1. Home
  2. »
  3. Berita
  4. »
  5. KKP Gandeng Penyuluh Bangun Kesadaran Masyarakat untuk Menata Ruang Laut

Pertanian Regeneratif Menguntungkan Petani dan Menyehatkan Alam

Jakarta, Agrina-online.com. Sektor pertanian Indonesia menghadapi berbagai tekanan yang semakin besar. Mulai dari perubahan iklim dan degradasi tanah, tantangan dalam memproduksi hasil pertanian secara berkelanjutan, hingga permintaan pasar yang menghendaki produk berkelanjutan.

 

Salah satu pendekatan yang menunjukkan keberhasilan adalah pertanian regeneratif. Menurut Chintara Diva Tanzil, Country Program Manager Stronger Coffee Initiative, Louis Dreyfus Company (LDC) Indonesia, pertanian regeneratif adalah sebuah pendekatan pertanian yang menyeluruh yang berfokus pada perbaikan dan pemulihan alam, penguatan ekosistem, serta mendukung keberlanjutan pertanian jangka panjang, sekaligus menjaga produktivitas dan profitabilitas pertanian.

 

Terlebih, ulas Diva, sapaannya, saat ini pasar meminta pengurangan jejak karbon dalam produksi pertanian, salah satunya kopi. Pasalnya, kegiatan budidaya pertanian, termasuk kopi, mengeluarkan emisi karbon yang menyebabkan efek gas rumah kaca, penyebab utama pemanasan global.

 

“Tapi sekarang kita lihat di pasar itu mulai ada demand untuk mengurangi jejak karbon dalam produksi kopi. Maka, itu menjadi salah satu pilar inti kita untuk mengurangi karbon emisi, dan juga menghilangkan karbon emisi dari kegiatan berbudidaya kopi atau dari rantai pasok kopi kita,” terangnya pada acara Media Briefing “Mewujudkan Masa Depan Berkelanjutan bagi Petani Indonesia Melalui Pertanian Regeneratif” di Jakarta, Kamis (12/2/2026).

 

Melalui Stronger Coffee Initiative, LDC menerapkan praktik pertanian regeneratif di Indoensia yang berfokus pada tiga pilar, yaitu kesejahteraan petani, produksi kopi rendah karbon, dan pertanian regeneratif yang menyesuaikan kondisi lokal. Sejak diterapkan pada 2015 hingga 2025, inisiatif ini telah menjangkau lebih dari 20 ribu petani dengan penanaman 860 ribu pohon kopi untuk mendukung kegiatan agroforestri dan konservasi keanekaragaman hayati di Lampung, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, dan Aceh melalui kombinasi pelatihan agronomi, layanan pendampingan di tingkat kebun, serta kemitraan.

 

Rajat Dutt, Country Head LDC Indonesia menegaskan, “Kami juga bekerja sama erat dengan para petani untuk memastikan bahwa kualitas tanah, kualitas produk, keanekaragaman tanaman, dan hasil panen tetap sangat baik. Itulah komitmen kami ketika berurusan dengan komoditas ini, untuk memastikan bahwa kami mengembalikannya kepada masyarakat dan kami bekerja sama erat dengan masyarakat.”

 

Diva menjelaskan, LDC menyadari implementasi pertanian regeneratif butuh waktu dan tenaga teknis pendamping petani. Karena itu, pihaknya menggandeng anak muda untuk terjun mendampingi petani dalam budidaya kopi regeneratif. Apalagi, keterlibatan anak muda dalam budidaya kopi sangat minim dan masih didominasi petani berumur senior.

 

“LDC juga melihat ini sebagai resiko buat keberlanjutan produksi kopi kalau anak muda tidak diajak kembali ke kebun. Makanya, kita memiliki kegiatan namanya Farm Agri Service Task Force (FAST) untuk menarik generasi muda kembali ke pertanian kopi dan mempercepat adopsi pertanian kopi regeneratif,” ulasnya.

 

Sebelumnya, para pemuda ini dididik dan dilatih tentang pertanian regeneratif serta diberi akses ke alat dan mesin pertanian dalam mendukung pertanian kopi regeneratif. Sejak diluncurkan dan diuji coba di lapangan pada 2025, FAST telah mendukung 190 kebun kopi di lahan seluas 285 hektar, dengan 52% petani berkomitmen untuk menghentikan penggunaan herbisida kimia.

