Busan, Agrina-online.com. PT Napindo Media Ashatama (Napindo), penyelenggara pameran dagang terkemuka di Indonesia, mempromosikan Indo Fisheries 2026 Expo & Forum di ajang Busan International Seafood & Fisheries 2025.
Acara tersebut, berlangsung pada 5 – 7 November 2025 di Exhibition Center I, Hall 1-3 Bexco, Busan. Kehadiran tim Napindo di Busan merupakan langkah strategis untuk memperluas jejaring dan menarik partisipasi internasional menjelang pameran utama di Indonesia tahun depan.
Sebagai pameran dan forum teknologi komprehensif ke-16 di bidang perikanan dan akuakultur meliputi budidaya, pakan, bibit, kesehatan ikan, cold storage, dan pengolahan makanan.
Indo Fisheries 2026 akan digelar bersamaan dengan Indo Livestock, Indo Feed, Indo Dairy, Indo Agrotech, dan Indo Vet 2026 Expo & Forum pada 16 – 18 Juni 2026 di Nusantara International Convention Exhibition (NICE) PIK 2, Tangerang, Indonesia.
Partisipasi Napindo di Busan menjadi upaya strategis untuk menjangkau calon peserta potensial dari berbagai negara dan memperkenalkan potensi besar industri perikanan Indonesia.
Lisa Rusli, Asst. Project Director Napindo mengatakan, “Kami ingin menjadikan Indo Fisheries sebagai wadah strategis untuk memperluas jejaring bisnis dan mendorong pertumbuhan sektor kelautan dan perikanan Indonesia hingga ke skala global, sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.” Rabu (5/11)
Akuakultur, Pilar Ketahanan Pangan & Daya Saing Global
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus mendorong udang Indonesia agar mendunia dan menjadi pilihan utama sumber protein global, melalui pengembangan model Budidaya Udang Berbasis Kawasan (BUBK) di berbagai daerah.
Dalam laporannya, KKP menyebut bahwa pengembangan kawasan budidaya di Kebumen dan Waingapu, Nusa Tenggara Timur, menerapkan praktik budidaya modern yang ramah lingkungan, efisien, dan memiliki rantai produksi tertelusur, sekaligus memperkuat daya saing produk perikanan nasional di pasar dunia.
Keberhasilan model BUBK di Kebumen menjadi bukti nyata kemajuan sektor akuakultur Indonesia. Hingga pertengahan tahun 2025, kawasan tersebut telah memanen 327 ton udang vaname dari 139 unit kolam di lahan seluas 65 hektare.
Seluruh proses budidaya dijalankan dengan standar Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB), bebas residu antibiotik, serta menerapkan prinsip biosekuriti dan pengolahan limbah yang ketat.
Langkah ini mendukung visi KKP dalam mengimplementasikan konsep Pangan Biru Berkelanjutan (Blue Food) untuk memperkuat ketahanan pangan nasional.
Menurut Dr. Tb Haeru Rahayu, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP, “melalui program hilirisasi dan implementasi ekonomi biru, Indonesia kini menjadi salah satu negara penghasil komoditas perikanan berkelanjutan yang diakui dunia.”
Pusat Kolaborasi Global Industri Perikanan
Melalui Indo Fisheries 2026, Napindo menegaskan komitmennya untuk menjadi wadah strategis bagi pertumbuhan industri perikanan dan akuakultur Indonesia agar lebih kompetitif di pasar global.
Pameran ini diharapkan dapat mempertemukan lebih dari 600 peserta dari 40 negara, termasuk 12 paviliun negara, dengan target 20.000 pengunjung yang terdiri dari pelaku usaha, inovator, pembuat kebijakan, akademisi, dan peneliti.
Acara ini akan menjadi momentum penting bagi pelaku industri untuk mengeksplorasi peluang investasi serta mempelajari inovasi dan teknologi terbaru dalam budidaya dan pengolahan hasil laut.
Sabrina Yuniawati







