USD 204 miliar dan mengalokasikan USD 70 miliar investasi dana modal.
Di lain pihak, perjanjian dagang Indonesia dengan AS masih tertunda. Berdasarkan kerangka kerja yang diterbitkan Gedung Putih pada Juli, Indonesia diminta berkomitmen membeli US$15 miliar produk energi per tahun, ditambah US$4,5 miliar produk pertanian, serta pembelian 50 pesawat Boeing dalam periode tertentu.
“Dan Indonesia perlu menghapus hambatan tarif pada 99 persen produk makanan dan pertanian industri AS. Dan yang sangat penting, Indonesia perlu mendobrak hambatan nontarif pada produk pertanian AS,” jelasnya.
Alvin menilai kewajiban penghapusan hambatan nontarif inilah yang paling krusial. Tanpa proteksi, produk pertanian AS seperti jagung akan masuk lebih bebas ke pasar Indonesia. Padahal, jagung lokal saat ini diperdagangkan dengan premi hingga 150 persen dibanding harga internasional. Menurut Alvin, masuknya jagung AS pada akhirnya akan “mengurangi disparitas” dan memberi efek positif bagi industri unggas, yang selama ini menanggung biaya pakan mahal.
Di sisi ekspor sawit, data menunjukkan tekanan yang tidak kecil. Pada 2024 Indonesia mengekspor 1,54 juta ton minyak sawit ke AS senilai USD 1,59 miliar. Namun dalam tujuh bulan pertama tahun ini, volume ekspor Indonesia ke AS sudah anjlok 25,8 persen. Di saat yang sama, Malaysia memanfaatkan momentum: ekspornya ke AS pada tujuh bulan pertama tahun ini hampir menyentuh nilai ekspor setahun penuh di 2024.
“Setiap penurunan pengiriman dari Indonesia, Malaysia memanfaatkannya,” ujar Alvin.
Alvin juga memaparkan bahwa pasar energi AS, khususnya diesel terbarukan, sedang menghadapi kekurangan bahan baku minyak nabati. Meski kapasitas penghancuran kedelai terus naik dan ditargetkan mencapai 2,78 miliar bushel pada 2030, produksi minyak kedelai AS tetap tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan biodiesel dan renewable diesel. Total kebutuhan bahan baku mencapai 43 miliar pon, sementara pasokan yang tersedia hanya sekitar 34,5 miliar pon, sehingga AS masih kekurangan sekitar 4 miliar pon walaupun Kanada dan Meksiko ikut memasok.
Kondisi ini seharusnya membuka ruang lebih besar bagi minyak sawit. Namun, Alvin mengingatkan agar Indonesia tidak mengasingkan pasar AS, meski secara volume jauh lebih kecil dibanding Tiongkok dan India. Sebab kedua pasar utama tersebut justru sedang mengurangi impor minyak sawit akibat harga yang dianggap kurang kompetitif.
“Jika Anda melihat grafik ini, rata-rata minyak sawit diperdagangkan dengan harga premium 982 yuan per ton dibandingkan minyak kedelai,” jelasnya. Situasi ini membuat negara produsen kedelai seperti Brasil dan Argentina diuntungkan.
Di sisi lain, kebijakan domestik Indonesia seperti mandatori biodiesel B50 juga memiliki dampak luas terhadap ekspor dan stabilitas makro. Kebutuhan tambahan sekitar 3,5 juta ton untuk program B50 disebut Alvin berpotensi menggerus volume ekspor dan memperburuk neraca perdagangan.
“Neraca pembayaran Indonesia telah menjadi negatif, dan ini sebagian berkaitan dengan berkurangnya ekspor. Nilai tukar berjangka menunjukkan rupiah akan jatuh ke rekor terendah terhadap dolar AS,” paparnya.
Rupiah bahkan sudah melemah ke titik terendah sepanjang masa terhadap dolar Singapura, ringgit Malaysia, baht Thailand, dan dong Vietnam.
Di akhir paparannya, Alvin memberikan peringatan keras, Indonesia harus lebih berhati-hati menyeimbangkan tujuan energi domestik dengan kebutuhan ekspor.
“Indonesia perlu memaksimalkan ekspor untuk menghindari defisit perdagangan. Rencana B50 bertentangan dengan maksimalisasi ekspor,” ujarnya.
Windi Listianingsih