 

Penerapan praktik pertanian regeneratif juga membutuhkan kolaborasi, keahlian, dan dukungan nyata dari pelaku agribisnis serta komunitas lokal. LDC pun menggandeng Pandawa Agri Indonesia sebagai penyedia teknologi budidaya ramah lingkungan dan Blue Marble Parametric Climate Insurance, penjamin asuransi pertanian berbasis parameter iklim.

 

Kukuh Roxa, CEO Pandawa Agri Indonesia menjelaskan, pihaknya fokus pada mengurangi penggunaan input-input kimia sintetis di pertanian tetapi bisa menghasilkan produk yang tetap sama. Pada pertanian kopi regeneratif, Pandawa Agri menghadirkan teknologi pemupukan berimbang yan meningkatkan penyerapan unsur hara, dekomposer untuk mempercepat dekomposisi limbah kulit kopi, dan aplikasi herbisida ramah lingkungan.

 

“Dengan mengurangi pestisida, ada dampak positif. Pertama petani mengurangi aplikasi pestisida. Kedua, lingkungan lebih sehat sehingga tanaman bisa tumbuh lebih baik. Kita hitung jejak karbonnya dan bandingkan dengan pestisida, 14 kali jejak karbonnya berkurang. Ada efek bertingkat, mengurangi emisi. Kita ingin ciptakan kopi rendah emisi. Pendapatan petani lebih tinggi, pendapatan lebih sehat dan lingkungan lebih sehat,” jelasnya.

 

Rinaldo Siagian mewakili Blue Marble mengatakan, asuransi indeks cuaca merupakan hal baru. Asuransi dibagi dua model, yaitu model tradisional yang sering diimplementasikan di Indonesia, seperti asuransi mobil, dan model parametrik yang berbasis indeks angka sebagai cara revolusioner dalam mengelola risiko pertanian.

 

“Asuransi parametik ini menggunakan indeks cuaca, menggunakan satelit untuk bisa memantau setiap usaha petani. Risikonya perubahan cuaca. Bencana banjir, longsor semakin tidak bisa diprediksi. Semakin baik pertanian, harus bisa memitigasi risiko,” kata Rinaldo.

 

Saat uji coba di 18 demplot pertanian kopi regeneratif, terjadi anomali cuaca dan semuanya mendapatkan klaim. “Prosesnya sederhana, tidak ada foto-foto, submit dokumen karena basisnya satelit. Otomatis ada datanya di Blue Marbel dan petani langsung dapat klaim. Ini scaleable. Kami berharap bisa diteruskan untuk tahun-tahun berikutnya,” pungkasnya.

 

Dari sisi petani, Solihin mengakui manfaat menerapkan pertanian regeneratif. Pria yang mengelola 1,5 ha lahan kopi di Tanjung Raya, Lampung Utara, Provinsi Lampung itu mengaku memperoleh peningkatan hasil panen dari 50% lahan yang menerapkan pertanian regeneratif.

 

“Alhamdulillah dari segi hasil panen, dalam 2 tahun ke belakang yang hasil demoplot kopi saya itu dalam satu bidang berkisaran 2-3 kuintal, mudah-mudahan tahun ini bisa mencapai 5 kuintal dalam luas lahan kurang lebih seperempat hektar. Hasilnya secara global tahun 2024 itu sekitar 900 kg atau 9 kuintal, nah tahun 2025 kemarin sudah mendekati 1,5 ton penghasilannya,” ujarnya semringah.

 

 

Windi Listianingsih

 

 

Tag:

Bagikan:

Trending

LDC gathering-20260212_142006
Pertanian Regeneratif Menguntungkan Petani dan Menyehatkan Alam
Penertiban Harga di Atas HAP, Satgas Saber Pelanggaran Harga Siap Ambil Tindakan Tegas
Satgas Saber Tindak Tegas Harga Pangan di Atas HAP
DGL Learning Institute, Komitmen Penguatan Auditor melalui Pelatihan ISPO 2026  
DGL Learning Institute, Komitmen Penguatan Pelatihan Auditor ISPO 2026  
WhatsApp Image 2026-02-10 at 9.29
NTB Jadi Tulang Punggung Pasokan Bawang Putih Nasional
PERMINDO
PERMINDO Siap Bersinergi dengan Stakeholder Perunggasan
Scroll to Top